Senin, 27 Juli 2015

JEJAK SEJARAH ISLAM SANGIHE



JEJAK SEJARAH  ISLAM  SANGIR
            Islam  adalah  Agama  Samawi  tertua di pulau Sangihe yang sudah ada bersamaan waktunya dengan kedatuan tua “tampungang lawo”.  Beberapa  pakar dan peneliti telah menulis   tentang Islam Sangir  melalui kajian dan penelitian ilmiah, tetapi sampai  saat ini  belum juga di ditemukan  secara  pasti, kapan  Islam mulai masuk di Sangihe.  
Banyak  diantara  peneliti terjebak pada informasi-informasi (tulisan) terutama tulisan-tulisan  yang ditulis  oleh penulis Eropa. Tidak banyak diantara  para  peneliti yang menggali  sedalam-dalamnya tentang  folklore, silsilah / cerita (bera, mêberang), nama orang sangir (areng u tau sangi), nama pertama (areng u papoto puidê), benda peninggalan sejarah, kesenian yang terhubung dengan persebaran  Islam.  Salah satu karya  ilmiah berupa tesis yang  sebagian  isinya mengenai keterhubungan antara Agama tua Sangihe dengan Islam dan Islam  Tua adalah  “ Islam Tua Terpasung dan Merana” karya Don Javirius Walandungo. Dalam  buku  tersebut  mengulas sedalamnya  tentang siar  Islam terutama Islam Tabukan.
Dalam beberapa  versi, pengenalan akan Islam mula-mula, masalah dan pengaruhnya di kepulauan Sangihe mulai terjadi dalam beberapa periode :
1.      Tahun 1300. Gumansalangi, putra  mahkota  dari kesultanan Islam Cotabato, Philipina menjadi raja pertama di kerajaan Tabukan Tua ( sastra lisan Tampungang Lawo).
2.      Abad ke -13 oleh pedagang China muslim  dari Philipna. Bukti pengaruh persebaran Islam oleh pedagang  China  Muslim yaitu  terdapatnya komunitas China Muslim di Peta, Tabukan Utara yang  menempati Peta  selama beberapa  generasi.
3.      Abad ke – 14, mulai  ada  pengaruh Islam Ternate.
4.      Abad ke -15 oleh orang Arab bernama Syarief Maulana Moe’min kepada seorang  raja bernama Lumauge.
Pada saat  itu ada sebuah  kerajaan kecil ( kerajaan Islam ) didalam kerajaan Tabukan yang berdiri otonom,  yang di perintah oleh seorang raja bernama Lumauge. Pusat  kerajaan berkedudukan di Kampung  Moronge, Tabukan Utara. Yang  unik  dari  kerajaan  ini  adalah : Istananya didirikan  berdekatan  dengan  Istana  kerajaan Tabukan di  Hantosa kampung Tabukan Lama berbatasan  dengan kampong Likuang dan Moronge. Bukti  lain yang mendukung  adalah Mesjid  tua  Moronge  merupakan salah satu  mesjid mula-mula di pulau Sangihe disusul mesjid Peta.
5.      Sampai abad ke – 16, penduduk Sangihe masih menganut kepercayaan pra Animisme termasuk  diantaranya Sundeng. (Akulturasi Islam dan Agama asli Sangihe)
6.      Tahun 1530, Makaampo  mempersatukan  Tabukan Selatan dan Utara kemudian menjadi  raja pertama atas kerajaan Tabukan Raya. Sampai  saat  ini,  ada beberapa  pendapat  mengatakan  bahwa Makaampo  adalah seorang raja Islam sebagai waris  dari kakeknya seorang keturunan  sultan Cotabato. Makaampo adalah keturunan ke – 3 dari Gumansalangi. Bukti lain  yang  mendukung bahwa  raja-raja  kerajaan  Tabukan Raya  mula-mula  adalah penganut Islam, sampai tahun 1539 seorang raja Tabukan bernama Gadma atau Gamambanua menyatakan rela meninggalkan Islam dan memeluk agama Kristen. Hal  itu  disampaikannya  kepada penguasa Spanyol di Manila.
7.      Pertengahan  abad ke 19, raja  Kumuku (Hendrik David Paparang) mempelajari agama Islam di Ternate. Sekembalinya di Sangihe, dia membawa seorang anak bernama Moedin Baud
8.      Tahun 1886,  aktifitas agama  islam  di Kerajan Tabukan  mendapat  tekanan. Kapiten laut  Hadiman Makaminan dan Maloehenggehe Paparang  dihukum  karena  berguru  ajaran  Islam  pada  seorang  bernama Husein (orang Gorontalo). Akibat dari konflik tersebut  orang-orang  yang  masih  memeluk  agama  Islam di Tabukan  diungsikan  ke Tahuna   dan  membentuk komunitas baru kampung islam Tidore.
9.      Tahun 1898, Raja David Sarapil mengijinkan umat  islam dalam pembuangan Tahuna untuk pulang ke Tabukan dan  membangun  mesjid di Moronge dan Peta.

Foto : A
Makam Raja  Makaampo di  Toade Sura Kampung Salurang tahun  1530.  Konstruksi makam kini,  tidak  lagi seperti aslinya.

Persebaran  dan  pengaruh  Islam  di pulau Sangihe  dapat kita lihat  juga  melalui  benda – benda peninggalan sejarah dan kesenian.  Peninggalan  bersejarah  tersebut berupa kubur,  cerita, kesenian dan karya  kerajinan.
Sampai  saat  ini arsitektur  Mesjid tidak lagi menggambarkan  gaya  arsitektur  lokal yang bergaya asli Sangihe atau bergaja  Jawa dan lain-lain.  Satu-satunya  arsitektur  Mesjid  Sangihe  yang  mengadaptasi  gaya  arsitektur  jawa ( gaya Hindu-Persia)  adalah  mesjid pertama Peta, Tabukan  Utara.

Foto  : B
Mesjid  Peta akhir Tahun 1800
            Persebaran  Islam  Sangir  yang berbasis di Tabukan  Utara meliputi  hampir  seluruh  wilayah  kecamatan Tabukan  Utara  (sekarang) mulai  dari  Bahu sampai ke Birû, dari Lenganeng Sampai ke Marore.  Terdapat  juga  garis  persebaran  Islam Sangir  dari  Tabukan Utara ke  Lehimĭ  dan Tariang Batu  yang letaknya diantara kampung  Ngalipaeng dan Lehupu para penyiarnya adalah  pemuka  agama  dari  Sensong  yang  kemudian  menjadi imam  pertama. Persebaran  Islam  Tabukan utara juga mencapai  daerah  Kuma  dan Manalu.
Terkecuali penganut Islam Tidore adalah  bagaian  dari rintisan siar  Islam  Tabukan  yang  kemudiam terlepas  setelah para penganjurnya kembali  lagi ke  Tabukan.  Salah satu  tokoh  yang   berpengaruh adalah  Ontameng Kakomba  yang  pernah  menjadi guru  agama Islam di akhir tahun 1800.  Di masa  yang  sama 15  orang  penganjur  Islam di Tahuna,  atas  perintah  raja Tahuna diasingkan keluar  dari pulau  Sulawesi. Kemudian  pada tahun yang  sama  pula atas bantuan seorang  Belanda Controleur Hoeke didirikanlah Mesjid di Sawang.
            Banyak  kalangan beranggapan  bahwa penganut  Islam  Tidore  adalah bagian  dari  persebaran  Islam  Tidore (kesultanan Tidore). Akan  tetapi  sampai  saat  ini belum ditemukan bukti  yang  kuat  mengenai hal tersebut  baik  itu melalui  cerita  sejarah, silsilah  keturunan ataupun  bukti  peninggalan sejarah  lainya.  Bahkan  sampai  saat  ini  hampir tidak  ditemukan warga  keturunan  Tidore  (Maluku)  yang  beranak  cucu  dari masa 1700-1800. Ketidak  pastian  sejarah  pemukiman  Tidore itulah yang membingungkan.  Jauh  sebelum  tempat  tersebut  dinamakan  Tidore (dekat  pelabuhan)  Tahuna, tempat tersebut  sudah memiliki nama Sangir. Sebagian  orang  menyebut  sebagai  Todohê. Persebaran  Islam Tidore hanya meliputi Manganitu dan  Tamako.
            Pengaruh  dan  persebaran  Islam  juga  terjadi  di  Kerajaan  Kendahe yang  di masa  kolonialisme di sebut  Kandahar.  Sentuhan  Islam  diawali  oleh  raja  Kendahe  pertama  yang  berasal  dari Philiphina  dan  berakhir  dimasa Kekuasaan  raja  Syam Syach  Alam. Persebarannya  meliputi Pulau Lipaeng, Talawid dan Naglipaeng  (Ngalipaeng pesisir).
            Ada  beberapa  lokasi  yang  pernah  ditempati  oleh  penganut  Islam yang sampai  saat  ini keberadaanya masih  misteri yaitu di  daerah  Pindang Sampakang dekat  kaluwatu dan  sebuah perkampungan  tua di antara  Tariang Lama dan Sawang Jauh. Kisah persebaran  Islam Tabukan  juga muncul  dalam kisah  kepahlawanan Imam  Masade sebagai panglima  perang suku  Sangir  melawan  Spanyol di  Mindanao. Atas  keberaniannya,  Imam  Masade di berikan  gelar  Sadakbar  yang  berarti pahlawan  daratan. Masade dalam sastra  lisan  di Philipin  bernama  Umar  Masade. Keturunan  Umar  Masade bernama Melanginusa menjadi  penyiar Islam di  Pulau  Balut dan  Saranggani, tadohe.blogspot.com. Dari ketokohan  Umar  Masade  inilah lahir  sebuah  agama  “Islam  Tua”  yang membedakannya  dengan “Islam  Quran”. 
Agama  Islam  tua terdiri  dari  tiga  aliran yaitu 1) aliran Hadung (Muhamad)  yang menempati Kalekube dan Lenganeng, 2) aliran Makung menempati Pulau Enggohe Tariang Baru dan Sensong, 3) aliran  Biangkati (penganjur perempuan) menempati  sebuah  wilayah di dekat Sawang Jauh.  Pada  tanggal 5 Pebruary tahun 1985 lahirlah sebuah Surat  Keputusan dari Dirjen Kebudayaan Dep. Dik. Bud. RI No I.273/F.3/N.I.1/1985, Agama  Islam Tua resmi terdaftar  sebagai Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang  Maha Esa dengan nama Organisasi  Masade.


Foto : C
Makam  salah  satu  leluhur  Islam Tua di Kampung Lenganeng pertengahan tahun 1700 bernama  Bensade. Konstruksi dinding pembatasnya  menyerupai  kubur-kubur tua msyarakat  Sangir  masa lalu.


Foto  : D
Makam Islam “Jere Kulaba”  Sufi  Ternate.   Susunan  tanda Kepala  mirip  dengan  Makam  Tua (penganut Islam Tua ) di Kampung Lenganeng.


Foto  : E
Makam  penganut Islam di Pananualeng, Kampung  tariang  Baru. Perkiraan  tahun 1700

            Begitu lamanya pengaruh  Islam  terhadap  Sangihe  sehingga  melahirkan  beberapa  kebudayaan yang saling mempengaruhi seperti  kesenian  dan kerajinan yang bercorak  asli  Sangihe. Salah  satu  kesenian Islam  Sangihe  yang  masih  dipertahankan  adalah  Hadrah  Manggut, sebelumnya  kesenian  ini  bernama  Balumpa.  Kesenian  ini masih  digolongkan sebagai Hadrah dalam  kesenian Islam Nusantara.  Ada  juga  sebuah  tradisi  unik  yang masih di lakukan  oleh orang  kristen  dan Islam di  daerah Tola  dan Tarolang yaitu Mê-tahlil.  Sebagian  penganut  muslim  di  Tabukan  Utara  bisa  menyanyikan  banyak  lagu-lagu  Rohani Kristen dan  sering  bergabung dalam  grup  Masamper. Sebaliknya penganut  Kristen  sering bergabung  dalam  kelompok  Hadrah.
Bukti  peninggalan  kebudayaan Islam  masa lalu  yang masih  bisa dilihat  saat  ini  dapat  dijadikan  acuan sejarah  masuk dan berkembangnya Islam  di kepulauan  Sangihe yang lebih nyata.

Foto ; F
Kopiah  buatan  anak  sekolah desa, awal tahun 1900


Foto : G-H
Kiri ke kanan :  Makam Tua tanpa  sejarah  dan makam seorang  biang di kampung  Pananaru
( makam peninggalan  sejarah )  perkiraan tahun 1300.




Foto  : I
Model Ikat  kepala atau  umbe  atau  poporong yang  digunakan oleh  Raja dan  Bangsawan Sangir di awal  tahun 1900 dipengaruhi oleh  tradisi  Islam.










Minggu, 26 Juli 2015

SAFARI RAMADHAN DI PULAU SANGIHE 26 JULI 2015



SAFARI  RAMADHAN DI PULAU SANGIHE
26 JULI 2015

Seluruh  umat  muslim di pulau Sangihe melaksanakan kegiatan rutin  dalam acara Safari Ramadhan.  Kegiatan  ini terlaksana  atas  kerjasama PEMDA dan PHBI (panitia hari-hari besar Islam). Kegiatan  yang bertajuk  Safari Ramadhan ini secara rutin dilaksanakan setiap tahun.
Sebelum muncul istilah  ini, berabad abad  lamanya sudah  di laksanakan kegiatan berkunjung bersilahturahmi antar  sesama muslim pada hari-hari besar Islam ataupun dengan agam Kristen di hari-hari besar Kristen sebagai  bagian  dari  tradisi Sangihe.
Dalam perjalanan Sejarah  Sangir, tidak  pernah ada upaya pihak yang dianggap  mayoritas yaitu Nasrani untuk menutup-nutupi dan mengecilkan kehidupan social Muslim sebagai  bagian  dari perjalanan  Sejarah. Kebudayaan Islam sejak masa lalu telah bersanding dengan kebudayaan Sangir secara  umum dan melahirkan  kebudayaan Islam  Sangir.  Jelajah  Islam telah  diakui mengawali masuknya bangsa Eropa di Jasirah  Sulawesi khususnya Gorontalo, Bolaang Mongondow, Minahasa (di kema) dan dikepulauan Sangihe secara  keseluruhan.
Sebuah  istilah kemudian  muncul yaitu BOHUSAMI (Bo= Bolaang Mongondow, Hu = Hulondalo, Sa = Sangihe, Mi =  Minahasa).  Istilah ini mempererat ke empat Suku Besar di  Sulawesi  Utara memperkuat  kedudukan Sulawesi Utara  sebagai  daerah “pluralis”.  Permasalahannya, ide ini dilahirkan dan dibesarkan di sebuah tanah yang  bernama  Tanah  Minahasa, tanah  yang berpenduduk mayoritas Kristen.  Sejak berlakunya  Otonomisasi Daerah maka ide  ini perlahan – lahan  mulai Gugur.  
Sangihe  sebagai sebuah  daerah  kepulauan  yang  wilayah  daratannya  tidak seluas Minahasa, Gorontalo dan  Bolaang  Mongondow telah  membangun  kerukunan antar  umat beragama dan antar suku, jauh sebelum  lahirnya  ide BOHUSAMI dan ide PANCASILA. Pelaksanaan  Safari Ramadhan yang didukung sepenuhnya  oleh  kaum Nasrani hanyalah  salah  satu  contoh  dari  kedamaian beragama di  kepulauan  Sangihe.
Suku  Sangihe  telah menjadi  tumbal  dari  beberapa  kasus SARA di negeri sendiri  maupun  di negeri Pilipin. Dimasa Spanyol suku Sangir (sebagai etnis SANGIL ) di pilipin telah  berjuang  mempertahankan  kemerdekaan  diri  atas perang  antar  suku  dan perang  melawan Spanyol. Dikisaran tahun  1960-an sampai  awal  1970 mereka  juga  mengalami hal  yang  sama,  terutama  mereka  yang  tinggal di GLAN.  Untuk  menghindari tekanan,  mereka akhirnya pindah ke Kepulauan Maluku menempati pantai-pantai di  pulau  Halmahera di  daerah Kao/Malifut, Oba, Ibu, Tobelo, Jailolo, Ternate, Tidore dan Bacan. Hanya  dalam  kurun waktu 20 tahun mereka  kembali terusir dari Kepulauan Maluku. Ribuan penduduk keturunan  Sangir dan Talaud  harus  pindah  lagi ke Tanah Minahasa menempati barak-barak pengungsian resmi  maupun  bantuan spontan masyarakat di Bitung, Likupang, Kairagi, Pandu, Diklat Teling, Tomohon.  Mereka datang  dengan  tidak bercapkan Agama tapi bercapkan  persaudaraan Sangir.
Sebagian  besar  penduduk  mengungsi  hanya  dengan menumpang  perahu-perahu kecil. Banyak   diantara  mereka yang mati  kelaparan  dalam  pelayaran. Pulang ke tanah asalnya  dengan  Tangisan ketanah  Sangihe yang berarti tangisan. Mereka itukah “Diaspora” atau “Palestina”.  Mereka  telah  menyebar  dan  menempati  tanah yang  bukan  milik  leluhurnya. Akankah  mereka terus  mengalami  tangisan berkepanjangan  sebagaimana Legenda  Sangihe  dari  kata “Sangi” yang berarti manangis?
Pengalaman-pengalaman  sejarah  inilah yang  menjadikan mereka kuat  fisik dan  mental. Pengalaman sejarah  ini juga yang  melahirkan  semangat untuk  tetap rukun antar  umat  beragama. Mereka  kemudian tetap berlayar  disatu kapal  yang  sama, kapal  yang  tak berbendera agama. Sama-sama  berdoa kepada Tuhan  yang  berbeda, Allah hu Akbar-Tuhan Yesus  Tolong, menjerit, menangis  bersama  jika kapal mulai oleng saat diterjang badai.
Itulah  keberagaman di Sangihe  yang  tidak pernah diperhitungkan…..!!!!!!!!!