Kamis, 27 Oktober 2016

MENGUAK MISTERI LAGU DAERAH SANGIHE “DI PANTAI ENEMAWIRA”



MENGUAK MISTERI LAGU DAERAH SANGIHE
“DI PANTAI ENEMAWIRA”
Oleh : Alffian W.P. Walukow, S.Pd, M.Pd


                Lagu ini sudah dinyanyikan sejak masa lalu oleh orang-orang Sangir di Sangir maupun di perantauan.  Saat mulai mengadakan penelusuran mengenai lagu ini dari  beberapa nara  sumber  yang umurnya rata-rata diatas 70 tahun.
Beberapa pertanyaan telah saya ajukan :  
(tanya) “Kira-kira kapan mulai mengenal dan mulai tahu menyanyikan lagu ini?”,
(Jawab) Sebagian  besar menjawab :  
”Kita pe tau dari masih Sekolah di SD, torang so ja manyanyi  itu lagu disekolah deng di Musik Bambu, setelah so mulai besar, torang ja manyanyi  di kegiatan Masamper.
Lalu saya  Tanya  lagi : Kira-kira sapa dia pe pencipta ?
 (Jawab)  Tidak ada  yang Tahu.!!!

Karena penasaran, saya mengambil keputusan untuk datang  langsung di Kampung Enemawira (kampung Bengketang), kec. Tabukan Utara. Hal pertama yang   saya lakukan adalah menelusuri jejak pendidikan keluarga Takaleluman di SD GMIST Enemawira sebagai salah satu sekolah tertua di bekas Kerajaan Tabukan. Saya menemukan Jejak tersebut melalui arsip masa lalu yang memuat nama murid dengan nomor induk registrasi (01) bernama  Efraim Takaleluman. Pada  saat itu  terjadi percakapan dengan kepala sekolah  dan  beberapa guru. Merekalah yang memberikan petunjuk bahwa  opa dari  “papa ade”  dari Efraim adalah pencipta  lagu “Di Pantai Enemawira”
                Hari selanjutnya  saya  menemui   anak  dari Bapak Efraim  bernama Andris Takaleluman (umur  71 tahun),  dari pak Andris, sebagian hal mengenai siapa pencipta lagu “Di pantai Enemawira”  mulai terkuak.  Ternyata  benar bahwa keluarga dekat mereka adalah pencipta lagu “Di  Pantai Enemawira”.
Nama ayah  dari bapak Andris adalah  Tonggeng Bantik (nama papoto puide) dengan nama baptis  Johanis Takaleluman. Johanis bersaudara kandung  3 laki-laki dan 1 orang perempuan. Salah satu saudara  kandung (adik) dari bapak Johanis adalah  Serang Takaleluman. Johanis adalah Guru Injil dan Serang adalah guru sekolah. Johanis lalu di tempatkan di kampung Bowongkulu dan dianggap  sebagai pembawa injil mula-mula di Bowongkulu. Johanis lalu menikah dengan orang Bowongkulu dan menetap disana sampai akhir hayat.  Nenek dari Serang di garis keturunan Ayah berasal dari Siau,sedangkan ibu dari  Serang berasal dari Kampung Tariang Lama. Persebaran marga/fam Takaleluman paling banyak di Serei,Likupang.
                Tak ada yang  tahu bagaimana kisah adik laki-laki dari Johanis, tetapi saudara perempuannya menikah dengan bangsawan kerajaan Tabukan dari Marga Sarapil. Sementara itu Serang Takaleluman mulai mengajar sejak di bukanya Sekolah  Dasar Gubernemen kelas 1,2 dan 3 pada tahun 1893 dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, bahasa Sangir  dan bahasa Melayu. Sekolah ini berkedudukan di Enemawira sebagai sekolahnya orang-orang pribumi di kerajaan Tabukan. Anak-anak Raja Tabukan dan bangsawan lainnya  yang menyelesaikan study di sekolah tersebut dikirim ke Minahasa melanjutkan sekolah di Sekolah Raja Tondano.
                Serang Takaleluman lahir di Enemawira pada Tahun 1837.  Orang tua dari Serang adalah pemilik mula-mula tanah di  tepian pantai Enemawira yang  wilayahnya mulai dari Tanjung Bantik atau tonggeng Bantik (sekarang berbatasan dengan kampung Likuang/terdapat rumah makan) sampai ke bukide Leau berbatasan dengan kampung Peta (terdapat makam keluarga sarapil dan keluarga Sinsoe kerabat dekat dari Ireng Maulana musisi Indonesia)
Dimasa mudanya,  “Serang” pernah berhubungan dekat dengan seorang perempuan cantik dari kampung Peta. Serang sangat mencintainya, sehingga  suatu  saat mereka berdua memutuskan untuk menikah. Serang,  lalu meminta ijin orang tua untuk menikah. Apa  yang  terjadi?  Saat waktu persiapan “antar suara” dalam  tradisi Sangir, orang  tua tuanya melarang Serang  untuk menikah dengan gadis tersebut. Betapa kecewanya hati Serang. Selanjutnya dia dijodohkan dengan seorang gadis dari kampung Tabukan Lama. Saat akan “antar suara” ternyata gadis tersebut sudah punya  pacar. Terjadilah perselisihan antara pihak keluarga Serang dengan keluarga pacar  sang  gadis.
                Dua  peristiwa  tersebut  sangat menyakitkan hati Serang. Sejak peristiwa itu, Serang  mulai  mencipta lagu, terutama lagu-lagu Masamper. Pada  suatu  hari,  untuk melampiaskan rasa  sakit  hatinya, Serang menciptakan lagu “Di Pantai Enemawira” pada kisaran tahun 1867 saat  berumur 30 tahun.

DI PANTAI  ENEMAWIRA
Cipt. Serang Takaleluman

Di Pantai Enemawira
Ku duduk dengan murung
Mengenang nasib saudara
Sepri burung terkurung
Reef:     Ke utara, ke utara,peperangan
Ke selatan, keselatan,dilarangan
Hati mana, hati mana, boleh tahan
Sindiran kiri kanan

Di era  sesudah  kemerdekaan RI,  bait reef mulai diadaptasi ke bahasa daerah seperti berikut ini  :
                Sarang dasi, sarang  dasi sinti buhu                           (pergi ke atas pacar baru)
                Sarang bawah, sarang bawah sinti tebe                 (pergi ke bawah pacar lama)
Naung sude, naung sude,maka tahang                  (hati mana boleh tahan)              
Tanude elo hebi                                                                               (dicemburui siang dan malam)
(pengertian bahasa daerah ke bahasa Indonesia oleh : Drs. B. Diamanis, sarjana Sejarah tamatan IKIP Manado. Pembuat , composer, arranger, pelatih music Bambu, pemerhati sejarah dan budaya Sangihe. )
               
Lagu   tersebut  terinspirasi dari kisah cintanya.  Berdasarkan  cerita lisan secara temurun dari keluarga  Takaleluman,  lagu tersebut  diciptakannya di pantai dibelakang rumahnya, dibawah sebuah pohon bernama pohon Dingkaleng. Kebiasaannya  mencipta lagu Masamper mempengaruhi gaya penciptaan Lagu “Di pantai Enemawira” menjadi lagu  bergaya Masamper.
Selama bertahun-tahun sebagian orang Sangir menganggap lagu  tersebut sebagai  lagu  yang berkisah peperangan.  Selama  bertahun-tahun pula, lagu  ini dianggap sebagai lagu rakyat Sangihe(salah satu ciri  dari lagu rakyat adalah  tidak diketahui panciptanya).
Sebagai  bentuk kesetiaan cinta,  Serang tidak menikah  sampai maut menjemputnya karena penyakit Colera  pada Tahun 1928 dalam usia 91 Tahun. Jenasahnya  dimakamkan dipemakaman keluarga (sekarang di jalan menuju kubur umum/kerkop Enemawira) bersama dua adik laki-lakinya  yang  juga membujang sampai akhir hayat.

Ada hal yang unik dari proses penciptaan lagu “Di Pantai Enemawira” yaitu :
1.       Kemampuan Serang dalam membuat  Syair Lagu dalam bahasa Melayu yang  baik.
2.       Kemampuan Serang  dalam mengungkapkan bahasa pragmatis pada  syair lagu. Serang menggaya bahasakan dua dunia (wanita) dengan kalimat “ke utara-ke utara peperangan (ke Tabukan Lama), ke selatan-keselatan dilarangan (ke Peta). Membuat symbol “terkekang” melalui kata “sepri burung terkurung”
3.       Mampu menggambarkan pesan kesetiaan cinta.
4.       Mungkinkah  Serang merupakan  salah  satu pencipta lagu tertua di Indonesia?

PIRUA SERANG!!!!!!



Sebagai bentuk menghargai dan menghormati  jasa dan peran  Serang Takaleluman, saya mencoba menciptakan sebuah lagu yang  mengisahkan cintannya.

DI PANTE ENEWAMIRA
Cipt. Alffian Walukow
Okt.2016
Voc. Silwanus Sasundu


(mengenang kisah cinta Bpk. Serang Takaleluman (seorang guru) dalam lagu  ciptaannya  berjudul DI PANTAI ENEMAWIRA.diciptakan pada tahun 1867. Oleh ketulusan cintannya,dia tidak pernah mencari gadis lain untuk menggantikan cintanya seorang gadis dari kampung Peta  dan tidak menikah sampai akhir hayat. Lahir di Enemawira tahun 1837,meninggal di Enemawira tahun 1928 pada  usia 91 tahun.)

Di pante enemawira
Kita da duduk  sandiri
Nyanda ada orang
Yang  ba tamang

Dapa inga cerita
Dari masa lalu
Di pante ini ta tulis kisah Cinta
yang bekeng manangis

Ada kita pe cinta
Dia yang paling kita sayang
Mar kita pe orang tua
Nyanda kase kita mo kaweng deng dia

Skarang kita so saki hati
Saki skali kita pe hati
Kiapa torang dua
So baku sayang
Kong nyanda boleh mo  kaweng

Mungkin ini memang so takdir
Mungkin ini  memang so terakhir
Kisah Cinta  ini mo jadi cerita
Di pante enemawira

 
Bpk. Andris Takaleluman,kerabat dekat. (duduk diatas makam Serang Takaleluman)



Di Pante Enemawira

https://youtu.be/Olj4bmRXmcY

Selasa, 25 Oktober 2016

Rumah Adat Suku Sangihe BALENG/BALE HOSE (Rumah Ikat)

RUMAH ADAT SUKU SANGIHE

Baleng Hose adalah  bentuk dasar dari pengembangan Rumah Panjang di pulau Sangihe dan di kepulauan Talaud.
dst,...... 




Kamis, 08 September 2016

TEMU KARYA TAMAN BUDAYA SE-INDONESIA DI MANADO

PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA DIMANADO
KISAH SEDIH SENIMAN LOKAL SULUT 
DAN "SEMPURNANYA JARAK DIANTARA KITA"