Selasa, 21 Maret 2017

SALENSEHE, Musik Tradisi Suku Sangihe. Tanpa nada

MUSIK  SALENSEHE, TINGIHE U  SINGONGO


Oleh : Alffian Walukow, S.Pd,M.Pd
(tinjauan  perkembangan musik  tradisi sangihe  dari  saman  purba)
 
Saḽensehĕ  adalah  salah  satu  jenis  alat  musik  tradisional suku  Sangihĕ yang terbuat  dari   dua  media yaitu  bambu  dan  atau batang  daun  pepaya.  Alat   musik   ini   sudah  dikenal  sejak  lama  di  pulau  Sangihê. Dimasa  lalu alat  ini digunakan sebagai  alat  bantu   pemanggil   burung  oleh pemburu  burung, juga  berfungsi  sebagai  permainan  anak.  Pada  saat  ini, alat  musik Saḽensehĕ masih tetap berfungsi  sebagai  permainan  anak  dan  juga dimainkan  sebagai  alat  musik  melodis.
Alat  musik  Saḽensehĕ berbahan  dasar bambu  dapat  dibuat  seperti  ini  :
1.       Potong bambu berdiameter  1 - 1,5 cm   dengan  panjang berfariasi  dari  15  sampai  30 cm.
2.       Buatlah  lobang resonasi sebesar lingkaran  batang rokok  dengan  jarak 6 cm  dari  salah  satu  ujung  bambu.
3.       Tutup  salah  satu  ujung  bambu  dekat  lobang resonasi  lalu  ikat  dengan  karet  gelang. Plastik  ini  berfungsi  sebagai membran/gendang pencetus  getar  suara.
4.       Kendorkan plastik  dengan  cara  menekan dengan  jari.
5.       Siap dimainkan
Keunikan  alat  musik Saḽensehĕ adalah   :
-          Tidak  diketahui penemunya  dan  kapan  mulai  digunakan oleh  suku  Sangihĕ.
-          Diciptakan sebagai tiruan suara binatang.
-          Tidak  memiliki  lobang  nada.
Dengan  demikian  maka  alat  musik   Saḽensehê  adalah  alat  musik  tak  bernada.
Dari  wujudnya terlihat mirip  dengan  suling. Perbedaan  Saḽensehĕ  dengan  suling  adalah : Bambu Saḽensehê hanyalah  media  resonasi dari  nada  yang diproduksi  oleh  embusan  nafas  dari  mulut  dengan  cara  mendengungkan lagu (bukan meniup) pada  lobang  resonasi. Dengungan  lagu atau nada dari mulut ini  kemudian  akan berubah  menjadi  getar  suara  oleh  membran  plastik  pada  ujung  bambu. Produksi  nada  pada suling  adalah dengan  menutup atau membuka lobang-lobang  nada dengan  bantuan tiupan atau  embusan nafas  dari mulut.
Dalam  tradisi  suku Sangihĕ, Saḽensehĕ memiliki  pengertian : Serangga  berwarna hijau ,bercahaya dan  memiliki sayap. Saḽensehĕ adalah  nama  binatang  kecil  sejenis serangga berdasarkan   tradisi sangihe selatan. Dalam   tradisi  utara, Saḽensehĕ disebut sebagai “ḽĕrio” (“ḽĕrio”adalah spesies yang  sama dengan Saḽensehĕ  tetapi  lebih  besar). Dalam  Bahasa Tountemboauan – Minahasa, binatang Saḽensehĕ bernama “rie-rie”  sedangkan  yang  jenis  besar  dinamakan rie-rie tu’a. Musik  Saḽensehĕ  dinamakan juga musik “Kataḽa”  yang  berarti burung nuri, juga berarti jambul (paporong/kapseti)
Saḽensehĕ  memiliki  pengertian  lain,  atau   sama  dengan kata  “ḽĕngang” yang berarti “bunyi” , atau “lumaḽĕngang”  yang  berarti “berbunyi”. Saḽensehĕ disamakan juga dengan kata  ḽensehê, “ḽumensehê, masaḽensehang, daḽensang”,   yang berati  “berberbunyi-bunyi”.
Bahasa  “sasahara”  dari Saḽensehĕ  berkonotasi ke beberapa kata  lain  yaitu :
-          “doitĕ”  (uang)  “koin/logam”
-          “saḽiahĕ” (serupa puisi) “mê sasaḽiahĕ”.
-          “mahai” (selatan)  “arah  mata  angin”.
-          “sahai”  (nama pohon  sahai)  . jenis  tanaman gatal
-          “mangsohoang”  ( juga  berarti  gatal) “tanaman  keladi”
Mengapa  kata  Saḽensehĕ  terhubung  erat  dengan  kata  “gatal” ?   Dimasa lalu, bahan baku  Saḽensehĕ terbuat dari  batang  daun  pepaya  atau  bambu tawara (bambu jenis kecil) yang   masih  muda (masih berwarna  hijau atau  belum kering).  Kedua  tanaman  tersebut  terasa  gatal  jika  tersentuh  kulit.
Dalam salah satu versi cerita tentang “sensé  mĕdundé” (kisah  manusia  pertama di Pulau  Siau), selain menggunakan “sĕpȗ” (sumpit : alat  berburu), mĕdundé juga menggunakan Saḽensehĕ. Alat tersebut  digunakan  sebagai pemanggil burung.   Dikisahkan :  Mĕdundé  gemar “berpuisi”,  kegemaran  seperti itu dianggap  juga  sebagai mĕ “Saḽensehĕ”. Alat-alat yang  digunakan  oleh mĕdundé dibahasakan sebagai  Nalang I  mĕdundé” (permainan si Medundé).   Bunyi Saḽensehê  dari  Medundé, tanpa  sengaja telah mempengaruhi Sembilan  bidadari  turun  dari  langit  lalu  mandi  di sebuah  tempat  bernama  “Beong”. 
Sensé Mĕdundé  berasal   dari  kata “sensé”   yang  berarti  “rempah juga cengkeh”,  Mĕdundé   berasal dari  kata “undé”, “mêdundê” yang  berarti “menangis”.  Kata  Sensé Mĕdundé  memiliki  pengertian “Keharuman  tangisan  atau Tangisan  yang  penuh  makna”
Sejak dipersunting oleh Mĕdundé, sang bidadari memperanakkan  dua orang  anak. Anak sulung  menempati  sebuah  tempat di kepulauan  Solok-Pilipin,  lalu dinamai  Pahawon-suḽugĕ. Pahawonsuluge mempersunting “Utahaghi”  lalu  kemudian  menjadi  raja  di Kepulauan Sulu (nama sebuah  kesultanan di Pilipin, yaitu  kesultanan Sulu di pulau Sulu). Dalam  tradisi  lisan  di  pulau  sangihĕ menjelaskan  bahwa orang-orang  dari  “sulugĕ’  Pilipin (pulau Sulu)  adalah  orang-orang  biadap  yang  suka merampok  dan membunuh.
Selanjutnya sang  bidadari memperanakan anak bungsu. Anak bungsu tersebut menempati sebuah  tempat  bernama  Kanawoeng”  dan dinamakan Pahawon-tokḁ. Diyakini  bahwa Pawontoka adalah leluhur  dari raja  Siau  pertama “Lokong banua”.  Pahawontokḁ   berasal  dari kata “Pahawoeng”, dari  kata dasar “nawo” yang  berarti “jatuh” dan  kata “tokḁ”  yang berarti  “melawan, melanggar”.  Secara  harafiah  memiliki pengertian “jatuh  karena  melanggar”. 
Dalam linguistik  Sangir (sangiric linguis), kata  yang  berakhiran fonem  -ng-  (dan  jenis  konsonan serupa) lalu disusul  oleh  kata  yang  berawalan fonem konsonan seperti -b- (dan jenis fonem serupa/hambat bibir) akan  berbunyi  -m-,  sehingga  kata  lokong banua akan  menjadi “loko-m-banua”. Hal  tersebut  terbentuk juga  pada  kata alung banua - menjadi alu-m-banua, patoeng – boba  menjadi pato-m-boba, donang baḽa  menjadi dona-m-baḽa, saheng-balira menjadi sahĕ-m-balira, dll. 
Kata  Lokongbanua atau Lokombanua   berasal  dari  kata “lokong” atau “mĕlokong” yang  berarti “sesuatu, banyak angin/angin besar, putting beliung, putaran, tunduk”.  Lokombanua memiliki  pengertian “sebuah  tempat yang memiliki  angin besar, puting beliung”.  Kata  tersebut serupa  dengan  kata “ lakung” dan “ngaḽipaĕng. “ Lakung” berarti dililit, dilingkarkan, angin dan kata “ngaḽipaĕng,  enggaḽipaeng, kĕngkaḽĕpaĕng”    berarti “napo  atau  tempat  dangkal di pantai, pusaran air  pada  tempat dangkal. Mengenai  “lokongbanua” telah  dikisahkan   dalam  sastra lisan  Sangihĕ melalui Sasahola Laanang Manandú dengan  ungkapan : “ nisuḽe su ngaḽipaeng – ni sumbaḽi tawaraĕng – su ngalipaeng ilokong – tau i lokong banua”. 



VIDEO  AUDIO SALENSEHE  MUSIK
https://youtu.be/x2vsIn92JlY?t=29  
https://youtu.be/x2vsIn92JlY
https://youtu.be/jJaYlkR9AQo
 
 
 

Kamis, 27 Oktober 2016

MENGUAK MISTERI LAGU DAERAH SANGIHE “DI PANTAI ENEMAWIRA”



MENGUAK MISTERI LAGU DAERAH SANGIHE
“DI PANTAI ENEMAWIRA”
Oleh : Alffian W.P. Walukow, S.Pd, M.Pd


                Lagu ini sudah dinyanyikan sejak masa lalu oleh orang-orang Sangir di Sangir maupun di perantauan.  Saat mulai mengadakan penelusuran mengenai lagu ini dari  beberapa nara  sumber  yang umurnya rata-rata diatas 70 tahun.
Beberapa pertanyaan telah saya ajukan :  
(tanya) “Kira-kira kapan mulai mengenal dan mulai tahu menyanyikan lagu ini?”,
(Jawab) Sebagian  besar menjawab :  
”Kita pe tau dari masih Sekolah di SD, torang so ja manyanyi  itu lagu disekolah deng di Musik Bambu, setelah so mulai besar, torang ja manyanyi  di kegiatan Masamper.
Lalu saya  Tanya  lagi : Kira-kira sapa dia pe pencipta ?
 (Jawab)  Tidak ada  yang Tahu.!!!

Karena penasaran, saya mengambil keputusan untuk datang  langsung di Kampung Enemawira (kampung Bengketang), kec. Tabukan Utara. Hal pertama yang   saya lakukan adalah menelusuri jejak pendidikan keluarga Takaleluman di SD GMIST Enemawira sebagai salah satu sekolah tertua di bekas Kerajaan Tabukan. Saya menemukan Jejak tersebut melalui arsip masa lalu yang memuat nama murid dengan nomor induk registrasi (01) bernama  Efraim Takaleluman. Pada  saat itu  terjadi percakapan dengan kepala sekolah  dan  beberapa guru. Merekalah yang memberikan petunjuk bahwa  opa dari  “papa ade”  dari Efraim adalah pencipta  lagu “Di Pantai Enemawira”
                Hari selanjutnya  saya  menemui   anak  dari Bapak Efraim  bernama Andris Takaleluman (umur  71 tahun),  dari pak Andris, sebagian hal mengenai siapa pencipta lagu “Di pantai Enemawira”  mulai terkuak.  Ternyata  benar bahwa keluarga dekat mereka adalah pencipta lagu “Di  Pantai Enemawira”.
Nama ayah  dari bapak Andris adalah  Tonggeng Bantik (nama papoto puide) dengan nama baptis  Johanis Takaleluman. Johanis bersaudara kandung  3 laki-laki dan 1 orang perempuan. Salah satu saudara  kandung (adik) dari bapak Johanis adalah  Serang Takaleluman. Johanis adalah Guru Injil dan Serang adalah guru sekolah. Johanis lalu di tempatkan di kampung Bowongkulu dan dianggap  sebagai pembawa injil mula-mula di Bowongkulu. Johanis lalu menikah dengan orang Bowongkulu dan menetap disana sampai akhir hayat.  Nenek dari Serang di garis keturunan Ayah berasal dari Siau,sedangkan ibu dari  Serang berasal dari Kampung Tariang Lama. Persebaran marga/fam Takaleluman paling banyak di Serei,Likupang.
                Tak ada yang  tahu bagaimana kisah adik laki-laki dari Johanis, tetapi saudara perempuannya menikah dengan bangsawan kerajaan Tabukan dari Marga Sarapil. Sementara itu Serang Takaleluman mulai mengajar sejak di bukanya Sekolah  Dasar Gubernemen kelas 1,2 dan 3 pada tahun 1893 dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, bahasa Sangir  dan bahasa Melayu. Sekolah ini berkedudukan di Enemawira sebagai sekolahnya orang-orang pribumi di kerajaan Tabukan. Anak-anak Raja Tabukan dan bangsawan lainnya  yang menyelesaikan study di sekolah tersebut dikirim ke Minahasa melanjutkan sekolah di Sekolah Raja Tondano.
                Serang Takaleluman lahir di Enemawira pada Tahun 1837.  Orang tua dari Serang adalah pemilik mula-mula tanah di  tepian pantai Enemawira yang  wilayahnya mulai dari Tanjung Bantik atau tonggeng Bantik (sekarang berbatasan dengan kampung Likuang/terdapat rumah makan) sampai ke bukide Leau berbatasan dengan kampung Peta (terdapat makam keluarga sarapil dan keluarga Sinsoe kerabat dekat dari Ireng Maulana musisi Indonesia)
Dimasa mudanya,  “Serang” pernah berhubungan dekat dengan seorang perempuan cantik dari kampung Peta. Serang sangat mencintainya, sehingga  suatu  saat mereka berdua memutuskan untuk menikah. Serang,  lalu meminta ijin orang tua untuk menikah. Apa  yang  terjadi?  Saat waktu persiapan “antar suara” dalam  tradisi Sangir, orang  tua tuanya melarang Serang  untuk menikah dengan gadis tersebut. Betapa kecewanya hati Serang. Selanjutnya dia dijodohkan dengan seorang gadis dari kampung Tabukan Lama. Saat akan “antar suara” ternyata gadis tersebut sudah punya  pacar. Terjadilah perselisihan antara pihak keluarga Serang dengan keluarga pacar  sang  gadis.
                Dua  peristiwa  tersebut  sangat menyakitkan hati Serang. Sejak peristiwa itu, Serang  mulai  mencipta lagu, terutama lagu-lagu Masamper. Pada  suatu  hari,  untuk melampiaskan rasa  sakit  hatinya, Serang menciptakan lagu “Di Pantai Enemawira” pada kisaran tahun 1867 saat  berumur 30 tahun.

DI PANTAI  ENEMAWIRA
Cipt. Serang Takaleluman

Di Pantai Enemawira
Ku duduk dengan murung
Mengenang nasib saudara
Sepri burung terkurung
Reef:     Ke utara, ke utara,peperangan
Ke selatan, keselatan,dilarangan
Hati mana, hati mana, boleh tahan
Sindiran kiri kanan

Di era  sesudah  kemerdekaan RI,  bait reef mulai diadaptasi ke bahasa daerah seperti berikut ini  :
                Sarang dasi, sarang  dasi sinti buhu                           (pergi ke atas pacar baru)
                Sarang bawah, sarang bawah sinti tebe                 (pergi ke bawah pacar lama)
Naung sude, naung sude,maka tahang                  (hati mana boleh tahan)              
Tanude elo hebi                                                                               (dicemburui siang dan malam)
(pengertian bahasa daerah ke bahasa Indonesia oleh : Drs. B. Diamanis, sarjana Sejarah tamatan IKIP Manado. Pembuat , composer, arranger, pelatih music Bambu, pemerhati sejarah dan budaya Sangihe. )
               
Lagu   tersebut  terinspirasi dari kisah cintanya.  Berdasarkan  cerita lisan secara temurun dari keluarga  Takaleluman,  lagu tersebut  diciptakannya di pantai dibelakang rumahnya, dibawah sebuah pohon bernama pohon Dingkaleng. Kebiasaannya  mencipta lagu Masamper mempengaruhi gaya penciptaan Lagu “Di pantai Enemawira” menjadi lagu  bergaya Masamper.
Selama bertahun-tahun sebagian orang Sangir menganggap lagu  tersebut sebagai  lagu  yang berkisah peperangan.  Selama  bertahun-tahun pula, lagu  ini dianggap sebagai lagu rakyat Sangihe(salah satu ciri  dari lagu rakyat adalah  tidak diketahui panciptanya).
Sebagai  bentuk kesetiaan cinta,  Serang tidak menikah  sampai maut menjemputnya karena penyakit Colera  pada Tahun 1928 dalam usia 91 Tahun. Jenasahnya  dimakamkan dipemakaman keluarga (sekarang di jalan menuju kubur umum/kerkop Enemawira) bersama dua adik laki-lakinya  yang  juga membujang sampai akhir hayat.

Ada hal yang unik dari proses penciptaan lagu “Di Pantai Enemawira” yaitu :
1.       Kemampuan Serang dalam membuat  Syair Lagu dalam bahasa Melayu yang  baik.
2.       Kemampuan Serang  dalam mengungkapkan bahasa pragmatis pada  syair lagu. Serang menggaya bahasakan dua dunia (wanita) dengan kalimat “ke utara-ke utara peperangan (ke Tabukan Lama), ke selatan-keselatan dilarangan (ke Peta). Membuat symbol “terkekang” melalui kata “sepri burung terkurung”
3.       Mampu menggambarkan pesan kesetiaan cinta.
4.       Mungkinkah  Serang merupakan  salah  satu pencipta lagu tertua di Indonesia?

PIRUA SERANG!!!!!!



Sebagai bentuk menghargai dan menghormati  jasa dan peran  Serang Takaleluman, saya mencoba menciptakan sebuah lagu yang  mengisahkan cintannya.

DI PANTE ENEWAMIRA
Cipt. Alffian Walukow
Okt.2016
Voc. Silwanus Sasundu


(mengenang kisah cinta Bpk. Serang Takaleluman (seorang guru) dalam lagu  ciptaannya  berjudul DI PANTAI ENEMAWIRA.diciptakan pada tahun 1867. Oleh ketulusan cintannya,dia tidak pernah mencari gadis lain untuk menggantikan cintanya seorang gadis dari kampung Peta  dan tidak menikah sampai akhir hayat. Lahir di Enemawira tahun 1837,meninggal di Enemawira tahun 1928 pada  usia 91 tahun.)

Di pante enemawira
Kita da duduk  sandiri
Nyanda ada orang
Yang  ba tamang

Dapa inga cerita
Dari masa lalu
Di pante ini ta tulis kisah Cinta
yang bekeng manangis

Ada kita pe cinta
Dia yang paling kita sayang
Mar kita pe orang tua
Nyanda kase kita mo kaweng deng dia

Skarang kita so saki hati
Saki skali kita pe hati
Kiapa torang dua
So baku sayang
Kong nyanda boleh mo  kaweng

Mungkin ini memang so takdir
Mungkin ini  memang so terakhir
Kisah Cinta  ini mo jadi cerita
Di pante enemawira

 
Bpk. Andris Takaleluman,kerabat dekat. (duduk diatas makam Serang Takaleluman)