Selasa, 03 November 2015

KERAJINAN SANGIHE

Kerajinan Sangihe
Karya : Alffian  Walukow
dan siswa binaan, anak-anak sanggar






























Ritual Menaka Batu - Mengendu u watu



RITUAL   “ MENAKA  BATU     DI KEPULAUAN  SANGIHE

                Penduduk asli Sangihe berasal dari Philliphina Selatan tepatnya dari kepulauan Sulu,Pulau Mindanao didaerah Cotabato dan pulau Balut, sebagian penduduk berasal dari Ras negrito dari pulau Madagaskar, Afrika bagian Barat dan dari wilayah Bowontehu ( pulau-pulau disekitar Manado tua yang juga berasala dari daerah Molibagu )
                Sejak enam  ribu  tahun silam, daerah kepulauan Sangihe sudah ditempati manusia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba dan peralatannya di Gua Bowoleba Manalu.
Kebudayaan Sangihe sangat berbeda dengan kebudayan dari daerah lain di Sulawesi Utara.
Kebudayaan Sangihe tua di pengaruhi oleh kebudayaan dari daerah -daerah yang terletak di Samudera Pasifik. Disamping itu juga kebudayaan Sangihe mendapat pengaruh dari kebudayaan Islam Suni dari Philliphina Selatan dan kebudayaan Hindu Tua.
Kebudayaan sangihe dipengaruhi oleh kebudayaan Islam karena agama Islam adalah agama pertama yang masuk di Sangihe yang dilanjutkan dengan pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate dan Tidore dari Maluku. Pengaruh Hindu Tua masuk ke Sangihe karena Kepulauan Sangihe dan Talaud pernah menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit yang bermuatan Mataram Hindu. Pada saat itu wilayah Sangihe dan Talaud adalah  negeri kesembilan dari kerajaan Majapahit dengan nama  Udah Makat Raya yang berarti Payung dari Utara.
Seratus tahun setelah Majapahit meninggalkan Kepulauan Sangihe dan Talaud  muncullah kerajaan Pertama dengan nama ” Tampungang Lawo ” . Raja Tampungang Lawo pertama adalah anak dari salah satu  Raja kesultanan Cotabato Philliphina.
Sistem pemerintahan kerajaan yang dianut oleh kerajaan-kerajaan tua sangihe mirip dengan sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan dari Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
Sebelum Sangihe mengenal sistem pemerintahan dalam kerajaan,sudah ada kepemimpinan satu wilayah dengan istilah Kedatuan Tua.
                Beberapa bentuk kebudayaan tua yang pernah ada sebelum berkembangnya agama Islam  adalah Ritual pemujaan  kepada  ” Genggonalangi ”, dan  ritual ” Menaka batu ”
Ritual menaka batu adalah salah satu kebudayaan tua Sangihe yang sudah ditinggalkan dan sedang dilupakan.
Tradisi menaka batu dilakukan oleh sebagian masyarakat sangihe sejak zaman purba. Dilihat dari ukuran dan model  batu yang digunakan, diperkirakan  tradisi ini dilakukan di awal Zaman Megalitikhum.
                Menaka batu adalah  lanjutan dari upacara kematian yang dilakukan beberapa hari setelah penguburan. Upacara menaka batu  telah melahirkan satu status sosial masyarakat sangihe pada samannya. Bentuk batu yang digunakan untuk menutup kuburan terdiri dari beberapa ukuran. Berdasarkan bukti yang masih ada, ukuran batu yang paling besar adalah panjang 2 meter lebar 1 meter dan tebal 25 cm dengan berat kira-kira 600 sampai 700 kg.
Sedangkan ukuran kecil terdiri dari dua atau tiga buah batu yang ditutup diatas kuburan dengan ukuran masing – masing, panjang 50 – 100 cm lebar 30 -50 cm tebal 5 – 10 cm dengan berat kira-kira 50 – 100 kg.
Berdasarakan keterangan dari penduduk di kampung Bawuniang bahwa Ritual Menaka Batu masih ada sampai tahun 1970-an. Jika penutup batu kubur adalah Batu besar, menandakan  orang yang dikubur berasala  dari keluarga Kaya atau terpandang. Sedangkan penutup kubur yang menggunakan batu kecil adalah dari keluarga kurang mampu.
                Batu yang dipakai untuk menutup kuburan diambil dari tempat yang sangat jauh, sementara itu kuburan yang akan dituju kebanyakan ada di tempat tinggi.
Untuk memikul batu penutup kuburan yang paling besar, keluarga dari orang yang meninggal harus menyiapkan sekurang kurangnya  100 sampai 150 pekerja. Teknik pekerjaan dilakukan secara estafet dalam tiga tahap berulang dan saling bergantian. Diatas batu yang akan dipikul, duduk seorang pemimpin pekerjaan, yang bertugas memberikan semangat bagi para pekerja.
Sesampainya dilokasi pekuburan sudah ada seorang tua yang sedang memainkan musik Tagonggong ( sejenis tifa ukuran besar ).
Pada saat seperti ini sering terjadi perkelahian antara pekerja yang sudah tiba dikuburan dengan para pekerja yang masih dibawah.
Untuk menyelesaikan pekerjaan ini, keluarga yang berduka harus mempersiapkan pesta jamuan makan untuk pekerja yang sudah membantu pekerjaan Menaka batu selama 6 sampai 10 hari.
                Lokasi tempat  pekuburan yang menggunakan tutup batu pualam adalah di Kampung Bawuniang – Lapango, Puncak Pangalemang, Kampung Dagho,Kampung Naga – II, Pulau Mahumu dan  Pantai Pananekeng.


Penulis.
Alffian Walukow
Guru SMP Negeri Manganitu
Kecamatan Manganitu.
















 

MENINGKATKAN KECINTAAN TERHADAP BUDAYA SANGIHE MELALUI PEMBELAJARAN MUATAN LOKAL DISEKOLAH



MENINGKATKAN KECINTAAN TERHADAP  BUDAYA  SANGIHE  MELALUI PEMBELAJARAN MUATAN  LOKAL DISEKOLAH
            Muatan kelokalan dalam pendidikan di  Indonesia sudah  lama  dikembangkan, meskipun  dalam  rentang  waktu panjang, kurikulum Indonesia terlalu  banyak didominasi oleh materi yang bermuatan kejawen  atau  jawa sentris. Dominasi tersebut nampak  dalam  pembelajaran  di  tingkat SD  sampai  SMA, berupa  tokoh  atau  pribadi, sumber bacaan dan  materi  lainnya seperti : Bacaan-bacaan dalam  pembelajaran  Bahasa  Indonesia, kisah-kisah kepahlawanan  dalam   pembelajaran Sejarah, norma - norma  dan falsafah hidup dalam  pembelajaran PMP/PKn, karya  kebudayaan  dalam  pembelajaran Kesenian/Seni Budaya, dan lain-lain.
Seiring  waktu,  muatan kurikulum terutama  pada   materi ajar mulai  mengalami banyak perubahan yang  adil. Beberapa dari   materi pelajaran  di tingkat  SD, SMP  dan  SMA mulai  mendapatkan  sentuhan  materi   dari berbagai  daerah di  Indonesia. Hal  itu  sangat  nampak  pada kebijakan  Negara   terhadap  Muatan  Lokal. Selain  mata  pelajaran  wajib terdapat juga mata   pelajaran  pilihan  seperti pilihan TIK  dan Keterampilan (KTSP,K-13) ditambah   dengan  Muatan  Lokal.
Muatan  lokal memuat  materi yang  berhubungan   erat  dengan   lingkungan  di sekitar  penyelenggaraan  sekolah  dari tingkat propinsi  sampai ke tingkat desa. Materi-materi tersebut  disusun berdasarkan  kebijakan  di  daerah   masing-masing mulai  dari  Gubernur sampai  ke  Bupati yang mengacu  dari
Muatan lokal adalah kegiatan kurikuler bukan   kegiatan  ekstra   kurikuler  yang   pengembangan kompetensi disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansinya ditentukan sendiri oleh satuan pendidikan. Muatan  lokal  secara resmi mulai  masuk   dalam  kurikulum pendidikan  di Indonesia sejak tahun 1994 untuk  mengimbangi  kurikulum  tersentral. Tujuannnya   adalah  pengenalan  dan kecintaan kepada  lingkungan  sekitar.  
Tujuan Khusus  Mata pelajaran muatan lokal adalah untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai/aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional. Lebih jelas lagi agar peserta didik dapat Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya.  Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya. Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Masalah pengembangan  Mulok khususnya  dalam  KTSP  adalah pelajaran Mulok yang merupakan kegiatan kurikuler yang harus diajarkan di kelas tidak dilengkapi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Hal ini dapat dimengerti karena Standar Isi (termasuk Standar Kompetensi dan Kopetensi Dasar) yang disiapkan oleh pusat tidak mungkin dapat mengakomodasi kebutuhan daerah dan lingkungan yang beranekaragam.
Setiap satuan pendidikan harus menyusun sendiri Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk muatan lokal yang dipilihnya. Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran Muatan Lokal bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, tim kurikulum di setiap satuan pendidikan perlu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan muatan lokal yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan, kondisi satuan pendidikan, dan peserta didik masing-masing.
Untuk melahirkan  sebuah  bentuk  pembelajaran  Mulok  yang  sesuai  dengan keberadaan  lingkungan  harus  mengacu  pada  kebijakan  yang  telah disepakati  dan ditetapkan  oleh pemerintah  Propinsi  dan  Kabupaten.
Ruang lingkup muatan lokal adalah sebagai berikut:
1.      Lingkup Keadaan dan Kebutuhan Daerah. Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat didaerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan:
-       lingkungan alam,
-       lingkungan sosial ekonomi,
-       dan lingkungan sosial budaya.

Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Kebutuhan daerah tersebut misalnya kebutuhan untuk:
a.       Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah
b.      Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah
c.       Meningkatkan penguasaan bahasa Inggris untuk keperluan sehari-hari, dan menunjang pemberdayaan individu dalam melakukan belajar lebih lanjut (belajar sepanjang hayat)
d.      Meningkatkan kemampuan berwirausaha.

  1. Lingkup isi/jenis muatan lokal, dapat berupa:
-       bahasa daerah,
-       bahasa Inggris,
-       kesenian daerah,
-       keterampilan dan kerajinan daerah,
-       adat istiadat,
-       dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar,
-       serta hal-hal yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan.

Proses pengembangan Mata Pelajaran Muatan lokal sepenuhnya ditangani oleh sekolah dan komite sekolah yang membutuhkan penanganan secara profesional dalam merencanakan, mengelola, dan melaksanakannya. Dengan demikian di samping mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional, perencanaan, pengelolaan, maupun pelaksanaan muatan lokal memperhatikan keseimbangan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Penanganan secara profesional muatan lokal merupakan tanggung jawab pemangku kepentingan (stakeholders) yaitu sekolah dan komite sekolah.
Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal oleh sekolah dan komite sekolah dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah. Menentukan fungsi dan susunan atau komposisi muatan lokal. Mengidentifikasi bahan kajian muatan lokal. Menentukan Mata Pelajaran Muatan Lokal. Mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta silabus, dengan mengacu pada Standar Isi yang ditetapkan oleh BSNP
Sehubungan  dengan kebutuhan daerah dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat di kepulauan   Sangihe,  yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah maka  kebutuhan daerah dapat dikelompokkkan  sebagai  berikut: Pelestarikan dan Pengembanagn kebudayaan daerah. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah. Meningkatkan penguasaan bahasa Inggris dan  atau  bahasa Taghalog, Bisaya dan   bahasa China dalam  rangka keterlibatan  di era  global   dan pasar  bebas. Meningkatkan kemampuan berwirausaha.
Lingkup / jenis  Muatan  lokal yang meliputi : bahasa daerah, kesenian daerah,  keterampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar.
Hal  penting  yang perlu diperhatikan  dalam  penyusunan program Mulok  Bahasa  daerah Sangihe sehubungan  dengan  luasnya  ruang  lingkup  Bahasa diantaranya  adalah : Pengembangan  Bahasa Sangihe yang mengacu sepenuhnya kepada Ilmu Bahasa ditinjau  dari : Rumpun Bahasa, Struktur, Penulisan, Dialek dan  lain-lain. Pengembangan Bahasa  dalam  Mulok  perlu  bersinergi   dengan  pemerhati dan pelaku  bahasa Sangihe dan pengajar Bahasa  Indonesia. Pengembangan  Bahasa  Sangihe sebagai  bagian dari Budaya  Sangihe dapat  dikembangkan di area  pengguna  Bahasa Sangihe Aktif dan Pasif meliputi yang  penyebarannya   mencakup : Pulau Sangihe dan pulau diseitarnya. Kepulauan Siau,Taghulandang, Biaro, Makalehi, Duang, Buhias, Pulau – pulau kecil di Selatan Philliphina pengguna  bahasa “Sangil”. Komunitas Sangihe di kepulauan Talaud. Komunitas Sangihe Di Pulau Manado tua, Naen, Siladen, Mentehage, Lembe sampai  ke  pualau  Batang dua (kepulauan  Maluku). Komunitas Sangihe dipantai  utara dan  selatan Bolaang Mongondow. Komunitas Sangihe di pesisir Minahasa terutama Likupang dan Wori. Komunitas sangihe transmigran Sulawesi tengah.
Pengguna  Bahasa  Sangihe pasif dan  aktif  yang  sebegitu banyak ini tidak  akan  mengantar Bahasa  Sangihe kepada kepunahan. Hal  yang  sangat  kurang  dimengerti  oleh  generasi  muda saat  ini  justru  bukan  pada  Bahasa Sangihe  sehari-hari tetapi  pada  Bahasa Sangihe Sasahara. Dari  kelemahan  ini  kita perlu  menyusun program  pembelejaran  Bahasa / Sastra Sangihe, yang  meliputi : Pengembangan Puisi dan Prosa Sangihe seperti  Sasalamate, Pantun,Tatinggung/tatika, mantera sebagai syair sastera, dongeng, legenda/cerita rakyat, dll.
Gambaran  umum  materi  Bahasa dan Sastra Sangihe diantaranya  adalah :  1) Sasalamate  yang dibedakan  dari : Sasalamate Bebas dan Sasalamate Sastra. 2) Pantun bahasa daerah  dapat dibedakan menjadi : Pantun bebas, Pantun Sastera. 3) Tatika / tinggung-tinggung atau Teka-teki dapat dibedakan  menjadi : Tatika  bebas, tatika Sastra. 4) Mantera,Mêkalanto / Lahopa  berdasarkan  fungsinya dapat dibedakan  menjadi : mantera menyembuhkan  orang  sakit, mantera Membuat  sakit  orang  sehat, mantra membunuh orang, mantera papianaung dan lain-lain. Dalam   hal  ini   mantera di jadikan  sebagai   bahan   pembelajaran  sastra. 5) Kelompok Cerita : Mêbiôe, Mangumbaedê, Bawowo, Mêbera (bercerita sejarah atau  bersilsilah), cerita  rakyat,  meliputi   cerita  umum  sangihe  dan cerita   di masing-masing  desa. 6) Penguasaan kosa kata bahasa  Sangihe  sasahara, kosa-kata  Bahasa Sangihe yang  hampir punah, penggunaan Bahasa Sangihe sastera dalam kegiatan yang bermuatan adat.

Gambaran  umum  materi  Kesenian  Daerah meliputi pengembangan Kesenian  asli suku sangihe yang  meliputi ; 1) Kesenian : Kesenian Islam asli  sangihe seperti Hadrah Manggut, Kesenian Masamper yang   didalamnya  terdapat penciptaan musik dan gerak, kesenian Ampa wayer  yang  didalamnya  terdapat  unsur permainan musik dan gerak, Mêbawalasê Sambo, Kalalumpang, mêganding, kakalumpang. 2) Seni Tari : Tari tradisi dan tari kreasi baru, yang  termasuk  Tarian  istana  adalah ; Tari  Alabadiri diciptakan  oleh raja Tabukan, Tari  Dangsang sahabe diciptakan  oleh bangsawan Sahabe, Tari Gunde, lahir sebagai  tari tunggal (tarian rakyat) dan berkembang  manjadi tari Istana  Kerajaan Manganitu, Tari Upase / Tari opas Lahir  dari  Tabukan. Kelompok Tarian  rakyat  seperti : Sese Madunde, Ampawayer, Tari Salo bebas dan salo kapita, Tari tipu (menari diatas api). 3). Seni musik :  Mêlagu (menyanyikan  lagu-lagu tua), Mêtahlilan (islam-kristen), Musik Lide / musik  Olî, ansambel musik suling bambu, ansambel musik bambu melulu, mêtagonggong, tunta, katarak, puhe, orkese. 4) Seni  Theater seperti Ghagaweang. 5) Seni Rupa : yang  perlu dikembangkan dalam  Seni rupa sebagai kegiatan seni rupa asli sangihe  adalah : Penerapan pembuatan miniatur Perahu Tradisional Sangihe,seperti : Bininta, Konteng,Tumbilung, kora-kora dan jenis lainnya. Penerapan pembuatan  miniatur rumah tradisional Sangihe. Penerapan  pembuatan Kain Tenun Tradisional Sangihe. Penerapan pembuatan model  pakaian tradisional masyarakat Sangihe dan kelengkapannya seperti, laku tepu, baniang, pakaian  dan  atribut istana kerajaan.
Gambaran  umum Keterampilan dan kerajinan daerah seperti pembutan bahan-bahan  keterampilan dan  kerajinan  yang  berhubungan dengan kekayaan  Sangihe, misalnya ; 1 ) Pembuatan Terasi  dan  bakasang  dari  bahan  ikan 2). Pengawetan ikan tradisional seperti ikan asin, ikan kayu (pekuhê). 3). Pembuatan  Manisan pala, anggur pala, syrup pala, slay pala, permen pala, dll. 4) Pembuatan  tepung  kelapa, kue kelapa, minyak  kelapa  murni / Virgin Coconut Oil. 5) Pembuatan tepung  sagu, kue tradisional sagu berkwalitas ekspor. 6).Penggalian  obat  tradisional Sangihe (herbal).
Gambaran umum Kerajinan di sangihe yang sudah  ada  dan perlu digali lagi seperti : Kerajinan Kerang, Kerajinan pasir, Kerajinan batok kelapa, pinang  dan ketageng (buah maja), batok dingkaleng, tenun lidi kelapa, anyaman lidi, kerajinan Sabut kelapa, Anyaman bika, Jaring ikan, Pandai besi , khususnya  penggarapan alat tradisional sangihe.
Gambaran umum aktifitas  Adat istiadat, Tata krama adat  Sangihe, Susunan  acara  adat, Teknik  membawakan  acara  adat, Jenis-jenis Upacara adat seperti : Upacara adat perkawinan adat Sangihe : Upacara adat Menondo Sakaeng, Upacara adat  menolak Bala, Tulude, Upacara  adat  penobatan  raja.
Gambaran Umum Pengetahuan tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar, Penerapan  materi  mulok spesifik yang  bersesuaian  dengan  keadaan sekolah  dan  keadaan  alam  sekitar  sekolah seperti Budidaya  Tanaman  Pertanian, Budidaya  Tanaman Obat, Budidaya Rumput  laut.
Sampai  tahun 2014, masih  banyak   sekolah di kepulauan  Sangihe  mulai  dari SD, SMP  dan SMA belum  bisa  menetapkan muatan materi dalam Muatan  Lokal  yang  sangat  khas  dengan  daerah.  Penyebabnya  mungkin oleh  beberapa hal seperti : 1) Belum  adanya  kordinasi  dan terobosan   yang serius  oleh pihak-pihak  terkait  yang  bisa  merancang  kurikulum Mulok, 2). belum  ada  penegasan  dari pemerintah  daerah tentang  pentingnya  Muatan  Lokal di  sekolah, 3) belum adanya MGMP  atau  sarana  diskusi guru-guru  yang   ditugaskan  mengajar Mulok. 4)  tidak  adanya   literatur  (buku cetak) yang  dapat dijadikan acuan untuk mengajar. 5)  belum  ada  materi atau  muatan  standar  untuk  pembelajaran Mulok.
Standarisasi  materi memerlukan  kajian  awal seperti :  Seberapa  besar pelaku  anyam ginto atau  anyam bikâ di  kepulauan  sangihe dan dimana  saja  populasinya.  Jika ditemukan   bahwa pelaku  dan  pengguna anyaman  tersebut masih ada diseluruh  wilayah  kepulauan  sangihe maka anyaman  bika  dapat  dijadikan salah satu  materi utama  dalam pembelajaran  muatan lokal.
Berikut  ini  contoh  pengembangan  materi  mulok di  SMP  Negeri 5  Tabukan  Utara yang juga  pernah  dikembangkan  di  Manganitu dan di ramu sebagai Muatan  Lokal  Budaya Daerah Sangihe.   SK : Memahami  bahasa  sangihe melalui, cerita  rakyat  atau  cerita  sejarah sangihe.  KD : Menemukan hal-hal menarik dari cerita rakyat sangihe. Pelaksanaanya  dapat  berupa  : Mendengarkan  cerita  rakyat  atau cerita  sejarah  sangihe dalam  bahasa  daerah sehari-hari  dari  cerita  Gumansalangi, Gunung Awu, Kisah Makaampo, Apapuhang. Membuat  kesimpulan tentang  inti  cerita atau tokoh dalam  cerita. Kegiatan  akhir   semester  ditutup  dengan  wisata study ke tempat-tempat  yang  terhubung dengan  cerita  yang sudah dipelajarai. Setelah   melewati   proses wisata  study  maka  siswa   akan  membuat  laporan  bebas  tentang  perjalanan   wisata   tersebut.  Pilahn   cerita   dalam  materi  tersebut disesuaikan  dengan  tempat  penyelenggaraan  sekolah yang berada  di   wilayah   Tabukan tempat berkembangnya  cerita  Gumansalangi, Gunung Awu, Makaampo dan Angsuang.  Proses  pembelajaran  seperti ini  bukanlah  pembelajaran  Bahasa  Daerah  tetapi  bahasa  pengantarnya   menggunakan  bahasa   daerah.  Secara  tidak  langsung  terdapat proses  pembelajaran  bahasa dan sejarah  dalam   Muatan  Lokal Budaya  Daerah Sangihe.
Proses selanjutnya   pengembangan  Mulok  Budaya  Daerah Sangihe  sudah  semestinya  dikaji  dan   di  kembangkan  menuju   kesempurnaan  dengan melibatkan  pihak  terkait  seperti  ahli  kurikulum, ahli bahasa, budayawan sangihe, pengrajin dan  lain-lain.   Semoga  pengembangan  kurikulum  Mulok  yang  berhubungan  dengan  Budaya  Daerah  sangihe  akan  lebih  baik untuk  mencapai  kesempurnaanya  dan  dapat   dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan  kecintaan generasi  muda  kepada  budayanya  senndiri.









Dokumentasi wisata  study, Ziarah perjalanan  Makaampo dalam  pembelajaran  Mulok Budaya  Daerah SMP Neg. 5 Tabukan Utara/Lenganeng.
Makam raja  Makaampo
 
Jalan  masuk  menuju makam raja  Makaampo
Pulau kecil  bernama  Toade Sura, tempat  pemakaman Raja Makaampo