Senin, 01 September 2014

Sejarah 151 tahun Gereja GMIST Jerusalem Enemawira



SEJARAH  GEREJA  GMIST  “JERUSALEM”  ĚNEMAWIRA


            Sejarah  adalah  sebuah  kesepakatan, tidak  dilahirkan  tapi dibentuk apa  adanya. Proses penentuan lahirnya sebuah  gereja (persekutuan iman kristiani)  tidak  hanya  dilihat  dari satu sudut pandang  saja, tidak juga  oleh sebuah  periodisasi keadaan dan  teori-teori murni ilmu sejarah. Semisal lahirnya  gereja GMIST Imanuel  Tahuna, penentuannya dihitung sejak masuknya dua orang Pendeta VOC di Tahuna  awal tahun 1600. Penetuan  seperti itu  dibenarkan  berdasarkan teori  sejarah. Tetapi  jika  kita  melihat  kedepan, sejak meninggalnya dua orang  pendeta  tersebut,  pelayanan  injil di pulau Sangihe terlantar selama kurang lebih 200 tahun. Sejak datangnya misi penginjilan Zendeling Verklaiden (penginjil tukang) di tahun 1800, bertumbuhlah iman Kristen yang sesungguhnya. Penentuan  kelahiran  sebuah  sejarah  gereja harus  ditinjau  dari beberapa unsure, tidak  hanya  oleh satu  acuan  saja.  Baik  dan buruk keadaannya pasti akan  terungkap,  itulah kejujuran  sebuah   sejarah.
Kelahiran Jemaat  GMIST Jerusalem Ěnemawira  telah  disepakati  melalui beberapa  kali seminar  Sejarah  Gereja  secara intern. Penggalian dan penelusuran  data  sejarah  gereja  GMIST Jerusalem Ěnemawira diupayakan  bersama  oleh  beberapa  pihak yang memiliki  kepakaran  dibidang  sejarah Gereja maupun saksi  sejarah, dan  sumber-sumber  pendukung  lainnya. 
Seminar  sejarah  GMIST Jerusalem Ěnemawira di motori  oleh Sembilan  orang dalam  sebuah komposisi  kepanitiaan, diantaranya  adalah  Pdt. A. Makasar, S.Th sebagai  ketua  jemaat GMIST Jerusalem Ěnemawira 1988-1991 yang  memiliki  kemampuan  dan  kepakaran  dibidang  sejarah dan  kebudayaan Sangihe. Seminar  tersebut  diproses oleh    tim  inti  yaitu : Pdt. S.A. Macpal, Pdt. R.S. Patras,S.Th,(sekarang  ketua resort Tabukan Utara), Pnt. A. Janis, Pnt, A.T.A. Bawoel, A. Matheos, S. Janis (pemerhati  sejarah Tabukan), U.A. Bagari, Vikaris Suriyanto Gatot, S.th.  

Pendeta, A. Makasar, M.Th

Hasil seminar berproses  dan kemudian pada tahun 2003 melahirkan kesepakatan  bahwa  pelayanan rohani GMIST  Jerusalem sudah ada sejak tahun  1863 dihitung sejak baptisan protestan mula-mula  atas nama  Markus Janis. Baptisan  tersebut dilakukan oleh Pdt. C.J.L.M. Schrooder. Proses  perjalanan  injil di Jemaat GMIST Jerusalem  Ěnemawira berdasarkan metode  “periode waktu” dan “keadaan social” adalah  sebagai  berikut :
Tahun  1863 dibaptislah Markus Janis, ketika itu masih sedikit warga yang menempati daerah Ênemawira.  Nama “Ênemawira” mulai digunakan sebagai  nama  sebuah  pemukiman diantara  Peta dan Likuang  di masa  pemerintahan  Raja  David Papukulê Sarapil (1892-1922). 

 Raja  David Papukule Sarapil. asal  Manalu
Salah  satu murid  yang  paling  disayangi Pdt. W.J.M.L, Schroder 
Teman  David  yg  juga  disayangi Pdt. Shrooder adalah  Guru  Injil Pontoh  dari  Manalu.
David  Sarapil  pernah bertugas sebagai Pelayan  Injil  di Kampung Naha



Sejak saat itu  nama “Ênemawira” semakin dikenal  luas. Sebelum bernama “Ênemawira”, tempat tersebut memiliki nama Sasahara yaitu : Beo U Apeng  U Pasi yang  berarti pantai yang dipatok (patok/pasak tanda batas).


 
       “Ênemawira” di kampung  Bengketang


            Sebelum terjadi letusan  gunung api Awu tahun 1892, sudah  ada  penduduk  yang menempati daerah sekitar “Ênemawira” terutama di  daerah Liwasê. Mereka  adalah  orang-orang  Bantik  (orang Bantik yang  dimaksud  adalah penduduk yang  tersisa  dari bencana hancurnya tanjung Maselihe) dan orang  Buhias / Tagulandang. Orang-orang  Buhias menempati “Ênemawira”  karena  perkawinan  degan putri  kulano Salurang. Semakin hari semakin banyaklah  penduduk  yang tinggal menetap di “Ênemawira”.
            Kedatangan  C.J.M.L. Schröder (warga Jerman) sebagai  pendeta  pertama di  “Ênemawira” pada tanggal 3 Agustus 1857 membawa  perubahan  baru  terhadap kehidupan sosial di Kampung Tabukan Lama, Likuang, Tarolang, Naha dan Bengketang.   

KAMPUNG   TABUKAN  LAMA  TAHUN 1892

           Schröder mengadakan kegiatan  pendidikan dalam  bentuk pemuridan  calon guru Injil, pelayanan  injil sampai pelaksanaan  Baptisan,  mendirikan  persekutuan ibadah disalah  satu tempat di  Tabukan  Lama. Tempat  tersebut dinamakan “Gereja Padang” karena  tidak ada gedungnya. Ditempat itulah  Schröder mendirikan mimbar (seperti altar) dan membuat sumur untuk menyampaikan firman dan  membaptis. Tempat itu kemudian dinamakan “Likudu Gaheda” artinya : Belakang Gereja. 

Batu " Likudu Gahedang"
Batu ini  menyerupai Altar. Oleh  penduduk  Kampung Tabukan  Lama, menyatakan  bahwa batu  tersebut  dijadikan  mimbar  untuk  berhotbah  dan membaptis. Tempat bersejarah  bagi GMIST  ini  tidak di jaga dan  sebentar  lagi akan hancur.
Pendeta C.J.M.L. Schröder meninggal tanggal 30 Juni 1885  dan  dimakamkan di  belakang  Gereja  pertama Tabukan Lama (sekarang, GMIST Pniel Tabukan Lama). Gedung  Gereja pertama di Tabukan  Lama dihancurkan oleh bom tentara Sekutu dimasa perang dunia ke-II, tepatnya  tanggal 29 Desember 1944. 

Batu nisan  makam  dari  Pdt. C.J.M.L. Schröder dan keluarganya
di Kampung  Tabukan Lama 

 


Pada tahun 1886  terjadi baptisan pertama kepada warga kampung Naha yg  dilakukan  kepada  12 orang penduduk Naha (cikal  bakal lahirnya Jemaat GMIST Bethesda Naha) sumber  arsip resort Tabukan  Utara


Tanggal  7 juni 1892 meletuslah gunung Awu. Pada  saat  itu  pelayanan  terhadap  gereja  dilakukan oleh  Pdt. C.E.W. Tauffman (1886-1896) menggantikan Pendeta C.J.L.M.  Schröder .  Sementara itu , pemerintahan  kerajaan  Tabukan dipimpin oleh Raja Corneless Siri Darea. Akibat  peristiwa  letusan gunung api Awu, pusat pemerintahan  kerajaan  dan pusat pengorganisasian gereja dipindahkan ke tempat  yang lebih aman yaitu Ênemawira. Seterusnya  Ênemawira  menjadi bagian  dari wilayah pemerintahan  kampung Benketang, dan sebagiannya  adalah  wilayah pemerintahan kampung Likuang. Pendeta C.E.W. Tauffman meninggal dan dimakamkan  diantara kampung Tabukan Lama dan Tarolang.  Saat  ini  makam  Pdt. C.E.W. Tauffman  dalam keadaan rusak  berat.

H.P.  MAKAMINAN  MAKAGIANSAR
Jogugu  Kampung Bengketang  akhir tahun 1800- awal  tahun 1900  
dimasa  pemerintahan Raja  Willem A.K. Sarapil.
Ayah  dari  Mayor (TNI)  Makaminan / komandan  Batalyon "M"  dalam  penumpasan pemberontakan permesta. Kakek dari  Prof.Dr. Makaminan  Makagiansar (Alumnus Harvard Univ, mantan Dubes RI di UNESCO-PBB)

Sejak meninggalnya Pdt. C.E.W. Tauffman, tugas  pelayanan dilanjutkan  oleh Pendeta  Gustaf Ferdinand Schröder  (anak  dari  pendeta C.J.M.L. Schröder) yang sebelumnya  melayani di Beo-Talaud.  Pelayanan rohani dilaksanakan  seiring  dan sejalan dengan kerajaan.  Pada  saat itu  pemerintahan  kerajaan dipimpin  oleh Raja David Papukulê Sarapil (David P. Sarapil  adalah  salah  satu  murid kesayangan  dari Pendeta C.J.M.L. Schröder).  Pada  masa itu  juga tepatnya tanggal 3 Juli 1893 didirikan Sekolah untuk  warga  gereja setingkat  sekolah  dasar yang  menjadi  cikal bakal SD GMIST Jerusalem Ênemawira.  Pihak  kerajaan dan gereja terus berupaya memajukan  pendidikan  rakyat  dan  jemaat dengan cara  mengutus para  pemuda  belajar di Aplarging School Siau dan Seminari Depok untuk menjadi guru  dan guru Injil. 
  
Seminari Depok (21 Agustus 1878[1]-1926) adalah sebuah seminari Kristen Protestan di   daerah Depok, Jawa Barat.[2] Seminari ini dikenal dengan nama Seminarie van Inlandsche Zendelingen.[3] Seminari ini didirikan oleh salah seorang pendeta Lutheran di Jakarta yang berminat pada usaha zending, yaitu pendeta J.A.Schuurman.[1] Bahasa pengantar yang dipergunakan di seminari ini adalah bahasa Melayu.[4] Direktur pertama seminari ini adalah seorang pendeta yang bernama PH. Henema.[2]

Di tahun-tahun  yang  sama, pihak  kerajaan dan  gereja mengupayakan  pembangunan  gereja di Ênemawira meskipun kekurangan  dana. Dengan  dana  yang  minim  berdirilah  sebuah  gereja yang pada  saat ini menjadi Gereja GMIST Jerusalem Ênemawira.

Gedung  Gereja di Ênemawira awal tahun 1900. 
Didalam  gereja  ini  terdapat  Patung-patung  Malaekat.



            Diperkirakan, pentahbisan  gedung  gereja Ênemawira, dilakukan  pada  tahun 1910-1911. Sesudah itu Pendeta Gustaf Ferdinand Schröder  dimutasikan ke Tahuna.  Tugas  pelayanan  kemudian  digantikan  oleh Pendeta G.Ten Brek  sampai  tanggal 3 Desmber 1918. Dimasa  pelayanan Pendeta G.Ten Brek  didirikan sekolah setingkat  Taman Kanak-Kanak (Frokel *Belanda) di Kampung Biru.( masa  pelayanan Pendeta G.Ten Brek    1911-1918). Selain  mendirikan  sekolah,  didirikan juga  Perkumpulan Dagang antar Jemaat. Pendeta G.Ten Brek  meninggal 3 Desember 1918  dan  dimakamkan di kampung Talengen.
            Tugas  pelayanan Pendeta G.Ten Brek  dilanjutkan  oleh  Pendeta F.N. Volle Koop  sampai  tahun 1921. Pendeta F.N. Volle Koop  kemudian dipindahkan  ke  Manganitu. Karena wilayah  pelayanan Tabukan semakin luas maka pada  tahun 1921, Comite  Sangihe  di Belanda  mengutus  Pendeta Y.E.E. Scherer untuk melayani  Jemaat di Tabukan Utara dan Pendeta  A. Thiola untuk  melayani Jemaat di Tabukan Selatan. Hanya beberapa saat, pada tahun 1922 Pendeta  A. Thiola kembali lagi ke Eropa  untuk mengobati  isterinya  yang sakit. Pelayanan untuk jemaat di Tabukan  Selatan  di  ambil  alih oleh Pendeta Y.E.E. Scherer.
            Pada  saat  itu Pendeta Y.E.E. Scherer  mendapatkan  bantuan  dari Zwittserland sebuah perahu  motor untuk digunakan melayani jemaat-jemaat di Tabukan Selatan.  Perahu  tersebut  kemudian diberi nama “Liung Kendage” yang berarti Berkat yang Melimpah.

 PERAHU  ZENDING  DAN PELAYANAN KESEHATAN 
"LIUN KENDAGE"


 
Tahun 1922 di gereja Ênemawira, Pendeta Y.E.E. Scherer menobatkan Willem Alexander Kakendage Sarapil  menjadi raja atas  Kerajaan Tabukan. Masa  pelayanan Pendeta Y.E.E. Scherer berakhir  tahun 1933 dan diganti oleh  Pendeta K. Marthin sampai tahun 1935.  Pelayanan jemaat selanjutnya  di gantikan  oleh Pendeta Daniel Brillman yang  sebelumnya  bertugas di Beo-Talaud (isteri dari Pdt. Daniel Brillman  adalah Ny. Schröder).




RAJA WILLEM ALEXANDER  KAKENDAGE  SARAPIL



Sejak tahun 1937,  secara resmi pelayanan rohani di kalangan GMIST mulai dilakukan  oleh orang-orang pribumi, meskipun sejak tahun 1921 sudah  ada orang pribumi yang  melayani di gereja Ênemawira.  Untuk pelayanan  di  Ênemawira  adalah  sebagai berikut : 1) Pdt. A.L. Andari, 1921-1929, 2) Pdt. J. Lahunduitang,  3) Pdt. M. Makahanap, 1932. 4) Pdt. D, Madonsa, 1933. 5) Pdt. S. Janis. 6) Pdt. U. Mokodompis, 1937-1939. 7) Pdt. E.Harinda,Pdt.J.S. Medellu, Guru jemaat A.H. Jacob, Guru jemaat P.H. Abram, Penolong Injil Hoper Mamuko, 1946-1976. 8) Guru jemaat. A. Malintoi, 1976-1978, 9) Pdt. S.A. Macpal,1978-1982. 10) Guru jemaat. A. Malintoi, 1982-1986 11) Pdt. J. Derek,S.Th 1982-1986 12) Pdt. Maitulung Mapia, S.Th. 1986-1988. 13) Pdt. Makasar, S.Th. 1988-1991. 14) Pdt. A.Dolongtelide, S.Th. 1991-1993. 15) Pdt. Pontoh Abast, S.Th 1994-1996. 16) Pdt. L.I.A. Mahino,S.Th. 1997- …..17)   Pdt. Ny. F.K. Palentein, S.Th.
            Berdasarkan  hasil seminar  dan kajian  sejarah  gereja GMIST  Jerusalem Ênemawira maka  ditetapkanlah  tanggal 31 Agustus 1863  sebagai hari lahirnya Jemaat Jerusalem Ênemawira.
Pada  tanggal   31 Agustus 2014  akan merayakan hari ulang tahun gereja ke – 151. Penyelesaian  penyusunan sejarah  Gereja GMIST Jerusalem dapat terwujud  atas kehendak Tuhan sang kepala Gereja dan dukungan  Informasi berbagai pihak,  bukan atas kemampuan satu  orang.
            Sehubungan  dengan peringatan  tersebut,  Pdt. Ny. F.K. Palentein, S.Th. selaku  ketua Jemaat dibantu  oleh wakil ketua jemaat . Pnt. J.H. Mangamis, S.IP (mantan camat  Tabukan  Utara) dan Sekretaris  Jemaat, Pnt, V. Sasundu, S.Pd merencanakan  pelaksanaan perayaan. Perencanaan  pelaksanaan kegiatan ini juga  dibantu oleh  panitia dan seluruh  Jemaat. Perayaan  dilaksanakan dalam ibadah Minggu dan  dilanjutkan dengan ramah tamah dan acara  hiburan  lainnya.




PENINGGALAN  BERSEJARAH  YANG  TERHUBUNG  DENGAN SEJARAH  GMIST JERUSALEM  ÊNEMAWIRA


MIMBAR  GEREJA


Bangku  Gereja. Umur   ± 140 tahun


Istana  Kerajaan Tabukan di…..????????



DOKUMENTASI  PERINGATAN 151  TAHUN  JEMAAT  JERUSALEM ENEMAWIRA, 2014

PERSIAPAN  IBADAH


KETUA  JEMAAT PERIODE 2014
Pendeta, Ny. Kobis Palentein, S.Th



 KUE  HUT KE-151,  pemberian  dari  Amelia  Kancil, M.Pd


Metty M. Walukow Bawelle, S.Pd.  Pimpinan Paduan  Suara  Pelka Permepuan dalam HUT - 151 - 2014
(Tengah-Seragam)



KUMAENG


Disarikan oleh : Alffian W.P. Walukow, S.Pd, M.Pd
Berdasarkan  Catatan Hasil Seminar  Berjudul “Menemukan Mutiara Iman di Pantai Pasir Putih”  dan sumber-sumber  lainnya.



Sumber  foto : koleksi  pribadi Alffian  Walukow, internet, buku-buku  tulisan lepas pemerhati  sejarah  sangir, koleksi  keluarga  kerajaan Tabukan, buletin corong,DLL.

Minggu, 24 Agustus 2014

DESTINASI WISATA KAMPUNG LENGANENG,KEPULAUAN SANGIHE,NUSA UTARA

SEJARAH  SINGKAT  KAMPUNG  LENGANENG

Upung  Bawelle datang  di kampung  Lenganeng sebagai  bagian  dari  pengembaraan, dengan tujuan lain  yaitu  membuka  lahan  pertanian  baru. Diperkirakan  masa hidup  Upung  Bawelle adalah  pertengahan tahun 1700. Ketika itu daerah Lenganeng  masih hutan  belantara. Upung  Bawelle berasal  dari  kampung  Lesa.
Bawelle adalah  salah satu anak  dari  Lahadagi.  
Lahadagi memiliki dua  saudara  kandung.
Konon, Bawelle adalah salah satu dari beberapa orang  pertama  yang  merintis perkampungan  Lenganeng. (bukan  penduduk  pertama).
Lenganeng berasal  dari kata  Daleng ( kata  dasar) atau Dalenganeng Yang  berarti  tempat yang  dilalui  tampa  lewat”. Diyakini, permukiman pertama  kampung  Lenganeng berada di  sekitar Gereja  GMIST  Syalom (sekarang). Ada  juga  yang  mengatakan  bahwa  perkampungan  Lenganeng pertama  terletak di Bowongdego di sekitar  rumah  dari bapak  A. Lumawang.
Marga  Bawelle diambil dari  nama leluhur yang  bernama  Bawelle  atau  Wawele. Dotu Bawelle mendirikan rumah di Bowongdego dan  tinggal  disana  bersama  isteri  dan anak-anak.
Upung Bawelle  adalah  orang  yang  sangat  sakti  dan  hidup  berdasarkan  keinginan hatinya. Banyak  tindakan  yang  dia  lakukan  tidak  berkenan dihati  sesama  manusia.
Suatu  hari  matilah  Upung Bawelle. Selama  dua hari jasad  dari  Upung  Bawelle  berada  dirumah,  selama  itu  pula keluarga  dan  kerabat  dekat  berkumpul.
Pada  hari  kedua terjadi mujizat, jari  tengah  pada tangan  kiri Upung Bawelle bergerak  sampai  kemudian ia terduduk. Ketika  terduduk,  Upung  bertanya, “ada apa, sehingga banyak  orang berkumpul dirumahnya.  Jawab isterinya ,  “ engkau sudah mati  dan hidup  lagi”.
Sejak peristiwa  tersebut, Upung  mendapat  pencerahan  diri  dari  yang  maha  kuasa, bahwa untuk  memperbaiki  hidupnya, upung  harus berbuat  kebaikan  dan  akan diberikan  kesempatan hidup  selama  25  tahun  lagi.
Mulailah upung melakukan  kebaikan  sehingga  ada kisah  yang  mengatakan bahwa jika  ada batu yang tersandung  pada  kakinya dia  langsung meminta  maaf  pada  batu  tersebut dan  memindahkan  batu  itu  ketempat  yang  tidak  dapat mencelakakan orang  lain. Setiap  saat, Upung selalu  menolong  orang  yang membutuhkan pertolongan.
Tahun ke-25  kesempatan  untuk berbuat  baik selesai  dijalaninya. Lalu  diperintahkannyalah sang  isteri  Nuru Mandike  untuk menyiapkan pakaian adat lengkap ( Pakaian  adat lengkap disebut Sanggelorang,terdiri dari baniang,poporong,ikat pinggang,dan parang adat/barak)
Setelah  selesai  menggunakan  pakaian  adat  lengkap, berangkatlah  Upung  Bawelle menuju  kearah  pantai Naha. Setibanya di pantai  Naha oleh  upung  dibukanyalah  ikat kepala dan  dibentangkan  diatas  air laut, dan  duduklah  ia  diatas ikat  kepala lalu  pergi dari  pantai menuju  kelaut, semakin jauh dan  semakin  jauh sampai hilang  dari  pandangan mata sang  isteri. Sejak  saat  itu  berakhirlah kisah  tentang  Upung Bawelle  dan   tidak  diketahui kemana arah perginya sang Upung.

            Diakhir tahun 1800,  kampung  Lenganeng  adalah  anak  kampung Tabukan Lama.
Lenganeng  kemudian memiliki  sistim  pemerintahan  desa dengan kepala desa yang memerintah   sebagai  berikut :
Tahun 1904 – 1906                             Suipanda ( pejabat  kepala  desa )
Selanjutnya  Lenganeng  memiliki  pemerintahan  definitif  dengan  kepala  desa  :
1.      Zadrak  Bawelle (Tembomitung)              1906-1928
2.      Thimothius Manamuri                               1928-1954
3.      Ali Adariku                                               1954-1963
4.      Permenas  Bawelle                                    1963-1965
5.      Desius Bawelle                                         1965 (tiga bulan)
6.      Samuel  Sabarara                                       1965-1966
7.      Jan Bawelle                                               1966-1967
8.      Daud Sasundu                                          1967-1968
9.      Jan Bawelle                                               1968 ( 1 bulan )
10.  Johar Sahempa                                          1968- (3 bulan)
11.  Daud  Sasundu                                         1968 ( 3 bulan )
12.  C.P. Makahenggeng                                  1971-1972
13.  Norman Ruitan                                         1972 –
14.  Stephen Manoppo                                     sedang  menjabat.
15.  H.O. Sasundu
 
DESTINASI WISATA
Air terjuan  Apapuhang adalah  salah satu destinasi wisata  terdekat  dari kota  Tahuna. Selain  sebagai wisata  alam, air terjun  Apapuhang  juga  memiliki nilai Histori yang berhubungan  dengan Legenda  kehidupan  mula-mula  di  kepulauan Sangihe. Air terjun apapuhang adalah salah  satu  air  terjun  yg  dianggap  unik  karena  berada  dipuncak. Destinasi  ini didukung oleh area  wisata puncak Lenganeng, wisata kerajinan  Pandai Besi, aktifitas  budaya  agama Islam Tua, kuburan  komunitas  orang  China Sangihe, dan agro wisata. Kampung  Lenganeng  juga  memiliki  tim kesenian seperti Tari Gunde, Salo, Upase, Hadrah, Ampa Wayer, dan Musik Bambu.