Jumat, 04 April 2014

Proses Pembuatan Musik Tradisional Sangihe, jenis "Arababu" di SMP Neg. 5 Tabukan Utara.

Proses Pembuatan Musik Tradisional Sangihe, jenis "Arababu" di SMP Neg. 5 Tabukan Utara.
   



Penelitian tentang  musik  ini telah  dilakukan  oleh  banyak ahli dan  pemerhati lokal dan beberapa  pakar  etnomusikolog  dari Indonesia  maupun  luar   negeri. Mengol─»  adalah  suatu kegiatan  memainkan  alat  musik yang  dinamakan musik lide. Latar belakang permainan musik  ini adalah  sebagai media penghubung manusia dan  sang  penguasa  alam. Disamping  memainkan  musik ,terdapat  satu  orang  perempuan  yang   menyanyi dengan isi syair pantun  (dalam  bahasa sangihe disebut  papantung, medenden).  Musik  lide terdiri dari sekumpulan  alat musik  tradisional  Sangihe yang dimainkan  secara  bersama oleh penganut  kepercayaan sundeng. Musik  ini  sudah  ada bersamaan  waktunya  dengan    kerajaan  mula-mula  di  kepulauan  sangihe tahun 1500 – an. Kesenian  ini  lahir  sabagai  bagian dari  ritual m├¬sundeng.


1.         Jenis alat  musik lide
Musik  lide  terdiri  dari beberapa jenis  alat musik yang pada musik melodis memiliki unsur 5  buah  nada   yaitu : do,re,mi,fa,sol.
a.             Alat musik  melodis atau  alat yang  mengantar  melodi  pada  lagu.
·                Arababu dan  alat  penggesek.


·                Bansi,  alat  musik   melodis


b.             Alat  musik  ritmik.
·                Sasesaheng


·                Salude




·                Oli


 


2.        Jenis lagu pada  musik  lide.
Musik   lide   terdiri   dari  8  jenis  irama lagu purba. Jenis  irama lagu  purba yang  masih  ada dari  antara  8  lagu  purba adalah :
1. Lagung lide
2. Lagung laogho u  lendu
3. Lagung elehu ake
4. Lagung sangi  u  wuala
Lagu  yang  sudah  punah  diantaranya adalah Ondolu Wango.
Hal ini disampaikan  oleh  nara  sumber, pemain dan pembuat  alat dikampung  Manumpitaeng bernama  Umbure Kalenggihang. Menurut bapak Malomboris (pemerhati  music  lide dari kampung  Manumpitaeng) lagu yg  sudah  dinyatakan  punah masih  dapat   dimainkan  oleh Bapak  Umbure tetapi  belum  saatnya  diajarkan.  Hal  ini mungkin  berhubungan  dengan  sistem  pewarisan  pada  Agama  Sundeng. Menurut bapak Malomboris, pemerhati  budaya lide dari Manumpitaeng mengatakan  bahwa selain lagu, terdapat  juga tari pada  ritual sundeng yang   sudah  dinyatakan  punah, tari  tersebut bernama  Tari  lide.
Jenis irama  lagu, pengembangan dari  lagu  purba diantaranya  adalah :
1. Lagung bowong buas
2. Lagung baling
3. Lagung sahola
Setiap  jenis  lagu   memiliki  latar  belakang  penciptaan  yang  berbeda. Yang  unik  dari  irama  musik  lide  yaitu :  irama  musik  lide sudah  diturunkan secara  turun-temurun  tanpa  perubahan secara   signifikan. Perbedaan  musik lide hanya  terdapat pada tempat dimana  musikc itu dikembangkan. Irama lagu   musik  lide di  daerah  sekitar   Pulau  Mahumu hanya   menggunakan  3  irama lagu   sementara  didaerah  lain  menggunakan 4  irama lagu. Musik  lide  merupakan  paduan  dari  beberapa  jenis  alat  musik  seperti : Oli,Bansi, Arababu,salude  dan Sasesaheng yang  dimainkan  secara  bersamaan menjadi sebuah  ansambel. Permainan   music   ini  sering  juga  di padukan  dengan  vocal / suara  manusia.  Syair  lagu  yang  dinyanyikan kebanyakan bertema permintaan  yang  memiluhkan, hasil  dari  penderitaan yang berkepanjangan. Pada  perkembangan  salanjutnya Musik  lide mulai  dipadukan  dengan  gong atau dalam  bahasa  sangihe  disebut  Nanaungang. Kegunaan gong  adalah  pengendali  tempo lagu.

3.         Filosofi  dan  pemaknaan lagu  purba pada  music  lide.
Dari  keempat  jenis  lagu  yang  ada,  pada  dasarnya  mempunyai  nuansa kepedihan. Lagu  lide  merupakan lagu  inti atau  lagu pembuka  yang  dapat  menyertai  penyembahan  agar cepat  sampai  kepada  sang  penguasa alam dalam  bentuk  permohonan. Lagu  Elehu ake : mengetengahkan  tentang  bentuk  permintaan  dan  permohonan  seperti air  yang  mengalir.Lagu Sangi U Wuala : arti  sangi  u  wuala  adalah Tangisan  Buaya. Dimasa  lalu masyarakat  sangihe  meyakini  adanya  Upung (leluhur) Manusia  dan Upung (leluhur) Buaya. Upung  buaya berjalan  dengan  dua kaki menggunakan  ikat  kepala  merah. Upung  buaya  ini  memiliki  kekuatan  yang  sangat  sakti  sehingga  apa  yang  dia  minta  harus  diberikan. (wawancara  dengan  bapak G.  Makamea,2007). Jika permintaannya  tidak  dipenuhi  maka  akan ada  korban yang  ditelan. Lagu  sangi  u  wuala berkisah tentang ancaman  terhadap  kehidupan  manusia yang   digambarkan sebagai  rupa  Buaya. Ancaman  tersebut telah  membawah umat  pada  kesedihan  yang  berkepanjangan. Lagu  Laogho u lendu,lagu  lendu diambil  dari  nama  salah  satu  jenis   burung  yang  hidup  di sangihe. Burung  ini   adalah  satu-satunya  burung    dalam  kehidupan  budaya  sangihe yang  dianggap  sebagai perpanjangan tugas  penguasa  alam. Tugas  burung  lendu  yang  paling  utama  adalah  memberikan  tanda  tentang  kematian kerabat  terdekat. Selain   lendu  ada  juga  kaliyaow yang  meberi  tanda  akan  kehadiran  kerabat  dekat  dari  tempat  jauh.


4.        Salah satu bentuk  lagu  pada   musik  lide

Komposisi Lagung  Lide

































Gereja GMIST Jerusalem Enewawira, Peninggalan Penginjilan Zendeling Tukang Pdt. Schrooder di Pulau Sangihe.

Gereja GMIST Jerusalem Enewawira
Peninggalan Penginjilan Pendeta  Schrooder di Pulau  Sangihe 

 Dimasa lalu,  tempat duduk  ini hanya  boleh  di gunakan  oleh Raja dan keluarganya.
Tempatduduk  ini  hanya  boleh  digunakan  oleh  bangsawan  atau  kroni  kerajaan atau  tamu khusus.

Latihan  Paduan  Suara Pelka  Perempuan oleh. Ibu. Metty Meike Baewlle, S.Pd
 

Minggu, 02 Maret 2014

MERAJUT CINTA LELUHUR Upung Ghagurang Yg Hampir putus.



CINA SANGIR, ethnis sangir, sub etnis  sangir  atau sub etnis cina sangir.
     Suatu  malam di tahun  2004 saat  libur  sekolah,  saya dan  seorang  nelayan  pergi  melaut menyusur pantai Bahoi  sampai  ke  ujung  pantai  Tamako lalu mengarahkan haluan agak  ke kanan. Semakin  jauh bersauh, malam semakin  gelap. Cahaya  lampu dari pulau  sangihe tak lagi  kelihatan. Perahu Pamo yang  kami  gunakan  sudah  usang, kurang  laju. Mesin dompeng buatan  China  sebagai  pendorong  juga  sudah  tua. Kira-kira dua jam  kemudian, perahu  yang  kami gunakan  berpapasan  dengan  sebuah  perahu  yang  lebih  besar. Samar  terlihat  dalam gelap, ternyata sebuah  perahu  pajeko.
Ombak yang  makin  kencang  mempersulit  perahu yang  kami  gunakan untuk saling merapat. Satu  jam kemudian melalui  sebuah  usaha yang  bukan   gampang, dua  perahu ini  saling  merapat. Tiba-tiba saya  di perintahkan pindah ke perahu  pajeko dengan  alasan   ombak  makin  besar. Dua  orang  dari kapal  pajeko  menarik  tangan  saya untuk  bisa pindah ke perahu  pajeko. Dengan  bantuan  dua awak dan seutas  tali, saya  berhasil  pindah. Oleh  dua  orang tersebut  saya  diarahkan  ke haluan. 
Dihaluan nampak  beberapa  orang  awak sedang  tidur.  Pelayaran  di  lanjutkan  lagi dengan  haluan  yang  berbeda. Dengan bias  cahaya  dari ruang  kemudi, nampak  seorang  awak bangun dari  tidur  lalu  duduk  bersandar  di kumpulan  tali. Tak jelas  apa  yang dilakukan, tiba – tiba  ada cahaya  api  di  balik kaos, ternyata  sedang menyalakan  rokok dengan  pemantik gas. Saya berpindah tempat berdekatan dengan awak tersebut lalu menyapa. Sambil  menunggu waktu tiba di lokasi  penangkapan ikan, banyak hal yang  kami bicarakan. Satu  hal yang menarik  dalam  percakapan  tersebut  adalah, sang nahkoda  adalah  seorang tionghoa. Si awak  kapal mengatakan “ko (panggilan terhadap orang china) adalah  pemilik  kapal tersebut”, sebagai taghuang.
Hari makin terang, dari percakapan  nahkoda  dan  awak yang  saya simak ternyata  lokasi  yang  akan dituju kurang  jelas. Meskipun lama menentukan  haluan, sampai  juga ke tujuan. Perlengkapan penangkap ikan  mulai diatur. Jaring  yang  sangat panjang  sudah  di lepas mengitari sebuah rompon. Terdengar  teriakan, “tariiiiiik!!!!!!”. Jaring yang  sangat  panjang  itu di tarik, betapa menakjubkan, ikan-ikan  yang  tersangkut begitu  banyak. Saat jaring mulai habis ditarik kelihatan  sebuah  perahu  pamo  mendekat ke perahu  pajeko. Dari ruang kemudi keluarlah  seorang  bapak, yang  ternyata adalah  teman  saya  di perahu   semalam. Terdengar  lagi teriakan,  “lempar jo”. Lalu  beberapa  awak melemparkan  ikan  dari perahu  pajeko ke  perahu  pamo. Tidak  terhitung  berapa banyak ikan  yang  di  pindahkan  ke  perahu  pamo. Sesudah  itu,  saya  dipindahkan  lagi  ke perahu  pamo.
Dalam  perjalanan  pulang, saya  di  tugaskan oleh  pemilik  perahu pamo  untuk  mengemudikan  perahu. Semakin  jauh  perjalanan, pulau  sangihe  mulai  kelihatan. Pemilik perahu yang  juga merangkap  sebagai  nelayan menunjukan arah  tujuan. Setelah  menyampaikan  penjelasan sejelas-jelasnya, pemilik perahu  pamo  tersebut  lalu  tidur. Dengan kemudi  ditangan kanan dan rokok di  tangan kiri, saya mulai  mengarahkan perahu. Dalam perjalanan pulang  itu  saya  mulai bicara dalam hati, apa mungkin nelayan Sangihe bisa punya perahu seperti milik  ko’?.

**
            Setibanya  di pantai, kami  merapatkan  perahu ke tali  jangkar (jangkar  tanam). Setelah  membersihkan  perahu, saya pun  pamitan lalu  pulang ke rumah.  Dengan  senang  hati saya  pulang,  karena diberikan se ember ikan. Dari pengalaman  di laut  itu muncul sebuah pertanyaan, bagaimana  mungkin seorang  tionghoa  yang tidak dilahirkan sebagai  nelayan  tapi bisa  menjadi  nelayan dan  menguasai  sebuah  bisnis  penagkapan ikan  yang  berkelas. Sementara  disisi  lain orang-orang  sangihe yang  tinggal dipantai, lahir  dan  di besarkan  sebagai nelayan harus  berkutat  dari  perahu  bolotu ke perahu  pelang dan  dengan  susah  paya membuat  perahu pamo untuk  meningkatkan kesejahteraan hidup tapi  Cuma bermimpi  untuk membuat  pajeko.
            Hari  selanjutnya disetiap  hari libur, saya mulai melakukan  perjalanan  keliling pulau sangihe  dari  desa  ke desa. Daerah yang dijadikan  target adalah desa yang  terdapat  komunitas  tionghoa “tua”. Mereka  adalah  beberapa orang china  yang sudah  ada di sangihe “mungkin” seumur dengan lahirnya  sangihe (1425). Merekalah  yang sering di sebut  sebagai  orang  perancis “ peranakan china  sangir”. Berdasarkan beberapa  wawancara  langsung  dengan beberapa orang diantara  mereka dan  warga  sekitar, ditemukanlah  sebuah kepastian  bahwa  mereka adalah orang  sangihe  yang  hanya di bedakan oleh bentuk  mata  dan warna kulit. Mereka  hidup  selayaknya  orang  sangihe, mulai dari  kebiasaan makan dan  cara  berbahasa.
            Tempat-tempat  di pulau Sangihe dan Pulau Siau yang  terdapat  komunitas  china diantaranya adalah Tahuna, Manganitu, Kauhis, Lebo, Belengan, Tamako Soa, Pananaru, Dagho, Laine, Lapango, Ngalipaeng, Kuma, Peta, Tabukan lama, Naha, Sawang jauh, Tariang lama, dan “Kendahe”. Komunitas tionghoa terbesar di pulau sangihe adalah di Peta, Tahuna dan Kuma. Sedangkan komunitas tionghoa terbesar di Kepulauan Sitaro terdapat di Ulu, Ondong, Bahoi  Taghulandang, dan Pulau Para.  Mereka  hanya  dikenal  dengan  sebutan Cina Peta, Cina Kuma, Cina Tamako dan Cina Siau.
Banyak  cerita yang  diperoleh  dari  kisah  masuknya orang  tionghoa  ke  sangihe berdasarkan tutur mereka,  secara umum  persebarannya ada  tiga  yaitu : datang  langsung  dari China  daratan  dan Taiwan, dari Philliphiness dan  dari Manado. Proses  kedatangannya  ada tiga cara  yaitu : terdampar, datang  langsung tanpa tujuan, dan datang  langsung untuk  berdagang. Proses kedatangan  terbanyak  adalah  melalui  hubungan  dagang  antara  Pilipin dan  Sangihe. Daerah tujuan  terbanyak  adalah  Peta kecamatan  Tabukan  Utara.
Berdasarkan penjelasan  beberapa  nara  sumber, mengatakan  bahwa  nenek moyang  mereka melakukan  pekerjaan  apa saja  termasuk pekerjaan  yang tidak  dapat  dikerjakan  oleh  orang  sangihe seperti memperbaiki  jam  tangan, membuat  sandal (jenis klom atau terompah). Banyak  diantara  mereka  yang datang mula-mula  adalah  kaum  laki-laki. Sejak  saat  itu terjadi  proses  kawin  dengan  gadis-gadis  pribumi sangihe.
Kehidupan berbudaya  mereka  seolah terlepas dari budaya  sangihe, karena mereka  masih memegang teguh  budaya dari tempat asal  mereka. Kaum   tionghoa  mula-mula ada  yang  menganut agama  Islam,  sejak  masuknya Eropa  di kepulauan sangihe  di  kisaran waktu tahun 1400-an sudah  ada yang  menganut  agama  kristen. Eksistensi kaum  Tionghoa sangihe  tergambar  dalam  aktivitas  dagang  terbesar  di kampung Peta, Tabukan  Utara. Selain  aktivitas  dagang, pada  kurun  waktu 1940 sampai  1950-an telah  didirikan  sebuah  sekolah untuk kaum tionghoa setingkat sekolah dasar di Peta bernama Pue Cae Hang Hau dengan  kepala  sekolah  dan  wakil kepala sekolah yaitu Bpk. Lao su dan Lao u.  Untuk meningkatkan mutu pembelajran, pengurus sekolah china mendatangkan  guru  dari Taiwan.  Saat ini mereka juga  beperan  besar  dalam  pembelian hasil bumi sangihe mulai  dari  biji pala, fuli, kopra termasuk  penangkapan ikan  berkapasitas besar, bisnis  transportasi  laut antar  pulau Sangihe – Manado – Bitung – Maluku – Sulawesi tengah – Gorontalo – Talaud – Philipina.  Pemasok  barang-barang dari Philiphina, pertokoan, perumahan, suplaier  bahan pokok, pompa minyak, sarang walet, dll.  
Pemukiman  komunitas Tionghoa  terbesar  terdapat di Kampung Peta, Tahuna  dan  Ullu Siau. Meskipun  mereka  tinggal diantara  kaum pribumi,dilahirkan dari rahim perempuan sangihe tapi belum nampak dengan jelas peran kaum  Tionghoa  dalam  pengembangan  budaya sangihe  secara langsung. Atau  mungkin  hanya  sebatas  mendonasi  kegiatan  kebudayaan. Di Tahuna, kaum  Tionghoa  memiliki  organisasi sosial  sendiri yang dinamakan Rukun  Kasih, mereka memiliki  lahan  pekuburan sendiri yang  cukup mewah di Kampung Lenganeng Kec. Tabukan Utara.
Dalam  beberapa  cerita, dimasa lalu kaum  Tionghoa  juga  memiliki tempat  pemandian  sendiri di desa Tabukan Lama yang  dinamakan  “ake Tau Sina” (air  orang china). Konon  dari  beberapa informasi memaparkan  bahwa  orang Chinalah yang meberikan  nama  pertama kali  terhadap pulau  Sangihe. Ada  juga  marga  sangihe yang  berhubungan  dengan china  yaitu “Kasilinsina”  (bahasa  sangihe = Belut China/atau pangeran china), ada  juga  jenis  bambu  yang  dinamakan  kalaeng sina (bulu china). Ada  satu  kompleks  pertokoan di Kota Tahuna  yang pemiliknya  semua  orang  china  yaitu  di Jalan  Makaampo. Di kompleks  pertokoan  tersebut  tidak ada pribumi Sangihe. Selain  komuniats  china  ada  juga pemilik toko  dari  warga  keturunan  Arab, Jawa, Bugis, dan  Gorontalo. Sebagian  kecil  pedagang pribumi hanya  berjualan dilantai  satu “Mini Mall”, dan yang  lainya  berdagang di pasar towo dan pasar  pelabuhan tua dengan menggunakan meja  dan “ba alas”.
Kesenjangan  telah  nampak di mata. Hal ini seperti sebuah  fenomena  yang  tidak  hanya  terjadi di pulau  Sangihe tetapi juga  didaerah lain di  Indonesia. Bercermin   dari  kenyataan  dan  belajar  dari  jalan  sejarah,  kaum  Tionghoa memang  memiliki  etos  kerja  tinggi, hemat, berani  berspekulasi, mau maju, dan sebagainya. Hal positif  ini  yang  perlu di timbah. Dikemudian hari dalam kehidupan  bersosial, terdapat  pembatas  yang sulit di tembus  oleh  pribumi. Satu-satunya  hal yang  bisa  mempersatukan  mereka  dengan pribumi  hanya  terjadi  dalam  atifitas  keagamaan kristen  maupun islam.
Banyak  tanah  adat yang  sifatnya  pasini telah beralih  pemilikan  melalui   proses jual  beli  ataupun jaminan piutang  pribumi  kepada kaum  tionghoa. Tidak  dapat ditolak, semua  terjadi karena  tuntutan kebutuhan  hidup. Alih pemilikan  tanah  juga  terjadi  di  tanah-tanah  wakaf seperti  yang terjadi  di tanah  milik  GMIST di kampung  Gunung kecamatan  Manganitu. Ada sebagian  lahan  sudah  dimiliki oleh  orang  tionghoa, apakah  melalui  proses  jual  atau  sebatas guna usaha,  yang  jelas  telah  berdiri sebuah rumah  walet di lahan  GMIST.  Apa  mungkin  kaum  pribumi  sangihe  mampu  mendirikan  dan mengelola  rumah  walet????. Panjang pulau Sangihe  dari  utara  ke   selatan  kira-kira  60 km, jika  setiap  tahun ada  tanah  adat  yang  beralih  kepemilikan ke kaum  tionghoa dan kaum  pendatang  lainya maka  bukan  tidak  mungkin  tanah yang  sekecil  ini hanya  akan  menjadi   cerita bagi  anak cucu dan  semakin terseraklah  bangsa  sangihe.
Banyak orang terkadang tidak  menyadari  bahwa aturan adatlah yang memberikan ruang  terhadap nilai-nilai kebangsaan.  Tau” sangihe mengakui bahwa, siapapun mereka  yang datang dan tinggal  di  sangihe sudah  dianggap  sebagai  orang  sangihe dalam  prinsip kebinekaan. Hal  tersebut didukung  sepenuhnya  oleh  budaya  matengkang, mahunggene, rasa kerene, dan lain-lain.  Kenyataan yang  terjadi kini, tradisi-tradisi sangihe “mungkin” terlalu mengikat  perasaan sampai menerima  apapun yang  akan terjadi. Diyakini  bahwa  tidak semua  kaum tionghoa  sangihe  telah  mencapai kemapanan hidup  berdasarkan  standar  kesejahteraan yang  layak. Ada  juga kaum  tionghoa  sangihe  yang  kehidupannya  terpuruk.  Tapi  bila  dibandingkan  dengan kaum kehidupan  “tau” sangihe yang  hidup  “apa adanya” di tepian pantai, di pulau-pulau  kecil, didalam hutan diantara  perkebunan kelapa, dan  pala memang  sangat menyentuh  hati.
Seandainya ada satu masa  kekuasaan  yang lebih  jujur berpihak  pada  pribumi dan  meyakini  bahwa  kaum pribumi  bisa  sama  dengan  kaum  pendatang  yang  sudah  berhasil, pasti  tidak  akan  ada  kecemburuan. Memang  benar  bahwa  bantuan  kepada masyarakat  sudah  banyak  dilakukan  olek  kekuasaan  dalam  bentuk uang atau bentuk yang lain, tapi  hal  itu  ternyata belum bisa merubah  keadaan. Ada apa?????. Mungkinkah  keadilan  sulit  dicapai. Masyarakat  yang  merasa perlu  diadvokasi tapi tidak  banyak yang tersentuh. Mengeluh  kepada wakil  rakyat  sesuatu  yang hanya  mimpi, sebagian  besar  wakil  rakyat  bukan lagi  “tau” sangihe  asli, beberapa  wakil rakyat  adalah keturunan  Jepang, Tionghoa, Arab, Jawa, Bugis dan Minahasa. Lalu  kemana  harus  mengadu!!!!!. 
Dengan  banyaknya  permasalahan  sosial  yang  terjadi, ujung-ujungnya terpanahlah  dendam kepada  kaum tionghoa, dan pasti mereka  akan jadi  tumbal.  Dari  sekian  banyak  kaum  tionghoa  yang  lahir  dari rahim  perempuan  sangihe kemudian merubah hitam  jadi  putih ada  juga  yang  dengan  gigih  menggali  dan  mengembangkan  kebudayaan  sangihe. Tersebutlah  ko’ Sun I dan Ibu  Manangkalangi  dari Kendahe yang  mengabdikan  dirinya  untuk  pengembangan  kebudayaan.  
to be con,............