Senin, 30 Juni 2014

PESPARAWI PELKA PEREMPUAN GMIST DI TAGULANDANG, BUAH IMAN YANG SEDANG MATANG



PESPARAWI  PELKA PEREMPUAN GMIST  DI TAGULANDANG, BUAH  IMAN  YANG SEDANG  MATANG

                 Gereja  GMIST  Imanuel Balehumara, awal  pekerjaan  Injil  Hamba  Firman Pendeta Fredrich Kelling. Utusan  Injil  Tukang Belanda

Pesparawi Pelka  Perempuan Sinode GMIST  adalah  salah  satu kegiatan kesenian bergengsi  yang  dilaksanakan  di kepulauan  Sangihe. Ajang  ini  sudah  lama  dilaksanakan  setiap empat  tahun. Untuk  tahun  2014,  kegiatan pesparawi  dilaksanakan di  Resort  GMIST  Taghulandang dengan  pusat  kegiatan di Gereja GMIST Imanuel Balehumara. Pelaksanaan  lomba di laksanakan  tanggal 27-28 Juni 2014.
                Masyarakat  dan  Jemaat di  Taghulandang, menyambut baik pelaksanaannya. Hal ini  mulai dirasakan  saat kapal  yang ditumpangi   peserta lomba dari  pulau  Sangihe mulai memasuki pelabuhan Taghulandang. Nampak  masyarakat dan jemaat sudah  menunggu. Setibanya di pelabuhan  Taghulandang, kontingan  paduan suara dari pulau  sangihe  dijemput dan  diantar  menuju ke penginapan   dengan  kendaraan khusus  yang telah dipersiapkan oleh panitia lokal.
                Pelaksanaan lomba paduan suara dilaksanakan  selama  dua  hari, yang  diklasifikasikan  dalam  dua kategori  yaitu Seri A  dan Seri B.  Kategori  Seri A diikuti  oleh 8 kelompok Paduan suara  dan Seri B diikuti oleh 18 kelompok Paduan Suara. Pengurus  Pelka  Perempuan Sinode  telah  menetapkan  juri  sebagai  berikut : 1) Markus Borang, S.Pd. Anggota jemaat  GMIST Kendaghu Ruata  Tahuna. 2) Hendrik Apelia,S.Pd. juri  dari Manado asal Tamako. Dikson Bawengket, juri  dari Manado asal Talaud.
Setelah  berkompetisi, diperoleh  hasil yaitu : Peserta  terbaik di Seri A  adalah  Paduan suara  Pelka Perempuan Jemaat GMIST Betlehem, resort Tahuna  dengan  pelatih   dan dirigen  Dra. Sentinuwo Tambaru. Peserta terbaik  Seri B adalah  Paduan suara Pelka  Perempuan  Jemaat GMIST  Kendaghu Ruata, resort Tahuna dengan  Pelatih Markus Borang,S.Pd dan dirigen Ny. S. Borang Haling,S.Pd.
Secara   umum  pelaksanaan  lomba di Tagulandang  sangat  berhasil, tapi ada   beberapa  hal  kecil yang  dapat dijadikan  pembelajaran  dari lomba  di Taghulandang  yang  bisa dijadikan rujukan  untuk  kegiatan lomba  selanjutnya dan untuk  kemajuan  berkesenian di kepulauan  sangihe. Sebagai sebuah kegiatan yang besar, beberapa kekurangan masih terlihat  pada  kegiatan  lomba  pesparawi di Taghulandang, yang  perlu di kaji  dan diperbaiki, yaitu :
1.       Kenyamanan  peserta  lomba  di penginapan.  Ada beberapa lokasi   penginapan  yang   merasa tidak nyaman  saat  mengadakan pematangan  latihan akhir  karena  terganggu oleh  suara  musik  yang  dipasang  oleh  masyarakat sekitar penginapan menggunakan  sound system yang besar  dan  sangat  nyaring sepanjang hari.
2.       Angkutan umum. Panitia  hanya  menyiapkan   angkutan untuk anggota  paduan  suara, sementara  itu  tidak  ada  angkutan umum yang  beroperasi malam. Angkutan  umum  berguna  untuk  angkutan  official paduan   suara yang  akan  hadir di  tempat  lomba untuk memberikan suport. Tugas  official  untuk  kegiatan  antar  pulau  sangat  penting, mulai  dari membantu  paduan suara  mengangkut  bahan  logistic  dalam perjalanan, sebagai koki,  juru  rias, sebagai  orang  belakang layar yang  membantu  membawa property. Para  official  mengeluh  karena  ada  beberapa  penginapan  yang  jaraknya  2 km  dari lokasi   pelaksanaan lomba yang  harus ditempuh  dengan  jalan kaki dimalam hari.
3.       Jarak   antar  ruang  persiapan  terlalu  jauh.
4.       Konsep  tata  panggung. Seharusnya  disediakan  panggung  bertangga, karena  ada  dua formasi tampilan yaitu  berjajar dan  fariatif.  Jika  berjajar   tanpa  tangga, menyulitkan  peserta  paduan  suara melihat  Dirigen. Warna lantai panggung, background  panggung  sebaiknya  jangan  sama  dengan warna  seragam Pelka Perempuan GMIST.
5.       Lighting.  Pencahayaan yang  baik  untuk  pentas bukanlah  cahaya  yang  terang  tetapi   harus  menyejukan dan  menjadi alat  bantu  pementasan. Pencahayaan  lampu  di Tagulandang menggunakan  bohlam  mercury dalam  1000 watt  menyilaukan  mata  peserta   paduan  suara  dan membuat  gerah.  Pada  umunya peserta  yang  turun  panggung “basuar  minya” kepanasan. http://deffygates.blogspot.com/p/peralatan-tata-cahaya


 

6.       Transportasi  laut.  Penggunaan  transportasi  laut pada  lomba di  Tagulandang  mungkin  kurang menjamin  kenyamanan  dan keselamatan. Menggunakan  kapal  penyeberangan adalah  keputusan  yang  diambil  supaya  murah. Kenyataannya  banyak  kaum ibu  muda  harus  membawa anak-anaknya  yang  masih balita. Sementara  itu  para  penumpang digelar begitu rapat sehingga  hampir  tidak  ada  celah  untuk  bergerak diantara bahan-bahan logistic. Setiap  kelompok  paduan  suara  membawa  serta   kurang  lebih  lima puluh  personil dan diperkirakan yang  menumpang  dari  Tahuna  ada  kurang lebih 1000-an   orang. Bersamaan  dengan itu  terdapat  juga  bahan  dapur seperti, beras, ubi, pisang, sagu, sayur mayur, lauk pauk, minyak tanah dan lainnya.

 Peserta Lomba  Paduan  Suara Pelka Perempuan  dari  Pulau  Sangihe  dalam  pelayaran  menuju Pulau Tagulandang.  Sungguh   sebuah   pelayanan  firman  yang  berat.

7.       Penjurian. Bahwa  yang  hadir  dalam  kompetisi  ini  bukanlah orang-orang yang tidak tahu  tentang  music.  Masyarakat  Sangihe  terkenal  dengan  kemampuan  musikalitas  yang tinggi. Apa  yang dijelaskan  juri  saat  selesai lomba,  sangat  dipahami oleh  peserta,pelatih, official  dan  jemaat  lainnya.  Ada  beberapa  penjelasan  yang  tidak  sesuai  dengan  kenyataan  yaitu ; 1)  Lagu  Mars dan  Hymne  Pelka  perempuan  Cipt. Markus  Borang S.Pd, telah disebarkan rekaman  standarnya  oleh  sang  pencipta  lagu  melalui  Pelka Perempuan sinode GMIST  sejak  lomba yang sama tahun kemarin di resort Siau. Implementasinya,  banyak  kelompok yang  menggunakan  standar  itu  tetapi disalahkan  oleh juri. 2)
             Lagu “Memihing  Kalendesang”  yang dibawakan  oleh  Pelka Perempuan Jemaat Dagho  dianggap  telah  diperkosa  oleh  pelatih  Hendrik Jarang, meskipun  public  tahu  bahwa  lagu  tersebut  bukan  ciptaan  para  juri. Lagu  “Memihing kalendesang” arransmen  Markus  Borang yang  dibawakan  oleh  paduan  suara  Pelka Perempuan Dagho telah dinyanyikan pada  lomba  sebelumnya di Siau dan   tidak  di diskualifikasi. Sesungguhnya  seseorang  yang  mengaransmen  lagu  bukanlah  pemilik  hak  atas  lagu, jika  lagu  itu bukan  ciptannya. Pemilik hak  penuh  terhadap lagu  adalah  pencipta  atau  pemilik  hak  cipta  berdasar  hukum. Suatu  hari  nanti  mungkin  perlu  adanya  komisi  music  Gereja  GMIST  yang  memprogram  dan  menkontrol  kegiatan  seperti  ini.
8.       Hak   cipta.  Lagu-lagu  daerah Sangihe yang dinyanyikan  dalam  berbagai  lomba,  pada  umunya  belum  berkekuatan hukum  sebagai  Hak  Kekayaan Intelektual pencipta  lagu  Sangihe dalam  proses  hak  cipta. Dengan  keadaan  itu,  banyak lagu telah diaransmen tanpa  pemberitahuan kepada pencipta  lagu pemilik  hak cipta  dan  orang  lain yang  memiliki  hak  atas  ciptaan tersebut. Hal  ini  merupakan  sesuatu  yang sangat  sulit direalisasikan.  Karena  jika semua  lagu  ciptaan  orang  sangihe di hak ciptakan maka  memerlukan  biaya  yang  sangat  banyak. Semisal  lagu  masamper, ada  banyak  pencipta  lagu  masamper  yang  tersebar  di kepulauan  sangihe,  dalam  setahun  ada puluhan  lagu  yang  muncul   dalam  lomba dan  tidak  memiliki hak cipta  secara hukum. (UU.No.19  tahun 2002). http://www.dgip.go.id
9.       Ziarah  sejarah.  Gereja  GMIST  Imanuel Balehumara merupakan  salah  satu  gereja  tertua dari  beberap Gereja Protestan mula-mula Sangihe yang umurnya  hampir dua ratus tahun. Gereja  lainnya  yang  seumuran  dengan Balehumara   berdasarkan  proses penginjilan protestan awal  yaitu Gereja GMIST induk ULU, Gereja GMIST induk Manganitu, Gereja GMIST induk Tamako, Gereja GMIST induk Enemawira, dan Gereja GMIST induk Lirung  (tidak  termasuk  gereja GMIST Imanuel  Tahuna yang umurnya  menjelang  500 tahun hasil dari  penginjilan  lain).
Ada kurang lebih 1500 warga jemaat dari  pulau  Sangihe yang  datang di Tagulandang dalam kegiatan tahunan GMIST . Kegiatan  ini  sudah  terprogram dengan baik. Alangkah baiknya, disediakan  waktu  untuk  ziarah  ke makam penginjil Fredrik Kelling  sebagai penyebar  injil  mula-mula  di  Tagulandang. Tujuannya  untuk  lebih  memperkuat pengetahuan  sejarah  gereja sebagai  bagian  dari  penyebaran  injil Tuhan dan sebagai salah satu pupuk  terhadap  pertumbuhan  iman.

                  
                        Makam  Pendeta  Friedrich Kelling  di Pulau  Taghulandang, ditempat yang sama  juga dijadikan  makam  keluarga  Tindas

             Dari  beberapa  hal kecil  diatas yang  terkadang  dianggap  sepele  haruslah divaluasi.  Kelemahan  bukanlah  kesalahan. Bukan  kelemahan  panitia,....tetapi  patut  disadari  pekerjaan  tim  tidak  dapat  dikerjakan  sendiri  oleh  Jemaat  Balehumara. Apa  yang  telah  di usahakan oleh jemaat  Balehumara tidak  dapat dinilai dengan  uang  untuk  perkembangan  iman  Kristen  di kepulauan  yang  begitu  berat.
            Dimasa  latihan, jemaat-jemaat  yang  mengutus  masih harus  mengumpulkan  dana  untuk pembelian  seragam, biaya make up, biaya  trasnportasi, biaya  pendaftaran, uang  saku dll. Bagi  jemaat  besar bukan  masalah  tapi  bagi  jemaat  kecil  adalah  perjuangan  berat. Mereka  harus mencari dana  dengan  menyebar  proposal permintaan sumbangan, kartu kawan, menjual makanan  jadi, bermain kartu dan  domino berhadiah, bertaruh bingo-bingo dan pekerjaan  lain yang  mendatangkan uang.       
        Sebagai  umat  yang  punya  keyakinan, meski  berat!!!! semua  ini  telah dijalani   dengan  senang  hati. Karena semua itu  akan  ditambahkanNya berlipat ganda.
      Menang atau  kalah  dalam  lomba  paduan  suara  Pelka  GMIST bukanlah tujuan, tetapi  melalui  kegiatan ini ada  rasa kebersamaan.  Itulah  pesan  dari ketua  Pelka Perempuan Sinode GMIST beberapa saat menjelang  kapal  Lohoraung tiba  dalam  pelayaran pulang ke Tahuna. Berlombalah bukan untuk  menang, karena  sebelum  lomba dimulai  kemenangan  itu  sudah diberikan  Tuhan  melalui  juri. Mawu  mengalamate.

Sabtu, 14 Juni 2014

TRAGEDI PEMBUNUHAN EMMA ROSZA HADADY OERHALMA PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG DI KEPULAUAN SANGIHE







 PEMBANTAIAN PENDUDUK SANGIR DIMASA PENDUDUKAN JEPANG
Tulisan  ini  dihimpun dari  berbagai  tulisan dan kesaksian  keluarga  korban  
oleh : Alffian  Walukow


 MISTERI  KEMATIAN  RAJA-RAJA  DAN TOKOH  SATAL













RAJA/MANTAN  RAJA, RAKYAT, PEMERINTAH   KAMPUNG, TOKOH  AGAMA 
KORBAN  PEMBANTAIAN  TENTARA  PENDUDUKAN JEPANG
DI KEPULAUAN  SANGIHE.


Mereka  di ciduk tanpa  alasan dan  tanpa  pemberitahuan, pada   tahun 1944 lalu  dimasukan  kedalam  penjara. Sebagian  di penjara  di Tahuna  dan  sebagian  lagi  di  Penjara Manado.  Data   ini di percayakan  kepada  saya  oleh  pengurus persatuan  keluarga  korban  pemancungan Jepang, Bapak. E.W. Mandik.   Daftar   nama  ini  belum  termasuk  orang  Sangihe  Talaud  yg di pancung di  Manado Utara, Kepulauan  Siau dan  Talaud. 
Balakangan  ini saya  memperoleh informasi, ternyata   ada  satu  lobang  kubur diluar kuburan  masal  yang  di dalamnya berisi  Satu keluarga dari  kampung   Tola  kec. Tabut.  Keluarga   ini  dituduh mencuri  amunisi   di  Bokugo   Lenganeng. Anak-anak   dari   sepasang  suami  istri  tersebut berjumlah  tiga  orang  yang  masih  di bawah   umur 6  tahun.  Salah  satu  di antaranya seorang bayi juga  ikut  di pancung  dan di  tanam di satu  lobang yang sama.  Sampai  saat  lobang  tersebut   belum ditemukan.
Berdasarkan  info dari salah satu  saksi  sejarah (Ibu  ema Makahecum)  dan  keluarga  bahwa yang  ditangkap kira-kira berjumlah  200-an  orang.  Banyak   diantara   mereka sanggup  melarikan  diri karena beberapa  alasan  seperti :   banyak  diantara   mereka  yang  tidak mempan  di pancung dengan samurai, dan ada   yg  sudah   di  tanam sempat  melarikan  diri  esok  harinya.

Daftar   nama   orang  sangihe yang tanpa   takut merelakan  dirinya  dipancung demi  kemerdekan, meskipun pengorbanan   mereka  tidak  berarti  bagi pemerintah.  Satu  alasan   yaitu, tanah kuburan  masal   yg  ada  saat  ini  adalah  tanah   pasini  milik  pribadi yg satu  saat akan  digunakan  oleh  pemiliknya tetapi  belum  dibayar  oleh Pemda.

Yang  di pancung   dan  di tanam  secara   masal   tanggal  9 November 1944.
1.      Lefinus  Israel Patras Macpal, lahir 14 Mei 1891, Raja  Tabukan
2.      Musa Suenaung, lahir  5 Agustus 1901, Kepala kampung Marore
3.      Saul Barahama, Pembantu kepala  kampung  Marore.
4.      Hiskiel Mendome, Tokoh  agama  kristen di Marore.
5.      Siling Tengkang Pangumpia, Juru Tulis kampung  Marore.
6.      Ambrosius Dalentang, Tokoh  agama Kristen di kampung Marore. 
      
     Yang  di pancung   dan  di tanam  secara   masal   bualan  Januari dan bulan  November 1945.
1.      Marjan Karimela, kepala  kampung Tidore, Tahuna.
2.      Ambrosius  Mandalika, Pembantu Raja  Kendahe-Tahuna
3.      Amandus Aer, Jaksa di Tahuna
4.      Hertog. J. Patras. Macahecum, Jogugu  Manganitu
5.      Karel Patras Macpal, lahir 11-10-1894, Jogugu Tabukan  Selatan
6.      Emma Rosza Csezko Hadady  Voneorhalma, lahir 12-8-1907
7.      Dr. Gyula Csezko. Dokter  kepala rumah   sakit GMIST Liunkendage sejak tahun 1932.
8.      Christiaan  Ponto,  Bekas   raja  Kendahe-Tahuna
9.      Flores Manangkalangi, Kepala  kampung  Kolongan  Akembawi
1- Willem Manuel  Pandensolang Mokodompis, Raja  Manganitu
1-   Philipus  Taidi, Jogugu  Tamako
1-  Sebedeus Anthoni, Jogugu Kendahe
1- Gerriet H. Tatengkeng, Penilik  sekolah di Tahuna
1- Engelhard Bastian, Raja  Kendahe  Tahuna.
1- Wellem  Aleksander  Kansil, Pembantu  Raja  Manganitu di Tamako.
1- Efraim  Marthin, Jogugu  Ondong,Siau
1- Benyamin  Hengkengbala, Bekas Tentara  Angakatan  Laut  Belanda.
1- Thomas Bawoel, Imam di  Lipaeng.
1-  Limangbiang, Kepala  kampung  Manumpitaeng
2-  A. Suku, Kepala  kampung  Kawaluso
2-  K. Kantohe, Juru  Tulis  kantor  distrik  Manganitu.
2-  K.P.  Macpal, Jogugu  Tabukan  Selatan.

Pada  saat   terjadi  pembantaian,  yang  menduduki   pemerintahan  Jepang  di Kepulauan  Sangihe pada  waktu  itu  adalah  seorang  Perwira  Angkatan  Laut  Jepang (Kaigun) bernama  Kyosi Hirano.  Kelahiran  Jepang 30 Mei 1897. Pejabat  pembantu   adalah :  Kubota (wakil ken kanrikan),Yamasta (komandan Polisi  Militer  Jepang),  Muria (polisi  militer  jepang)







 



TRAGEDI  PEMBUNUHAN  EMMA  ROSZA  HADADY  OERHALMA  DI TAHUNA  PADA MASA  PENDUDUKAN  JEPANG
DAN  
 MISI  PENYELAMATAN EMPAT   ORANG  ANAK DARI  dr. Gyula Cseszko
                                                     
 Emma Rosza Hadady von Oerhalma
 
GMIST  (Gereja Masehi  Injili  Sangihe Talaud)  adalah  sebuah  institusi yang  mungkin  sangat merasakan pedih, atas  peristiwa  ini.  Keluarga  Cseszko adalah  tokoh  penting  dalam  misi  kekristenan  dan  misi  kesehatan   dimasa lalu. Pengabdian dan pengorbanan  dr  Cseszko sebagai  pendiri  rumah  sakit  sending “Liun Kendage” Tahuna, akhirnya terlupakan juga sejak Rumah  Sakit tersebut dipindah tangankan ke pemilik  lain.
Perjalanan  hidupnya  di  pulau Sangir adalah  bagian  dari  sebutir benih injil  yang kini  telah menjadi  dewasa.
“kenang-kenanglah  kami  yang  tinggal tulang diselimuti debuh”
                                                                                          
Tulisan dari Richard Hardwick, seorang mantan pemilik kebun, yang selama bertahun-tahun merupakan warga Kalimantan Utara asal Eropa, yang bekerja sebagai inteligen Amerika, Belanda dan Inggris pada masa peperangan, di Pasifik. Beliau menceritakan penyerangan SRD (Services Reconaissance Detachment) terhadap wilayah kekuasaan Jepang di Sulawesi yang berhasil melakukan penyelamatan dari udara terhadap empat anak berkebangsaan Hongaria yang dijual oleh Jepang ke ‘Raja’, yang dikendalikan Jepang.
Saat bersama angkatan bersenjata Belanda, informasi tsb saya peroleh dari warga Sangir yang melarikan diri dari Tahuna, ibu kota kepulauan Groete Sangir yang terletak di ujung Sulawesi Utara, demikian Hardwick memulai ceritanya.

Major Richard  Knox Hardwick
Foto dari  Romy Nonutu, Repro : Alffian Walukow

Ini mengenai keluarga Hongaria yang terkenal, Dr.Gyula Cseszko dan Mrs Cseszko (Emma Rosza Haday von Oerhalma) dan empat anak mereka : Emma berumur 13 th, Eva 10 th, Djoela 7 th dan Jozsef 5 th.
 Emma Rosza Csesko saat  ditemukan misi  penyelamat (inset: Emma saat  umur 82 tahun)

Emma Rosza Cseszko  saat kecil  di Istana Kerajaan  Manganitu

Orang tua anak2 ini mengalami peristiwa yang sangat mengerikan dengan tentara Jepang sehubungan dengan tuduhan bahwa mereka mempunyai alat transmisi di rumah peristirahatan mereka di Tahuna.
Keduanya bekerja di rumah sakit Zending di sana sebagai penginjil.
Dr Cseszko pernah bekerja di beberapa rumah sakit di Hindia Belanda, terutama di Jawa, selama 1 kurun waktu.
Menurut penduduk Sangir, kedua suami istri tersebut sangat disukai banyak orang. Mrs Cseszko membantu di kantor rumah sakit, dan bersama mereka ada seorang perawat orang tua bernama Elizabeth, yang akan diceritakan nanti.
Bulan Maret 1944, Dr Cseszko ditahan dan dikirim ke Manado, Sulawesi Utara sebagai sandera, meninggalkan keluarganya di Tahuna.
Setelah kepergiannya, tiga perawat pria yang tidak senang dengan kehadiran wanita Eropa di rumah sakit tersebut, memulai rencana jahat melawannya dengan menyebarkan isyu bahwa mereka menyembunyikan seperangkat alat transmisi di rumah mereka.
Pemeriksaan dilakukan secara kasar namun hasilnya sama sekali tidak terbukti.
Gagal dengan cara tersebut, Kempei–Tai menahannya pada bulan Agustus 1944 dan membawanya ke markas mereka di Tahoena untuk diintrogasi. Di tangan mereka, dia sangat menderita dan harus bertahan hingga awal November.
Dia ditelanjangi, dipukul, dan mengalami semua perlakuan kejam, seperti yg dialami oleh korban2nya Kempei-Tai.
Selama 5 hari, dia tidak minum sama sekali. Penduduk yang lewat tempat tersebut memberi kesaksian mendengar suaranya yang merintih kehausan.
Tubuhnya dibungkus dengan plester yang sudah direndam dengan bensin sehingga menyebabkan kulitnya terbakar oleh panas bensin. Saya tidak akan mendeskripsikan penyiksaan2 lain yang dialaminya tetapi hal yang meringankan adalah ketika Emma diijinkan untuk mengunjungi ibunya di hari ulang tahunnya.
Elizabeth juga disiksa hingga akhirnya dia dirawat di rumah sakit.
Kemudian Emma ditahan, disiksa dengan perlakuan tidak diberi minum, tangannya diikat sangat kencang di bangku hingga menjadi bengkak kehitaman sampai dibahunya. Semua perlakuan ini tetap tidak membuatnya mengakui apa yang dituduhkan karena mereka memang tidak menyimpan alat transmisi di rumah mereka.
Awal November, Mrs Cseszko di bawa keluar penjara, dgn badan yang sudah terluka parah kepalanya dipenggal.
Elizabeth, atas permohonannya,diijinkan untuk merawat keempat anak Cseszko.
Mereka kemudian dijual ke Raja Tagulandang yg dalam kendalinya Jepang, seharga 900 guilders dan ditempatkan di perkampungan penduduk asli.
Setelah lima bulan mengumpulkan data dengan sangat teliti, saya masih juga tidak mengetahui dimana mereka berada, yang saya tahu mereka telah meninggalkan Tahuna. Sedangkan ayah mereka, dikabarkan masih hidup, berada dalam keadaan baik dan berada di Manado.
Pada tgl 18 Maret 1945, suatu kelompok SRD mengajak saya bergabung untuk tujuan penelitian di Tagulandang mencari penduduk2 asli pembuat kapal. Saya segera bergabung karena ingin mendapatkan informasi mengenai pergerakan musuh di sana dan terutama untuk mendapatkan berita tentang anak2 keluarga Cseszko dan jika menemukan akan berusaha menyelamatkan mereka.
Kami berangkat pada pagi hari berkabut pukul 6:30 am menggunakan kapal Catalina dari Morotai bersama Mayor Trapps-Lomaz sebagai penanggung jawab, dia adalah tentara regular di Resimen Perbatasan (Border Regiment), Lt Johann Bruning dari Inteligen Politik Belanda (Dutch Political Intelligence), dua warga USA yang menentukan peledakan (penjinak bom) bom perusak Ventura yang mendarat darurat di Tagulandang dan tujuh orang anggota SRD. Dalam perjalanan tersebut saya ceritakan tragedi keluarga Cseszko pada yang mungkin belum pernah mengetahuinya.
Kepulauan Tagulandang terletak sekitar 260 mil barat laut dari Morotai dan 80 mil dari Sulawesi Utara. Kami tiba dengan tanpa hambatan pada sekitar puku 8 pagi lewat sedikit, mendarat sekitar 8 mil dari tepi pantai setelah dua kali mengitari pulau.Segala sesuatu tampak sangat tenang.
Pagi yang sangat indah dengan sinar matahari yang cerah. Pasir pantai nampak berkilau seperti emas dengan air yang sebening kristal. Di belakangnya jejeran pohon kelapa dan di sisi bukit terlihat hijau yang sangat menarik dengan adanya pohon2 pala dan aneka ragam tanaman lainnya.
Catalina tak sabar untuk segera pergi sehingga kami harus bergegas mengambil barang2 kami, termasuk di dalamnya perahu karet, motor2 penerjun yg dapat dilipat, pengisi daya, seperangkat alat transmisi, makanan, senjata dan barang2 yang nanti dapat ditukarkan / dijual.
Tidak seorang pun terlihat di pantai saat kami tiba, namun beberapa saat kemudian terlihat beberapa penduduk bersembunyi di balik semak2 di belakang pantai, melihat dengan rasa ingin tahu tapi takut untuk mendekat.
Dengan menawarkan rokok pada mereka menghilangkan rasa malu / takut. Anak2 kecil datang mengambilnya dan pergi memberikannya ke orang yang lebih tua.Tak lama ratusan orang berdatangan setelah mereka yakin bahwa kami adalah Allies (Pasukan Sekutu). Mereka ternyata dari ras yang sangat hebat dan meminta maaf karena tidak dapat membantu membawa barang2 ke pantai karena jika mereka melakukannya, maka kepala mereka akan dipenggal. Jadi, dengan bergegas kami mengemasi barang2 kami, mengontak markas dan menentukan/membuat tempat pasukan untuk berjaga-jaga bila dalam keadaan darurat. Tak lama kemudian para penduduk setempat sudah bisa mengatasi rasa takut mereka, mereka berdatangan dan membantu kami selama kami ada di pulau tersebut.
Seluruh penduduk sudah lama menganut agama Protestan. Secara fisik semua terlihat sehat karena makanan melimpah yang tersedia di pulau tersebut memenuhi kebutuhan hidup mereka, tetapi hampir semua tidak berpakaian lengkap.Para wanita mengenakan anyaman daun pandan untuk menutupi sebagian tubuh mereka, yang lelaki memakai kulit pohon kayu, sedangkan anak2 sampai sekitar umur 10 tahun semuanya telanjang.
Penduduk di sini menyediakan pemuda-pemuda yang baik bagi Hindia Belanda dan bisa menjadi tentara-tentara yang tangguh cerdas, rajin, berani dan berkarakter sangat baik.
Kami bergabung kembali dengan kelompok utama yang telah melakukan pengintaian ke perkampungan utama Balehumara, yang letaknya sekitar 1 mil, dan mendapati bahwa perkampungan tersebut seperti halnya perkampungan orang-orang Belanda, teratur rapi dengan bangunan-bangunan beton yang berstuktur sangat baik.
Kantor “Lanschape” yang kami jadikan markas merupakan bangunan yang sangat luas dengan bagian depan yang lebar yang dikelilingi dinding beton yang pendek.
Jelas kedatangan kami menyebabkan kepanikan bagi penduduk asli yang bekerja sama dengan Jepang yang telah menteror warga di situ.
Manopo, adalah polisi daerah tersebut dan merupakan pengkhianat yang sangat kejam di pulau tersebut. Sedangkan Tuwo, adalah orang keduanya.
Keduanya dinyatakan bertanggung jawab atas penyiksaan dan pembunuhan sejak pendudukan Jepang di daerah tersebut.
Manopo telah menahan Raja Tagulandang (Raja Willem Philips Jacob Simbat ) karena kesetiaannya pada Belanda, dan dibawa ke Manado di mana kepalanya dipenggal oleh Jepang.
Jepang menunjuk seseorang yang lemah pendiriannya yaitu Tiendas, menjadi Raja Tagulandang, tetapi dia hanyalah “boneka” di tangan Manopo.
Di sebuah meja yang berlapis kaca di atasnya, saya menemukan surat yang belum selesai diketik, yang ditujukan untuk tentara-tentara Jepang di Siau, yang letaknya 30-an mil jauhnya. Isi surat memberitahukan komandan bahwa mereka perlu bantuan tentara karena ada musuh yang tiba dalam kelompok kecil dengan menggunakan pesawat kecil.
Kemudian, diketahui bahwa Manopo telah berhasil mengirim perahu ke Siau. Pada meja berlapis kaca tersebut, ada bunga2 potong dan beberapa peralatan kantor yang modern, termasuk di dalamnya mesin ketik, lemari file, rekaman2 dan lain-lainnya.
Di sana ada tiga lemari besi (tempat persembunyian) dan gedung tersebut juga mempunyai ruangan-ruangan untuk Nissan (Administrasi Sipil) Kempei-Tai dan catatan lengkap tertanggal tahun-tahun sebelumnya dan banyak dokumen yang menjadi bukti metode2 Jepang, signal2, simbol2 kapal, kedatangan dan kepergian mereka, rencana2 mereka dan susunan pasukan tentara Jepang di Manado. Tidak ada tentara Jepang di pulau tersebut tetapi itu adalah tempat persinggahan pesawat musuh yang berpatroli antara Tahuna dan Sulawesi Utara.
Saya langsung bertanya ke penduduk setempat apakah apakah ada anak2 berkulit putih di pulau tersebut dan mereka mengatakan bahwa ada empat anak kulit putih dengan perawat mereka di kampung Minanga yang jaraknya sekitar 10 km dari situ. Kami meminta seorang warga yang dapat dipercaya untuk mengantar kami ke sana. Pertanyaan saya terjawab sudah.
Pada waktu kami mencari kampung tersebut, kami menemukan sebuah toko yang besar yang menjual kain2 rampasan, kain sutra cina bermotif yang bagus, renda, dan berbagai jenis pakaian termasuk di dalamnya payung, sepatu bot, bermacam sepatu, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Di kantor pajak kami menemukan sejumlah uang Jepang dan uang kertas guilders Belanda. Kampung tersebut dalam keadaan baik dan utuh. Tidak ada yang hancur tetapi ketakutan jelas terlihat di setiap gerak gerik penduduk meskipun mereka tidak ditakut-takuti.
Kami menyusun rencana dan saya menghabiskan waktu sepanjang hari dengan menginterogasi Kepala Distrik Mr Tan Teck Soen, seorang kapitan Cina dengan meyakinkannya bahwa kami akan membawanya bersama kami ke tempat yang aman (Base).
Malam itu mendengar Manopo dan Tiendas dengan pasukannya, kami bersembunyi di suatu tempat yang tidak jauh, kami mengutus tentara dari kelompok SRD untuk mengintai tetapi mereka mengetahui pengintaian tersebut dan segera berlari dengan cepat masuk ke pedalaman.
Seandainya kami bisa menangkap mereka, mereka sudah ditembak sebagaimana yang mereka lakukan pada orang2 Belanda yanga ada di daftar hitam mereka, dan kami sangat ingin melakukannya.
Malam itu kami melakukan penjagaan; bom2 Mill disiapkan dan rencana besok diatur. Kami mencoba menghubungi markas tetapi Jepang menghalangi usaha kami tersebut. Mereka pasti mengetahui keberadaan kami di pulau tersebut.
Peristiwa di hari berikutnya berjalan begitu mendebarkan. Sekitar jam 9 pagi, OC (Officer in Charge) kami dengan beberapa anggota kelompok SRD memutuskan untuk melakukan perjalanan di pulau tersebut untuk meyakinkan penduduk asli kemenangan yang sesungguhnya dan untuk mengajukan penawaran sesuai tujuan awal yakni mencari orang2 penduduk asli yang bisa membuat kapal.
Saya dengan Sersan Mayor kebangsaan Australia, operator radio, dan dua tentara angkatan laut penjinak bom tinggal di tempat.
Letnan Brunings menemani OC. Menurut pendapat saya, kepergiannya adalah suatu kesalahan karena mengingat keinginan Manopo untuk berhubungan dengan Siau. Saya merasa ini akan mudah mengarah ke bencana.
Tak lama setelah mereka pergi, empat anak Cseszko dan perawat setia mereka tiba. Dia memakaikan mereka pakaian dari bahan kain2 sisa dan mendandani rambut para gadis.
Mereka semua terlihat bersih tapi menderita penyakit daerah tropis, kurang nutrisi, dan kulit mereka semua ada luka yang bernanah. Perawat tersebut sangat memperhatikan mereka, mengajari mereka untuk selalu ingat bersikap yang sopan, bermurah hati, sungguh menggugah perasaan.
Sungguh saya tidak pernah bertemu seorang anak yang manis seperti Emma. Dia yang paling terlihat menderita, sangat lesu dan ketakutan. Dia menderita disentri akut, dan sering merintih saat berdiri.
Tidak satupun dari mereka yang berbicara, ketika saya menanyakan apakah mereka ingin bertemu lagi dengan teman-teman mereka orang Belanda di tempat asal. Ketakutan mereka akan perlakuan Jepang telah membuat mereka menyangkal semuanya.
Di saat sedang menanyai mereka, tiba-tiba datang 3 orang penduduk asli yang baru saja mendarat dengan perahu setelah meninggalkan Siau di pagi harinya.
Mereka melaporkan bahwa sejumlah tentara Jepang berjumlah sekitar 100 orang sedang menurunkan muatan untuk menyerang kami dan mereka memiliki senjata2 mesin yang lengkap. Berita tsb sangat menggemparkan dan dgn cepat tersebar ke seluruh penduduk.
Saya berada dalam dilema. Saya tidak punya kekuasaan, saya hanya anggota kelompok yang bisa berbahasa Melayu tetapi sepanjang hidup berada di antara aneka suku di Timur. Saya tahu ini masalah yang sangat mendesak dan sesuatu harus segera dilakukan dan tidak mungkin lagi untuk menunggu OC kembali.
*
Tentara Australia tergantung pada saya dan saya memintanya untuk mengirim signal ke markas pusat untuk memberitahukan posisi kami dan segera mengirimkan bantuan.
Saya menyarankan agar dikirim dua Catalina supaya dapat mengangkut semua anggota kelompok dan orang2 yang sudah membantu kami di pulau ini, sekitar 30 orang laki2 dan perempuan.
Bagi saya tidak mungkin lagi untuk memilah masalah-masalah dan sangat berbahaya jika harus menunggu Mayor Trapps-Lomax karena melihat serangan yang pasti segera terjadi.
Kami lupa membawa senapan mesin dan kami tidak dalam posisi yang bisa bertahan menghadapai serangan yang tiba2. Kami berencana pergi ke tempat pertemuan/kedatangan semula dan tidak akan membawa barang2 yang tidak terlalu diperlukan, tapi yang bisa dibawa saja beserta senjata2.
Sesungguhnya semua ini membuat saya cemas memikirkan bagaimana nanti tanggapan OC saat kembali, tapi saya tidak ada pilihan lain mengingat keadaan yang gawat dan saya harus mengambil insiatif.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu, kami mengirim orang kampung untuk mengamati pantai dan dua tentara angkatan laut untuk melihat rongsokan Ventura (?)
Kami mengubur beberapa barang dan menyembunyikan perahu karet di kerimbunan tanaman di belakang pantai, sementara saya mengunmpulkan beberapa dokumen berharga dan tidak lupa menggunakan kesempatan untuk mengumpulkan beberapa barang sebagai souvenir.
Kami meledakkan semua lemari besi di kantor tapi hasilnya nihil, semua kosong seperti lemari Mother Hubbard, tidak ada apapun di dalamnya.
Pada jam 2 sore, Mayor Trapps-Lomax kembali dengan kelompoknya. Saya lega karena dia mengatakan saya telah melakukan hal yang benar.
Saya mengambil kesempatan untuk mencatat, catatan yang baik atas sorang tentara yang gagah, cepat dalam mengambil keputusan, terlatih dan berjiwa pemimpin yang baik.
Tidak lama setelah OC kembali, 3 pesawat pembom Beaufort tiba dan tetap berkeliling di udara selama 1 jam. Kami mengirim signal bahwa keadaan baik dan kemudian mereka pun pergi dengan memberi kode.
Itu berarti menandakan mereka tidak melihat adanya musuh di laut. Kami kemudian mengumpulkan semua yang sudah membantu kami, ada 29 orang semuanya.
Kami kemudian memutuskan kembali ke markas pusat. Kami mengijinkan 30 orang dalam perahu untuk berlayar ke Morotai dan memastikan mereka bahwa mereka akan diberikan air minum saat pelayaran mereka ke sana.Pantai saat itu penuh manusia bagai ribuan, perempuan, laki2 dan anak2.Mereka memohon pada kami agar membawa mereka juga. Mereka menangis dan meraung karena kami menolak, mereka memegang dan mencengkeram pakaian kami, merasa putus asa dan menderita ketakutan akan adanya balas dendam dari Manopo dan Tuwo terhadap mereka jika kami sudah pergi.
Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Dan akhirnya dua Catalina bisa membawa kami dengan aman. Pukul 4 sore, dua Catalina tsb tiba dan segera semua naik ke pesawat. Anak2 Cseszko dan Elizabeth lebih dulu naik kemudian yang lainnya, terakhir kami sendiri dan barang2. Tidak satu pun dari pendudk asli yang ikut dengan kami yang pernah bepergian dengan pesawat sehingga mereka kelihatan gugup.
Kami semua berangkat pada saat cuaca baik. Catalina yang saya tumpangi, mayoritas penumpangnya berisi para penduduk asli yang kami ajak. Pesawat berjalan sejauh 2 mil sebelum lepas landas dari air.
Sesaat pesawat sudah mengudara, goyang sehinga harus turun lagi tapi akhirnya bisa mengudara lagi dan kami mendarat dengan selamat di markas pusat sekitar pukul 8 malam. Empat anak Cseszko lebih dahulu diselamatkan karena mereka telah mengalami penderitaan sejak Hindia Belanda dikuasai Jepang pada 8 Maret 1942.
Kami mendengar kemudian bahwa 11 tentara Jepang dengan senjata mesin ringan tiba di pulau tersebut pada pukul 7 di malam kami pergi. Informasi yang diketahui dari signal yang tertangkap oleh maskar besar, bahwa sejumlah besar pasukan tentara Jepang mendarat di Siau, di waktu yang sama dengan keberangkatan kami.
Pagi keesokan hari, RAAF pesawat pembom medium mendapati dan membom tiga kapal besar, dua kapal kecil dan sebuah perahu motor yang semuanya berisikan pasukan tentara Jepang mendekati Tahuna. Menurut perkiraan dalam laporan resmi mereka (yang sesuai dengan catatan saya) bahwa setidaknya ada 200 orang tentara musuh yang ada di kapal2 tersebut dan setelah pesawat pembom menenggelamkan dan menembaki mereka, yang selamat juga ditembaki di air.
Jadi misi kami berakhir dengan sukses. OC kami mengatakan bahwa ini merupakan satu dari serangan di mana dia tergabung di dalamnya, yang sangat berhasil dengan baik.
Anak2 Cseszko tinggal dengan saya di pondok saya di Morotai selama 2 minggu. Mereka dijaga oleh tentara Amerika yang datang setiap hari dan camp pun dikunjungi oleh ratusan orang yang sangat ingin tahu dan ingin mengambil gambar hingga akhirnya kami harus menaruh tanda larangan.
Di antara mereka berempat, Emma lah yang paling menderita. Setiap berdiri selalu jatuh tetapi tak lama kesehatannya mulai pulih kembali.
Ketika diberitahukan kepastian keberangkatan mereka ke Belanda di pagi subuh Emma mendatangi saya untuk berpamitan. Dengan malu-malu Emma mengucapkan terima kasih, menunduk mencium saya dan segera berlari keluar.Kemudian mereka semua dikirim ke Sydney, bersama dengan perawat mereka. Palang Merah Australia menyediakan pakaian musim dingin dan lain sebagainya untuk mereka.
Di sana mereka dirawat oleh Mrs Visser, penginjil berkebangsaan Belanda yang melarikan diri dari Ambon dengan keadaan yang sangat mendebarkan dan tiba di pelabuhan Darwin di Australia Utara setelah mengarungi lautan menggunakan perahu selama 6 minggu.
Tidak ada yang lebih baik dari Mrs. Visser yang mau menerima anak2 ini tinggal di flat kecilnya yang juga sudah terisi dengan dua anak perempuannya yang masih kecil.
Dalam perjalanan ke Australia pada September 1945 untuk pembubaran tentara Australia, saya bertemu dengan mereka, semua dalam keadaan sehat dan bahagia. Mereka juga telah mendapat kabar bahwa ayah mereka akan menemui mereka dalam waktu 2 minggu lagi, ayah mereka dalam kondisi sehat dan sangat ingin berkumpul dengan mereka lagi.
Tetapi dalam perjalanan kembali ke Kalimantan, di bulan Oktober, saya pergi ke camp pengungsi Manado, di Morotai, di rumah sakit bantuan Australia, orang pertama yang saya temui mengatakan bahwa Dr Cseszko terbunuh saat serangan bom tentara sekutu pada saat sebelum Jepang menyerah.
Sejak saat itu saya tetap berhubungan dengan anak2 tersebut. Saya mencari tahu keluarga mereka di Hongaria - orang2 yang bisa dihubungi - dan sudah menyurati mereka.
Orang tua baptis mereka di Holland telah meminta mereka pulang tetapi pemerintah Belanda telah memutuskan untuk mendirikan suatu camp sementara yang besar bagi anak2 berkebangsaan Belanda di Jawa yang yatim piatu jika keadaan mengijinkan. Setelah itu mereka akan dikembalikan ke tanah airnya. (Terjemahan dari koran Singapura The Straits Times, 21 August 1947, halaman 8)
 
Orang tua anak2 ini mengalami peristiwa yang sangat mengerikan dengan tentara Jepang sehubungan dengan tuduhan bahwa mereka mempunyai alat transmisi di rumah peristirahatan mereka di Tahuna.
Keduanya bekerja di rumah sakit Zending di sana sebagai penginjil.
Dr Cseszko pernah bekerja di beberapa rumah sakit di Hindia Belanda, terutama di Jawa, selama 1 kurun waktu.
Menurut penduduk Sangir, kedua suami istri tersebut sangat disukai banyak orang. Mrs Cseszko membantu di kantor rumah sakit, dan bersama mereka ada seorang perawat orang tua bernama Elizabeth, yang akan diceritakan nanti.
Bulan Maret 1944, Dr Cseszko ditahan dan dikirim ke Manado, Sulawesi Utara sebagai sandera, meninggalkan keluarganya di Tahuna.
Setelah kepergiannya, tiga perawat pria yang tidak senang dengan kehadiran wanita Eropa di rumah sakit tersebut, memulai rencana jahat melawannya dengan menyebarkan isyu bahwa mereka menyembunyikan seperangkat alat transmisi di rumah mereka.
Pemeriksaan dilakukan secara kasar namun hasilnya sama sekali tidak terbukti.
Gagal dengan cara tersebut, Kempei–Tai menahannya pada bulan Agustus 1944 dan membawanya ke markas mereka di Tahoena untuk diintrogasi. Di tangan mereka, dia sangat menderita dan harus bertahan hingga awal November.
Dia ditelanjangi, dipukul, dan mengalami semua perlakuan kejam, seperti yg dialami oleh korban2nya Kempei-Tai.
Selama 5 hari, dia tidak minum sama sekali. Penduduk yang lewat tempat tersebut memberi kesaksian mendengar suaranya yang merintih kehausan.
Tubuhnya dibungkus dengan plester yang sudah direndam dengan bensin sehingga menyebabkan kulitnya terbakar oleh panas bensin. Saya tidak akan mendeskripsikan penyiksaan2 lain yang dialaminya tetapi hal yang meringankan adalah ketika Emma diijinkan untuk mengunjungi ibunya di hari ulang tahunnya.
Elizabeth juga disiksa hingga akhirnya dia dirawat di rumah sakit.
Kemudian Emma ditahan, disiksa dengan perlakuan tidak diberi minum, tangannya diikat sangat kencang di bangku hingga menjadi bengkak kehitaman sampai dibahunya. Semua perlakuan ini tetap tidak membuatnya mengakui apa yang dituduhkan karena mereka memang tidak menyimpan alat transmisi di rumah mereka.
Awal November, Mrs Cseszko di bawa keluar penjara, dgn badan yang sudah terluka parah kepalanya dipenggal.
Elizabeth, atas permohonannya,diijinkan untuk merawat keempat anak Cseszko.
Mereka kemudian dijual ke Raja Tagulandang yg dalam kendalinya Jepang, seharga 900 guilders dan ditempatkan di perkampungan penduduk asli.
Setelah lima bulan mengumpulkan data dengan sangat teliti, saya masih juga tidak mengetahui dimana mereka berada, yang saya tahu mereka telah meninggalkan Tahuna. Sedangkan ayah mereka, dikabarkan masih hidup, berada dalam keadaan baik dan berada di Manado.
Pada tgl 18 Maret 1945, suatu kelompok SRD mengajak saya bergabung untuk tujuan penelitian di Tagulandang mencari penduduk2 asli pembuat kapal. Saya segera bergabung karena ingin mendapatkan informasi mengenai pergerakan musuh di sana dan terutama untuk mendapatkan berita tentang anak2 keluarga Cseszko dan jika menemukan akan berusaha menyelamatkan mereka.
Kami berangkat pada pagi hari berkabut pukul 6:30 am menggunakan kapal Catalina dari Morotai bersama Mayor Trapps-Lomaz sebagai penanggung jawab, dia adalah tentara regular di Resimen Perbatasan (Border Regiment), Lt Johann Bruning dari Inteligen Politik Belanda (Dutch Political Intelligence), dua warga USA yang menentukan peledakan (penjinak bom) bom perusak Ventura yang mendarat darurat di Tagulandang dan tujuh orang anggota SRD. Dalam perjalanan tersebut saya ceritakan tragedi keluarga Cseszko pada yang mungkin belum pernah mengetahuinya.
Kepulauan Tagulandang terletak sekitar 260 mil barat laut dari Morotai dan 80 mil dari Sulawesi Utara. Kami tiba dengan tanpa hambatan pada sekitar puku 8 pagi lewat sedikit, mendarat sekitar 8 mil dari tepi pantai setelah dua kali mengitari pulau.Segala sesuatu tampak sangat tenang.
Pagi yang sangat indah dengan sinar matahari yang cerah. Pasir pantai nampak berkilau seperti emas dengan air yang sebening kristal. Di belakangnya jejeran pohon kelapa dan di sisi bukit terlihat hijau yang sangat menarik dengan adanya pohon2 pala dan aneka ragam tanaman lainnya.
Catalina tak sabar untuk segera pergi sehingga kami harus bergegas mengambil barang2 kami, termasuk di dalamnya perahu karet, motor2 penerjun yg dapat dilipat, pengisi daya, seperangkat alat transmisi, makanan, senjata dan barang2 yang nanti dapat ditukarkan / dijual.
Tidak seorang pun terlihat di pantai saat kami tiba, namun beberapa saat kemudian terlihat beberapa penduduk bersembunyi di balik semak2 di belakang pantai, melihat dengan rasa ingin tahu tapi takut untuk mendekat.
Dengan menawarkan rokok pada mereka menghilangkan rasa malu / takut. Anak2 kecil datang mengambilnya dan pergi memberikannya ke orang yang lebih tua.Tak lama ratusan orang berdatangan setelah mereka yakin bahwa kami adalah Allies (Pasukan Sekutu). Mereka ternyata dari ras yang sangat hebat dan meminta maaf karena tidak dapat membantu membawa barang2 ke pantai karena jika mereka melakukannya, maka kepala mereka akan dipenggal. Jadi, dengan bergegas kami mengemasi barang2 kami, mengontak markas dan menentukan/membuat tempat pasukan untuk berjaga-jaga bila dalam keadaan darurat. Tak lama kemudian para penduduk setempat sudah bisa mengatasi rasa takut mereka, mereka berdatangan dan membantu kami selama kami ada di pulau tersebut.
Seluruh penduduk sudah lama menganut agama Protestan. Secara fisik semua terlihat sehat karena makanan melimpah yang tersedia di pulau tersebut memenuhi kebutuhan hidup mereka, tetapi hampir semua tidak berpakaian lengkap.Para wanita mengenakan anyaman daun pandan untuk menutupi sebagian tubuh mereka, yang lelaki memakai kulit pohon kayu, sedangkan anak2 sampai sekitar umur 10 tahun semuanya telanjang.
Penduduk di sini menyediakan pemuda-pemuda yang baik bagi Hindia Belanda dan bisa menjadi tentara-tentara yang tangguh cerdas, rajin, berani dan berkarakter sangat baik.
Kami bergabung kembali dengan kelompok utama yang telah melakukan pengintaian ke perkampungan utama Balehumara, yang letaknya sekitar 1 mil, dan mendapati bahwa perkampungan tersebut seperti halnya perkampungan orang-orang Belanda, teratur rapi dengan bangunan-bangunan beton yang berstuktur sangat baik.
Kantor “Lanschape” yang kami jadikan markas merupakan bangunan yang sangat luas dengan bagian depan yang lebar yang dikelilingi dinding beton yang pendek.
Jelas kedatangan kami menyebabkan kepanikan bagi penduduk asli yang bekerja sama dengan Jepang yang telah menteror warga di situ.
Manopo, adalah polisi daerah tersebut dan merupakan pengkhianat yang sangat kejam di pulau tersebut. Sedangkan Tuwo, adalah orang keduanya.
Keduanya dinyatakan bertanggung jawab atas penyiksaan dan pembunuhan sejak pendudukan Jepang di daerah tersebut.
Manopo telah menahan Raja Tagulandang (Raja Willem Philips Jacob Simbat ) karena kesetiaannya pada Belanda, dan dibawa ke Manado di mana kepalanya dipenggal oleh Jepang.
Jepang menunjuk seseorang yang lemah pendiriannya yaitu Tiendas, menjadi Raja Tagulandang, tetapi dia hanyalah “boneka” di tangan Manopo.
Di sebuah meja yang berlapis kaca di atasnya, saya menemukan surat yang belum selesai diketik, yang ditujukan untuk tentara-tentara Jepang di Siau, yang letaknya 30-an mil jauhnya. Isi surat memberitahukan komandan bahwa mereka perlu bantuan tentara karena ada musuh yang tiba dalam kelompok kecil dengan menggunakan pesawat kecil.
Kemudian, diketahui bahwa Manopo telah berhasil mengirim perahu ke Siau. Pada meja berlapis kaca tersebut, ada bunga2 potong dan beberapa peralatan kantor yang modern, termasuk di dalamnya mesin ketik, lemari file, rekaman2 dan lain-lainnya.
Di sana ada tiga lemari besi (tempat persembunyian) dan gedung tersebut juga mempunyai ruangan-ruangan untuk Nissan (Administrasi Sipil) Kempei-Tai dan catatan lengkap tertanggal tahun-tahun sebelumnya dan banyak dokumen yang menjadi bukti metode2 Jepang, signal2, simbol2 kapal, kedatangan dan kepergian mereka, rencana2 mereka dan susunan pasukan tentara Jepang di Manado. Tidak ada tentara Jepang di pulau tersebut tetapi itu adalah tempat persinggahan pesawat musuh yang berpatroli antara Tahuna dan Sulawesi Utara.
Saya langsung bertanya ke penduduk setempat apakah apakah ada anak2 berkulit putih di pulau tersebut dan mereka mengatakan bahwa ada empat anak kulit putih dengan perawat mereka di kampung Minanga yang jaraknya sekitar 10 km dari situ. Kami meminta seorang warga yang dapat dipercaya untuk mengantar kami ke sana. Pertanyaan saya terjawab sudah.
Pada waktu kami mencari kampung tersebut, kami menemukan sebuah toko yang besar yang menjual kain2 rampasan, kain sutra cina bermotif yang bagus, renda, dan berbagai jenis pakaian termasuk di dalamnya payung, sepatu bot, bermacam sepatu, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Di kantor pajak kami menemukan sejumlah uang Jepang dan uang kertas guilders Belanda. Kampung tersebut dalam keadaan baik dan utuh. Tidak ada yang hancur tetapi ketakutan jelas terlihat di setiap gerak gerik penduduk meskipun mereka tidak ditakut-takuti.
Kami menyusun rencana dan saya menghabiskan waktu sepanjang hari dengan menginterogasi Kepala Distrik Mr Tan Teck Soen, seorang kapitan Cina dengan meyakinkannya bahwa kami akan membawanya bersama kami ke tempat yang aman (Base).
Malam itu mendengar Manopo dan Tiendas dengan pasukannya, kami bersembunyi di suatu tempat yang tidak jauh, kami mengutus tentara dari kelompok SRD untuk mengintai tetapi mereka mengetahui pengintaian tersebut dan segera berlari dengan cepat masuk ke pedalaman.
Seandainya kami bisa menangkap mereka, mereka sudah ditembak sebagaimana yang mereka lakukan pada orang2 Belanda yanga ada di daftar hitam mereka, dan kami sangat ingin melakukannya.
Malam itu kami melakukan penjagaan; bom2 Mill disiapkan dan rencana besok diatur. Kami mencoba menghubungi markas tetapi Jepang menghalangi usaha kami tersebut. Mereka pasti mengetahui keberadaan kami di pulau tersebut.
Peristiwa di hari berikutnya berjalan begitu mendebarkan. Sekitar jam 9 pagi, OC (Officer in Charge) kami dengan beberapa anggota kelompok SRD memutuskan untuk melakukan perjalanan di pulau tersebut untuk meyakinkan penduduk asli kemenangan yang sesungguhnya dan untuk mengajukan penawaran sesuai tujuan awal yakni mencari orang2 penduduk asli yang bisa membuat kapal.
Saya dengan Sersan Mayor kebangsaan Australia, operator radio, dan dua tentara angkatan laut penjinak bom tinggal di tempat.
Letnan Brunings menemani OC. Menurut pendapat saya, kepergiannya adalah suatu kesalahan karena mengingat keinginan Manopo untuk berhubungan dengan Siau. Saya merasa ini akan mudah mengarah ke bencana.
Tak lama setelah mereka pergi, empat anak Cseszko dan perawat setia mereka tiba. Dia memakaikan mereka pakaian dari bahan kain2 sisa dan mendandani rambut para gadis.
Mereka semua terlihat bersih tapi menderita penyakit daerah tropis, kurang nutrisi, dan kulit mereka semua ada luka yang bernanah. Perawat tersebut sangat memperhatikan mereka, mengajari mereka untuk selalu ingat bersikap yang sopan, bermurah hati, sungguh menggugah perasaan.
Sungguh saya tidak pernah bertemu seorang anak yang manis seperti Emma. Dia yang paling terlihat menderita, sangat lesu dan ketakutan. Dia menderita disentri akut, dan sering merintih saat berdiri.
Tidak satupun dari mereka yang berbicara, ketika saya menanyakan apakah mereka ingin bertemu lagi dengan teman-teman mereka orang Belanda di tempat asal. Ketakutan mereka akan perlakuan Jepang telah membuat mereka menyangkal semuanya.
Di saat sedang menanyai mereka, tiba-tiba datang 3 orang penduduk asli yang baru saja mendarat dengan perahu setelah meninggalkan Siau di pagi harinya.
Mereka melaporkan bahwa sejumlah tentara Jepang berjumlah sekitar 100 orang sedang menurunkan muatan untuk menyerang kami dan mereka memiliki senjata2 mesin yang lengkap. Berita tsb sangat menggemparkan dan dgn cepat tersebar ke seluruh penduduk.
Saya berada dalam dilema. Saya tidak punya kekuasaan, saya hanya anggota kelompok yang bisa berbahasa Melayu tetapi sepanjang hidup berada di antara aneka suku di Timur. Saya tahu ini masalah yang sangat mendesak dan sesuatu harus segera dilakukan dan tidak mungkin lagi untuk menunggu OC kembali.
*
Tentara Australia tergantung pada saya dan saya memintanya untuk mengirim signal ke markas pusat untuk memberitahukan posisi kami dan segera mengirimkan bantuan.
Saya menyarankan agar dikirim dua Catalina supaya dapat mengangkut semua anggota kelompok dan orang2 yang sudah membantu kami di pulau ini, sekitar 30 orang laki2 dan perempuan.
Bagi saya tidak mungkin lagi untuk memilah masalah-masalah dan sangat berbahaya jika harus menunggu Mayor Trapps-Lomax karena melihat serangan yang pasti segera terjadi.
Kami lupa membawa senapan mesin dan kami tidak dalam posisi yang bisa bertahan menghadapai serangan yang tiba2. Kami berencana pergi ke tempat pertemuan/kedatangan semula dan tidak akan membawa barang2 yang tidak terlalu diperlukan, tapi yang bisa dibawa saja beserta senjata2.
Sesungguhnya semua ini membuat saya cemas memikirkan bagaimana nanti tanggapan OC saat kembali, tapi saya tidak ada pilihan lain mengingat keadaan yang gawat dan saya harus mengambil insiatif.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu, kami mengirim orang kampung untuk mengamati pantai dan dua tentara angkatan laut untuk melihat rongsokan Ventura (?)
Kami mengubur beberapa barang dan menyembunyikan perahu karet di kerimbunan tanaman di belakang pantai, sementara saya mengunmpulkan beberapa dokumen berharga dan tidak lupa menggunakan kesempatan untuk mengumpulkan beberapa barang sebagai souvenir.
Kami meledakkan semua lemari besi di kantor tapi hasilnya nihil, semua kosong seperti lemari Mother Hubbard, tidak ada apapun di dalamnya.
Pada jam 2 sore, Mayor Trapps-Lomax kembali dengan kelompoknya. Saya lega karena dia mengatakan saya telah melakukan hal yang benar.
Saya mengambil kesempatan untuk mencatat, catatan yang baik atas sorang tentara yang gagah, cepat dalam mengambil keputusan, terlatih dan berjiwa pemimpin yang baik.
Tidak lama setelah OC kembali, 3 pesawat pembom Beaufort tiba dan tetap berkeliling di udara selama 1 jam. Kami mengirim signal bahwa keadaan baik dan kemudian mereka pun pergi dengan memberi kode.
Itu berarti menandakan mereka tidak melihat adanya musuh di laut. Kami kemudian mengumpulkan semua yang sudah membantu kami, ada 29 orang semuanya.
Kami kemudian memutuskan kembali ke markas pusat. Kami mengijinkan 30 orang dalam perahu untuk berlayar ke Morotai dan memastikan mereka bahwa mereka akan diberikan air minum saat pelayaran mereka ke sana.Pantai saat itu penuh manusia bagai ribuan, perempuan, laki2 dan anak2.Mereka memohon pada kami agar membawa mereka juga. Mereka menangis dan meraung karena kami menolak, mereka memegang dan mencengkeram pakaian kami, merasa putus asa dan menderita ketakutan akan adanya balas dendam dari Manopo dan Tuwo terhadap mereka jika kami sudah pergi.
Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Dan akhirnya dua Catalina bisa membawa kami dengan aman. Pukul 4 sore, dua Catalina tsb tiba dan segera semua naik ke pesawat. Anak2 Cseszko dan Elizabeth lebih dulu naik kemudian yang lainnya, terakhir kami sendiri dan barang2. Tidak satu pun dari pendudk asli yang ikut dengan kami yang pernah bepergian dengan pesawat sehingga mereka kelihatan gugup.
Kami semua berangkat pada saat cuaca baik. Catalina yang saya tumpangi, mayoritas penumpangnya berisi para penduduk asli yang kami ajak. Pesawat berjalan sejauh 2 mil sebelum lepas landas dari air.
Sesaat pesawat sudah mengudara, goyang sehinga harus turun lagi tapi akhirnya bisa mengudara lagi dan kami mendarat dengan selamat di markas pusat sekitar pukul 8 malam. Empat anak Cseszko lebih dahulu diselamatkan karena mereka telah mengalami penderitaan sejak Hindia Belanda dikuasai Jepang pada 8 Maret 1942.
Kami mendengar kemudian bahwa 11 tentara Jepang dengan senjata mesin ringan tiba di pulau tersebut pada pukul 7 di malam kami pergi. Informasi yang diketahui dari signal yang tertangkap oleh maskar besar, bahwa sejumlah besar pasukan tentara Jepang mendarat di Siau, di waktu yang sama dengan keberangkatan kami.
Pagi keesokan hari, RAAF pesawat pembom medium mendapati dan membom tiga kapal besar, dua kapal kecil dan sebuah perahu motor yang semuanya berisikan pasukan tentara Jepang mendekati Tahuna. Menurut perkiraan dalam laporan resmi mereka (yang sesuai dengan catatan saya) bahwa setidaknya ada 200 orang tentara musuh yang ada di kapal2 tersebut dan setelah pesawat pembom menenggelamkan dan menembaki mereka, yang selamat juga ditembaki di air.
Jadi misi kami berakhir dengan sukses. OC kami mengatakan bahwa ini merupakan satu dari serangan di mana dia tergabung di dalamnya, yang sangat berhasil dengan baik.
Anak2 Cseszko tinggal dengan saya di pondok saya di Morotai selama 2 minggu. Mereka dijaga oleh tentara Amerika yang datang setiap hari dan camp pun dikunjungi oleh ratusan orang yang sangat ingin tahu dan ingin mengambil gambar hingga akhirnya kami harus menaruh tanda larangan.
Di antara mereka berempat, Emma lah yang paling menderita. Setiap berdiri selalu jatuh tetapi tak lama kesehatannya mulai pulih kembali.
Ketika diberitahukan kepastian keberangkatan mereka ke Belanda di pagi subuh Emma mendatangi saya untuk berpamitan. Dengan malu-malu Emma mengucapkan terima kasih, menunduk mencium saya dan segera berlari keluar.Kemudian mereka semua dikirim ke Sydney, bersama dengan perawat mereka. Palang Merah Australia menyediakan pakaian musim dingin dan lain sebagainya untuk mereka.
Di sana mereka dirawat oleh Mrs Visser, penginjil berkebangsaan Belanda yang melarikan diri dari Ambon dengan keadaan yang sangat mendebarkan dan tiba di pelabuhan Darwin di Australia Utara setelah mengarungi lautan menggunakan perahu selama 6 minggu.
Tidak ada yang lebih baik dari Mrs. Visser yang mau menerima anak2 ini tinggal di flat kecilnya yang juga sudah terisi dengan dua anak perempuannya yang masih kecil.
Dalam perjalanan ke Australia pada September 1945 untuk pembubaran tentara Australia, saya bertemu dengan mereka, semua dalam keadaan sehat dan bahagia. Mereka juga telah mendapat kabar bahwa ayah mereka akan menemui mereka dalam waktu 2 minggu lagi, ayah mereka dalam kondisi sehat dan sangat ingin berkumpul dengan mereka lagi.
Tetapi dalam perjalanan kembali ke Kalimantan, di bulan Oktober, saya pergi ke camp pengungsi Manado, di Morotai, di rumah sakit bantuan Australia, orang pertama yang saya temui mengatakan bahwa Dr Cseszko terbunuh saat serangan bom tentara sekutu pada saat sebelum Jepang menyerah.
Sejak saat itu saya tetap berhubungan dengan anak2 tersebut. Saya mencari tahu keluarga mereka di Hongaria - orang2 yang bisa dihubungi - dan sudah menyurati mereka.
Orang tua baptis mereka di Holland telah meminta mereka pulang tetapi pemerintah Belanda telah memutuskan untuk mendirikan suatu camp sementara yang besar bagi anak2 berkebangsaan Belanda di Jawa yang yatim piatu jika keadaan mengijinkan. Setelah itu mereka akan dikembalikan ke tanah airnya. (Terjemahan dari koran Singapura The Straits Times, 21 August 1947, halaman 8)



DOKUMEN MILIK  Bapak Egbert Welfried Mandik. 
Sekertaris Eksponen 45 Kab.Kepl. Sangihe

Dokumen  ini  sedang  diperjuangkan untuk disampaikan ke Pemerintah  Indonesia, Kedubes Jepang di Indonesia, Kekaisaran  Jepang  agar mendapat  pengakuan bahwa  benar pernah  terjadi  pembunuhan  keji di Tahuna  oleh Tentara  Jepang. Sampai  saat  ini  belum  ada  tindak lanjut.
Meskipun banyak  suara  mengatakan  bahwa  orang-orang yang dibunuh  tersebut  adalah  kaki  tangan  Belanda tetapi  mereka  adalah  warga  Indonesia  yang  jadi  korban kebengisan  tentara Jepang.


SURAT  PERALIHAN  PEMERINTAHAN  DARI   PEMERINTAH  HINDIA  BELANDA   KEPADA PEMERINTAHAN BALA  TENTARA JEPANG  DI TAHUNA


DAFTAR NAMA PEJABAT  PEMERINTAHAN DI KEPULAUAN  SANGIHE DAN TALAUD SEJAK 1891 DAN  PEJABAT  DIMASA PENDUDUKAN JEPANG



 Afdeeling Sangi en Talaud  Eilanden


dan  arsip  lainnya


Sumber : 
- adrianuskojongian.blogspot.com
- Cherish My Mind With Digital Art Of Photography
- Egber Mandik, Sekretaris Eksponen 45. Kepl.Sangihe
- Sumber lisan  saksi  sejarah di Tahuna  dan  keluarga keturunan  para korban.