Senin, 10 April 2017

Selasa, 21 Maret 2017

SALENSEHE, Musik Tradisi Suku Sangihe. Tanpa nada

MUSIK  SALENSEHE, TINGIHE U  SINGONGO


Oleh : Alffian Walukow, S.Pd,M.Pd
(tinjauan  perkembangan musik  tradisi sangihe  dari  saman  purba)
 
Saḽensehĕ  adalah  salah  satu  jenis  alat  musik  tradisional suku  Sangihĕ yang terbuat  dari   dua  media yaitu  bambu  dan  atau batang  daun  pepaya.  Alat   musik   ini   sudah  dikenal  sejak  lama  di  pulau  Sangihê. Dimasa  lalu alat  ini digunakan sebagai  alat  bantu   pemanggil   burung  oleh pemburu  burung, juga  berfungsi  sebagai  permainan  anak.  Pada  saat  ini, alat  musik Saḽensehĕ masih tetap berfungsi  sebagai  permainan  anak  dan  juga dimainkan  sebagai  alat  musik  melodis.
Alat  musik  Saḽensehĕ berbahan  dasar bambu  dapat  dibuat  seperti  ini  :
1.       Potong bambu berdiameter  1 - 1,5 cm   dengan  panjang berfariasi  dari  15  sampai  30 cm.
2.       Buatlah  lobang resonasi sebesar lingkaran  batang rokok  dengan  jarak 6 cm  dari  salah  satu  ujung  bambu.
3.       Tutup  salah  satu  ujung  bambu  dekat  lobang resonasi  lalu  ikat  dengan  karet  gelang. Plastik  ini  berfungsi  sebagai membran/gendang pencetus  getar  suara.
4.       Kendorkan plastik  dengan  cara  menekan dengan  jari.
5.       Siap dimainkan
Keunikan  alat  musik Saḽensehĕ adalah   :
-          Tidak  diketahui penemunya  dan  kapan  mulai  digunakan oleh  suku  Sangihĕ.
-          Diciptakan sebagai tiruan suara binatang.
-          Tidak  memiliki  lobang  nada.
Dengan  demikian  maka  alat  musik   Saḽensehê  adalah  alat  musik  tak  bernada.
Dari  wujudnya terlihat mirip  dengan  suling. Perbedaan  Saḽensehĕ  dengan  suling  adalah : Bambu Saḽensehê hanyalah  media  resonasi dari  nada  yang diproduksi  oleh  embusan  nafas  dari  mulut  dengan  cara  mendengungkan lagu (bukan meniup) pada  lobang  resonasi. Dengungan  lagu atau nada dari mulut ini  kemudian  akan berubah  menjadi  getar  suara  oleh  membran  plastik  pada  ujung  bambu. Produksi  nada  pada suling  adalah dengan  menutup atau membuka lobang-lobang  nada dengan  bantuan tiupan atau  embusan nafas  dari mulut.
Dalam  tradisi  suku Sangihĕ, Saḽensehĕ memiliki  pengertian : Serangga  berwarna hijau ,bercahaya dan  memiliki sayap. Saḽensehĕ adalah  nama  binatang  kecil  sejenis serangga berdasarkan   tradisi sangihe selatan. Dalam   tradisi  utara, Saḽensehĕ disebut sebagai “ḽĕrio” (“ḽĕrio”adalah spesies yang  sama dengan Saḽensehĕ  tetapi  lebih  besar). Dalam  Bahasa Tountemboauan – Minahasa, binatang Saḽensehĕ bernama “rie-rie”  sedangkan  yang  jenis  besar  dinamakan rie-rie tu’a. Musik  Saḽensehĕ  dinamakan juga musik “Kataḽa”  yang  berarti burung nuri, juga berarti jambul (paporong/kapseti)
Saḽensehĕ  memiliki  pengertian  lain,  atau   sama  dengan kata  “ḽĕngang” yang berarti “bunyi” , atau “lumaḽĕngang”  yang  berarti “berbunyi”. Saḽensehĕ disamakan juga dengan kata  ḽensehê, “ḽumensehê, masaḽensehang, daḽensang”,   yang berati  “berberbunyi-bunyi”.
Bahasa  “sasahara”  dari Saḽensehĕ  berkonotasi ke beberapa kata  lain  yaitu :
-          “doitĕ”  (uang)  “koin/logam”
-          “saḽiahĕ” (serupa puisi) “mê sasaḽiahĕ”.
-          “mahai” (selatan)  “arah  mata  angin”.
-          “sahai”  (nama pohon  sahai)  . jenis  tanaman gatal
-          “mangsohoang”  ( juga  berarti  gatal) “tanaman  keladi”
Mengapa  kata  Saḽensehĕ  terhubung  erat  dengan  kata  “gatal” ?   Dimasa lalu, bahan baku  Saḽensehĕ terbuat dari  batang  daun  pepaya  atau  bambu tawara (bambu jenis kecil) yang   masih  muda (masih berwarna  hijau atau  belum kering).  Kedua  tanaman  tersebut  terasa  gatal  jika  tersentuh  kulit.
Dalam salah satu versi cerita tentang “sensé  mĕdundé” (kisah  manusia  pertama di Pulau  Siau), selain menggunakan “sĕpȗ” (sumpit : alat  berburu), mĕdundé juga menggunakan Saḽensehĕ. Alat tersebut  digunakan  sebagai pemanggil burung.   Dikisahkan :  Mĕdundé  gemar “berpuisi”,  kegemaran  seperti itu dianggap  juga  sebagai mĕ “Saḽensehĕ”. Alat-alat yang  digunakan  oleh mĕdundé dibahasakan sebagai  Nalang I  mĕdundé” (permainan si Medundé).   Bunyi Saḽensehê  dari  Medundé, tanpa  sengaja telah mempengaruhi Sembilan  bidadari  turun  dari  langit  lalu  mandi  di sebuah  tempat  bernama  “Beong”. 
Sensé Mĕdundé  berasal   dari  kata “sensé”   yang  berarti  “rempah juga cengkeh”,  Mĕdundé   berasal dari  kata “undé”, “mêdundê” yang  berarti “menangis”.  Kata  Sensé Mĕdundé  memiliki  pengertian “Keharuman  tangisan  atau Tangisan  yang  penuh  makna”
Sejak dipersunting oleh Mĕdundé, sang bidadari memperanakkan  dua orang  anak. Anak sulung  menempati  sebuah  tempat di kepulauan  Solok-Pilipin,  lalu dinamai  Pahawon-suḽugĕ. Pahawonsuluge mempersunting “Utahaghi”  lalu  kemudian  menjadi  raja  di Kepulauan Sulu (nama sebuah  kesultanan di Pilipin, yaitu  kesultanan Sulu di pulau Sulu). Dalam  tradisi  lisan  di  pulau  sangihĕ menjelaskan  bahwa orang-orang  dari  “sulugĕ’  Pilipin (pulau Sulu)  adalah  orang-orang  biadap  yang  suka merampok  dan membunuh.
Selanjutnya sang  bidadari memperanakan anak bungsu. Anak bungsu tersebut menempati sebuah  tempat  bernama  Kanawoeng”  dan dinamakan Pahawon-tokḁ. Diyakini  bahwa Pawontoka adalah leluhur  dari raja  Siau  pertama “Lokong banua”.  Pahawontokḁ   berasal  dari kata “Pahawoeng”, dari  kata dasar “nawo” yang  berarti “jatuh” dan  kata “tokḁ”  yang berarti  “melawan, melanggar”.  Secara  harafiah  memiliki pengertian “jatuh  karena  melanggar”. 
Dalam linguistik  Sangir (sangiric linguis), kata  yang  berakhiran fonem  -ng-  (dan  jenis  konsonan serupa) lalu disusul  oleh  kata  yang  berawalan fonem konsonan seperti -b- (dan jenis fonem serupa/hambat bibir) akan  berbunyi  -m-,  sehingga  kata  lokong banua akan  menjadi “loko-m-banua”. Hal  tersebut  terbentuk juga  pada  kata alung banua - menjadi alu-m-banua, patoeng – boba  menjadi pato-m-boba, donang baḽa  menjadi dona-m-baḽa, saheng-balira menjadi sahĕ-m-balira, dll. 
Kata  Lokongbanua atau Lokombanua   berasal  dari  kata “lokong” atau “mĕlokong” yang  berarti “sesuatu, banyak angin/angin besar, putting beliung, putaran, tunduk”.  Lokombanua memiliki  pengertian “sebuah  tempat yang memiliki  angin besar, puting beliung”.  Kata  tersebut serupa  dengan  kata “ lakung” dan “ngaḽipaĕng. “ Lakung” berarti dililit, dilingkarkan, angin dan kata “ngaḽipaĕng,  enggaḽipaeng, kĕngkaḽĕpaĕng”    berarti “napo  atau  tempat  dangkal di pantai, pusaran air  pada  tempat dangkal. Mengenai  “lokongbanua” telah  dikisahkan   dalam  sastra lisan  Sangihĕ melalui Sasahola Laanang Manandú dengan  ungkapan : “ nisuḽe su ngaḽipaeng – ni sumbaḽi tawaraĕng – su ngalipaeng ilokong – tau i lokong banua”. 



VIDEO  AUDIO SALENSEHE  MUSIK
https://youtu.be/x2vsIn92JlY?t=29  
https://youtu.be/x2vsIn92JlY
https://youtu.be/jJaYlkR9AQo