Rabu, 29 September 2010

SEJARAH WIAU LAPI

116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Dicetak dan di gandakan oleh
Sangihe 2008
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
BAB I
ASAL MULA PENDUDUK MINAHASA
Asal – usul orang Minahasa tidak lepas dari kedatangan nenek
moyang bangsa Indonesia yaitu dari Yunan, China Selatan kurun waktu
3000 – 2000 tahun Sebelum Masehi. Suku Minahasa masih termasuk
dalam ras umum Melayu yaitu Malayan Mongoloid.
PETA DAERAH ASAL PENDUDUK INDONESIA
MIGRASI DEUTRO MELAYU DAN PROTO MELAYU
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
A. LEGENDA TOAR DAN LUMIMUUT
( Manusia pertama di Tanah Minahasa)
Suatu ketika terjadi bencana besar yang menimpa bumi
dan membunuh seluruh umat manusia kecuali KAREMA dan
LUMIMUUT.
Karema adalah Walian perempuan ( imam atau pemimpin
agama ) dan Lumimuut adalah seorang perawan, pelayan dari
Karema. Didorong oleh keinginan untuk memperoleh keturunan,
Karema lalu meminta Lumimuut menghadapkan wajahnya
kebeberapa penjuru bumi sambil berdoa “ Anugerahkanlah
kiranya seorang anak laki-laki kepada Lumimuut.
Pertama kearah Selatan dan berdoa kepada Opo Timu
(dewa angin selatan )
Kedua kearah Timur dan berdoa kepada Opo Sendangan
( dewa angin timur )
Ketiga kearah Utara dan berdoa kepada Opo Amian
( dewa angin utara )
Keempat kearah Barat dan berdoa kepada Opo Awaat
( dewa angin barat pembawa hujan dan kesuburan )
Pada doa yang kempat kali inilah terkabul permintaan dari
Karema. Lumimuut akhirnya memperoleh kehamilan dan
melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Toar.
Karema kembali berdoa agar Toar diberikan seorang isteri dan
Lumimuut diberikan seorang Suami. Untuk maksud itu Karema
memberikan mereka Tongkat.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Kepada Lumimuut diberikan Tongkat dari batang Tuis,
sedangkan untuk Toar diberikan tongkat dari batang kayu assa.
Tanaman Tuis adalah tanaman yang menyerupai lengkuas.
Memiliki buah berwarna orens pada bagian “Tuur”
Tanaman ini kalau dipotong, bagian tengahnya akan keluar beberapa hari kemudian
Karema memerintahkan mereka berdua pergi kearah yang
berlawanan dengan maksud mencari pasangannya masing –
masing. Karema berpesan, Kapan saja dan dimanapun kamu
bertemu hendaklah kamu mengukur panjangnya kedua tongkat
yang kalian bawa.Apabilah panjang tongkat kalian sama, kalian
harus sadar bahwa kalian adalah Ibu dan anak. Tetapi apabila
panjang tongkat kalian tidak sama hendaklah kalian segera
menghadap aku. Setelah mengadakan perjalanan dan terjadi
perjumpaan, didapati Tongkat Lumimuut lebih panjang. Maka
datanglah mereka menghadap Karema, oleh Karema , mereka
berdua dinyatakan bukan Ibu dan anak dan kemudian menjadi
suami isteri. Mereka Kemudian dikaruniakan anak-anak :
Makarua Siou ( dua kali sembilan )
Maka Telu Pitu ( tiga kali Tujuh )
Pasiowan Telu ( sembilan kali tiga )
Anak cucu merekalah yang kemudian disebut Orang Minahasa.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Kajian secara Logika
1. Karema hanya mampu meminta dua kali kepada Dewa
- Membuat Lumimuut Hamil dan memperoleh anak.
- Meminta dewa untuk memberikan pasangan Hidup.
2. Karema tidak sanggup meminta lagi pasangan hidup yang
diberikan langsung oleh Dewa. Tetapi dengan tipuan Karema
memberikan batang Tuis, yang memang kalau dipotong pasti
akan timbul tunas ditengah dan bertambah panjang.
3. Dengan keilahian Karema, merelakan Toar dan Lumimuut menjadi Suami Isteri
meskipun dengan latar belakang Ibu dan anak.
4. Keilahian Karema telah menghilangkan kutukan dewa sebagaimana legenda lain yang
serupa. ( Kisah Sangkuriang )
B. PUTERI YANG TERBUANG.
( Versi lain tentang asal mula Penduduk dan Tanah Minahasa. )
Di kekaisaran Jepang, hiduplah seorang putri cantik anak
dari salah satu kaisar di Jepang. Pada suatu saat sang puteri
melakukan pelanggaran terhadap ayahnya.Ayahnya yang seorang
Kaisar langsung menegakkan peraturan dengan cara menghukum
puterinya itu dengan cara dibuang kelaut. Tetapi oleh pengasihan
ibunya sang puteri diberikan sebuah sampan tanpa sema-sema
atau perahu bolotu. Saat perahu itu mulai diluncurkan sangat
sedihlah hati sang ibu. Lalu diberikanlah sebuah bungkusan kecil
kepada puterinya sambil berpesan,
“ Kalau nanti semua perbekalan diperahu sudah habis
terutama makanan dan kamu sudah tidak ada lagi kekuatan
untuk mendayung menuju daratan lain selain daratan Jepang,
bukalah bungkusan yang diberikan ibu. Didalam bungkusan itu
ada segumpal tanah yaitu tanah leluhurmu, ambil dan
lemparkanlah kelaut”
Maka berangkatlah sang putri dengan linangan air mata.
Berhari-hari, bermalam-malam sudah ia lalui dan tak satupun
daratan ia temukan. Sehingga pada suatu hari saat semua
makanan dan perbekalan lain sudah habis juga tenaganya mulai
melemah maka teringatlah sang puteri akan pesan ibundanya.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Lalu dibukanyalah bungkusan itu dan dilemparkanlah ke laut.
Atas bantuan Dewa, dalam sekejap tanah yang ia lemparkan
berubah menjadi sebuah daratan yang sangat luas.
Turunlah sang puteri dari perahu. Alangkah senang hati
sang puteri menemukan satu daratan yang sangat luas melebihi
luasnya daratan tempat ia berasal. Sang puteri kemudian menjadi
orang pertama yang hidup di Tanah Minahasa.
Konon, tanah yang dia lemparkan adalah Jazirah
Minahasa, merupakan sambungan dari daratan Pulau Sulawesi.
Berdasarkan Legenda lain bahwa dimasa lalu diperbatasan
daratan Minahasa yang dilempar oleh puteri terdapat tanah yang
menyerupai terusan tetapi tidak berair.
Versi lain :
Tanah yang dilempar oleh sang puteri kelaut adalah Pulau Bentenan.
( Salah satu karakter orang Bentenan masa Lalu adalah, berkulit Kuning –
Graffland 1860)
C. LEGENDA PINGKAN DAN MATINDAS
a. Versi Mongondow
Disatu sungai di perbatasan Kerajaan Mongondow dan
Minahasa ada seorang putera raja yang sedang mencuci muka
disungai. Pada saat yang sama oleh mata sang putera Raja
terlihat buah “Kembes” yang hanyut terbawah arus. Semakin
lama ditunggu, buah yang hanyut tak kunjung berhenti.
Disuruhlah beberapa pengawal, melihat apa gerangan yang terjadi
atas. Setelah kembali, para pengawal melaporkan apa yang
mereka lihat. Sang putera Raja beranjak pergi melihat kejadian itu
dan ternyata benar, didapatinya seorang perempuan cantik yang
sedang bermain-main air sungai sambil melemparkan buah
Kembes yang dipetik didekat sungai. Bertemulah sang putera
Raja dengan perempuan tersebut dan memperkenalkan diri.
Beberapa hari kemudian dikirimlah utusan dari kerajaan
Mongondow untuk melamar perempuan cantik tersebut menjadi
pasangan hidup puteranya. Kemudian diketahui bahwa
perempuan itu ternyata adalah Pingkan Isteri dari Matindas.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Peristiwa itu adalah awal dari perselisihan antara Matindas dan
Raja Mongondow.
Penuturuan seorang Guru Olah Raga dari Bintauna
Anggota Badan adat Bintauna.
b. Versi Minahasa
Setelah Pingkan menjadi isteri sang putera Raja
Mongondow yang kemudian menjadi Raja, diumumkanlah
sayembara. Sayembara itu berbunyi “ Yang dapat menangkap
Matindas akan diberi hadiah “
Dicarilah Matindas disemua tempat tetapi tak kunjung
dapat. Didalam istana Raja, terbuka pikiran Pingkan. Pingkan
memberikan satu permintaan kepada Raja yang berbunyi “ Raja
boleh membunuh Matindas dengan satu syarat yaitu : Raja harus
menukar baju Kerajaan dengan baju Matindas sebagai
penghormatan terakhir”.Tanpa pikir panjang, permintaan
pingkan langsung dipenuhi.Pergilah pingkan mengantar baju Raja
Mongondow kepada Suaminya Matindas, di tempat
persembunyian.Setelah mengenakan baju Raja Mongondow,
datanglah Matindas ke Istanah.
Lalu oleh Matindas yang sudah menggunakan baju Raja,
diperintahkanyalah pengawal kerajaan untuk membunuh Raja
yang menggunakan baju dari Matindas.
Maka bergegaslah para pengawal untuk membunuh Matindas.
Para pengawal tidak mengetahui bahwa orang yang mereka
bunuh adalah Raja mereka.
Inilah kisah cinta abadi antara Pingkan dan Matindas yang tak
pernah mati meskipun menggadaikan nyawa.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
D. LEGENDA LIPAN DAN KONIMPIS
( Perang memperebutkan Batas Minahasa Dan Kerajaan Mongondow
berlangsung tiga kali, juga sebagai upaya ekspansi Mongondow ke
Minahasa )
a. Cerita Lipan dan Konimpis, Versi Kampung Wiau-
Lapi.
Pada saman dahulu hiduplah dua orang kakak beradik
disebuah hutan yang terletak di sebelah barat kampung Wiau-
Lapi, tepatnya diperkebunan konimpis. Lipan, adalah anak
sulung, Konimpis adalah anak bungsu. Setiap hari Lipan
bekerja sebagai pemburu dan suka memasak daging tikus.
Sedangkan Konimpis pekerjaannya adalah tukang batipar
saguer (penyadap nira). Oleh kakaknya, Konimpis dijuluki
wolot karena berbadan kecil.
( Daerah Minahasa mengenal bermacam-macam tikus
menurut ukuran besar badan diantaranva adalah ,Te’ bung,
pengala' den, tangkomot, lumalaput, turean, lolak. Worongis,
wolot, tikus kapal. ).
Lipan sisulung berbadan kekar sehingga mendapat
bagian pekerjaan sebagai pemburu. Mereka tinggal di
pinggiran sebuah sungai yang sekarang ini diberi nama
sungai Konimpis. Saat ini nama Konimpis adalah nama
sebuah perkebunan desa Wiau-Lapi yang merupakan wilayah
dari kampung Lapi sebelum bersatu dengan kampung Wiau,
tahun 1890.
Pada suatu saat karena tidak tahan selalu diejek oleh
lipan yang sering memanggilnya wolot terjadilah
perselisihan. Akibat dari perselisihan itu, Konimpis
berpisah dengan kakaknya dan pergi jauh ke wilayah
Kerajaan Mongondow. Oleh karena kepatuhan dan
kepintarannya, konimpis diangkat sebagai salah satu
panglima perang kerajaan Mongondow. Ketika kerajaan
Mongondow mengadakan ekspansi mencoba memperluas
wilayah kekuasaan dengan merampas sebagian tanah
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Minahasa yang saat ini berada diwilayah Kabupaten
Minahasa Selatan. Peperangan demi peperangan
dimenangkannya.
Pada suatu saat Konimpis diutus berperang untuk
merebut wilayah disekitar pegunungan Tareran sekarang,
Pasukan Mongondow dan pasukan Minahasa bertempur
habis-habisan. Pusat kekuatan pasukan Mongondow berada
didesa Pinamorongan sekarang, didaerah pinamorongan
masa lalu terdapat tempat pemancungan kepala orang.
" Pinamorongan asal kata dari pinorongan (ikat kepala) atau
poporong ( jambul ayam) Merupakan julukan untuk pasukan
Mongondow yang selalu berikat kepala. "
Pusat pertahanan para prajurit ( Waraney ) Minahasa
berada di desa Wuwuk. Di tempat ini Tonaas-tonaas
membakar kemenyan. Wuwuk adalah nama sebuah pohon
sebangsa kemenyan yang dipakai sebagai bakaran menyertai
mantera untuk memperkuat pertahanan prajurit Minahasa
yang sedang bertempur dengan kekuatan supra natural.
Prajurit Minahasa diberikan ikat pinggang berisi kekuatan
magic yang disebut Wentel.Wentel dapat berupa batu atau
karimenga sebangsa pohon liar.
Daerah pertempuran antara kedua pasukan. adalah di
Pegunungan Tareran yang membentang dari antena Relay
TVRI (keadaan sekarang) sampai ke perkebunan desa Wiau-
Lapi tepatnya dijalan masuk menuju perkebunan
Kayurangka.Pertempuran yang dilakukan oleh kedua
pasukan memakan banyak korban jiwa. Mayat-mayat
berhamburan disepanjang pegunungan Tareran, baik dari
pihak Lipan maupun pihak Konimpis.
Para tetua kampung Wiau Lapi mengatakan bahwa
mayat-mayat tersebut seperti diatur atau dalam bahasa
Tountembouan disebut airarer, irarer, nirarer, Tempat itu
juga sering dinamai paragesan, (tempat diaturnya mayatmayat)
atau parageyan asal kata ragey (tempat
penyembelihan). Paragesan adalah tradisi menyembelih
korban Manusia. Di kemudian hari menggunakan binatang,
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
untuk dipersembahkan kepada arwah leluhur. Dari kisah
inilah dikenal nama Tareran dengan asal kata Airarer yang
berarti diatur.
Peperangan berujung pada perkelahian antara dua
kakak beradik yaitu Lipan dan Konimpis satu lawan satu.
Perkelahian berlangsung cukup lama karena masing-masing
memiliki kesaktian. Konimpis memiliki kesaktian yang luar
biasa sehingga Lipan tidak sanggup mengalahkannya.
Timbullah siasat Lipan untuk mengalahkan Konimpis dengan
tipuan. Disebuah sungai kecil ( sungai konimpis sekarang)
Lipan merebahkan tubuhnya membentang diatas sungai
seperti sebuah sebuah dodoku (jembatan kecil dai kayu).
Ketika konimpis menyeberangi tubuh Lipan yang dikiranya
Jembatan, maka Lipan mempergunakan kesempatan untuk
menjatuhkan Konimpis kedalam sungai. Perkelahian hebat
terjadi, dan pada saat itulah kedua kakak beradik gugur.
Sebelum mati, Konimpis yang memiliki kesaktian,
memukulkan tangannya ke sebuah batu dan jadilah tanda
tapak tangan.
Peristiwa perkelahian ini terjadi diatas sebuah jeram.
Sedangkan posisi batu masih ada, tapi sudah tidak ada lagi
bekas telapak tangan. Konon pada saat-saat tertentu ada
orang yang bisa melihat batu tersebut dengan cara
mempersembahkan korban sembelihan seekor ayam putih.
Batu tersebut dikenal dengan batu Konimpis ,batu ini menjadi
tanda bahwa pemah terjadi perrnusuhan antara kakak beradik
dan menjadi pesan alamiah kepada penduduk setempat agar
supaya jangan terjadi lagi hal yang sama.
Kisah ini sudah diceritakan secara turun-temurun
didesa Wiau Lapi dan telah ditulis berdasarkan penuturan
dari tua-tua kampung. Selain menjadi nama sebuah
perkebunan di desa Wiau-lapi kecamatan Tareran, konon
nama Konimpis diabadikan menjadi nama sebuah sungai di
daerah Mongondow dengan nama sungai Konimpi'.
Versi lain mengatakan bahwa Konimpis dibunuh oleh
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
seorang anak raja di dsaerah Tombatu dengan Rumput piso
atau Rumput Sarawet ketika sedang pulang Ke Mongondow.
Keturunan dari Lipan adalah Pangkey.
Legenda ini ditulis berdasarkan tutur dan wawancara dengan tua-tua
kampung Lapi sejak 1980-an.
Nara sumber lisan dari : Bpk. Jesaya Pendong (papa dolop), Bpk. J.A.
Senduk, Bpk. R.M. Sambur,Bpk, S.P.Walukow,Bpk.Alexander Walukow,
Bpk . Guru Worotitjan, Oma Palar.
b. Cerita Lipan dan Konimpis berdasarkan Versi orang
Tombatu
Disekitar Sungai Bulilin Tombatu, berdirilah sebuah
kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu. Ratu tersebut
adalah salah satu keturunan dari Pingkan Matindas. Dari sang
Ratu lahir dua orang anak bernama Lipan dan Konimpis.
Beranjak dewasa diberikanlah dua wilayah oleh sang ratu
kepada dua anaknya sebagai tempat mencari nafkah.
Berdasarkan karakter masing-masing, maka Lipan diberikan
wilayah di daerah Kiawa. Kemudian pada satu saat, Lipanlah
yang membangun daerah Lansot dan Rumoong atas.
Konimpis diberikan Wilayah dari Tombatu sampai ke Buyat.
Setiap hari Konimpis bekerja sebagai nelayan di danau Bulilin.
Penuturan Dari, Amir Mamonto
Guru SMP Molompar.Mantan
Guru Seni rupa SMP Negeri
Tareran di Rumoong
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
E. KAJIAN TERHADAP KATA TARERAN
Perkebunan bernama Konimpis didesa Wiau-Lapi dan
sungai bernama Konimpis yang menyeberangi perkebunan
Pawunongan menjadi acuan bahwa Legenda Lipan dan Konimpis
terjadi di Desa Wiau Lapi.
Legenda Lipan dan Konimpis adalah Legenda yang lahir sebagai
akibat dari masalah “ma’kere “ ( memindahkan batas tanah )
perbatasan antara Minahasa dan Mongondow.
Dari peristiwa itulah kemudian lahir pengistilahan
Rinareran pada daerah disekitar puncak Tareran, termasuk
didalamnya Kampung Wuwuk, Rumoong atas dan Wiau Lapi
( tidak termasuk Lansot ). Jika kita mengambil kata Tumareran
berarti sekelompok orang dari Tareran.
Tetapi tidak ada bukti bahwa nama Tareran berasal dari kata
Taar - era. Istilah Tareran bukanlah suatu pemberian, tetapi
suatu pengistilahan yang sudah melalui proses penamaan secara
tidak sengaja oleh orang-orang yang tinggal disekitar puncak
Tareran dan mengalami proses perubahan oleh dialek orang yang
mengucapkannya.
Kata Taar era yang diartikan sebagai “pesan mereka”
adalah makna penting dari peristiwa, bukan pesan langsung dari
mulut Konimpis atau Lipan, juga bukan pesan dari cerita. Bukti
yang menguatkan bahwa Tareran berasal dari kata Ai-rarer,
Rinareran, Parareran dan paragesan, rinagesan, adalah legenda
itu sendiri yang berarti tempat diaturnya mayat, mayat-mayat
yang berderet, tempat penyembelihan.Tidak ada satu istilah
yang menjadi nama kampung, mampu bertahan selama beratus
tahun tanpa perubahan yang sangat signifikan .
Kata Tareran dari kata Taar era ( Menurut Drs. A. J.
Wawointana ) hanya mengalami pengurangan vocal “ a” dan
penambahan konsonan “ n “
Contoh beberapa pengistilahan yang mengalami perubahan oleh
proses dialek selama beratus tahun seperti :
- Minahasa berasal dari kata : Malesung, Makalisung, Maesa,
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Minaesa, Nimaesa, terakhir
Minahasa
- Manado berasal dari kata : Manarou (dari kata bahasa
sangihe “ marau” ), Wenang,
terakhir Manado
Tareran adalah tanah terakhir yang mampu dimasuki
Pasukan Kerajaan Mongondow setelah kalah di Kayuuwi.Untuk
mempertahankanya diutuslah para waraney dari daerah lain.
Ada dua orang utusan dari daerah Tonsea Rimper dan Dotulong,
mereka memiliki keahlian menterjemahkan suara burung Wara’
atau Burung Manguni beberapa hari sebelum pertempuran.
Bukti kuat yang menjelaskan bahwa mereka orang Airmadidi
(suku Tonsea), adalah Waruga ( disamping Balai desa Lansot
sekarang ). Pada saat itu hanya dikenal daerah Pegunungan
disekitar Rumoong, belum ada kampung Lansot ( Graffland,
1860 )
Budaya Waruga tidak dikembangkan di Tareran. Waruga di di
Desa Lansot memiliki gaya yang sama dengan Waruga-Waruga
di Sawangan, Airmadidi
Nama – nama kampung yang teradaptasi akibat Perang
Minahasa - Mongondow diantaranya adalah :
Kayuuwi, Rumoong, Wuwuk, Pinamorongan, Tumpaan, Lompa’,
Tambelang, daerah aer anjing, Sinisir dan Poigar dan beberapa
kampung lain.
Legenda “ Nasija Mongondow “
Orang Mongondow tidak membakar nasija di bulu
Tambelang. Karena bulu Tambelang pernah digunakan sebagai
tombak untuk membunuh pasukan Mongondow di daerah
perkampungan Tambelang. Nasija Mongondow asli hanya
dibungkus dengan daun Elusan atau daun Laci ( lecit ) lalu
direbus dengan santan. Sedangkan nama nasija Mongondow
sekarang adalah adaptasi dari kata bahasa sangir Bahundak
dengan arti nasija.
Manarou adalah nama Tua dari Manado, diadaptasi
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
yang dimasa lalu adalah pusat kerajaan Bowontehu.Raja Kerajaan
Bowontehu pertama adalah Mokodolughu anak dari raja pertama
kerajaan Mongondow. Raja Mongondow pertama adalah
Waruga Rimper Dotulong di Desa Lansot, kec. Tareran
Waruga Sawangan Airmadidi
dari kata Marau (bahasa sangihe , yang berarti jauh)
Pulau Manado tua adalah Kedatuan sangihe tertua
keturunan dari Sultan Cota Bato Philliphina.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
BAB II
SEJARAH SINGKAT MINAHASA
A. SAMAN PRASEJARAH – pre history
( saman sebelum mengenal tulisan )
Sejak saman purba sudah ada kehidupan di Tanah Minahasa.
Bukti bahwa sudah ada kehidupan di zaman purba adalah
ditemukannya batu bergoresan tanpa arti di Desa Pinawetengan,
Waruga, Kubur batu diLikupang (sarkofagus) , Flakes ( perhiasan
yang terbuat dari batu yang indah ), Lesung batu Besar di Sekitaran
Motoling.
Meskipun ditemukan bangunan yang terbuat dari batu besar
tidak berarti bahwa bangunan itu di buat disaman Megalitichum.
Sebab ciri bangunan batu yang dibuat disaman batu besar masih
kasar, sedangkan lesung dan waruga yang ditemukan di Minahasa
adalah hasil karya manusia purba yang hidup disaman logam.
Nama Minahasa adalah hasil perjalanan panjang sejarah Malesung.
Malesung berasal dari kata Lesung yang berarti Tempat menampung
air atau istilah lain tempat menumbuk padi.
B. PEMBABAKAN SEJARAH MINAHASA
1. Jaman pra Malesung, ± 2000 bc – 700 bc
2. Jaman Malesung, 700 bc – 1428 masehi
( bersamaan waktunya dengan kejayaan Raja Erlangga 990 – 1042 )
3. Jaman Minaesa, 1428 – 1523
4. Jaman Minahasa, 1523 – sekarang
Portugis tiba di Minahasa tahun 1523
Spanyol tiba di Minahasa tahun 1606
Belanda tiba di Minahasa tahun 1655
Tidak diketahui, kapan orang Minahasa mulai mengenal Tulisan,
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
yang diketahui adalah orang Minahasa hanya mengenal huruf lati
sejak masuknya orang Eropa di tanah Minahasa.Tetapi bukti dari
Tombulu mengemukakan bahwa tulisan orang Minahasa terbentuk
dari sekumpulan gambar seperti Huruf masyarakat Mesir Kuno.
Dibawah ini contoh tulisan yang dibentuk dari sekumpulan
Gambar dan dipahatkan di kayu menghasilkan karya enggrafing.
Hasil karya ini mebuktikan bahwa kehidupan orang Minahasa
yang berkarya di saman Logam.
a. Tahun 700, lahirnya deklarasi Maesa I.
sejak saat itu diketahui bahwa ada 4 anak
yaitu :
1. Puak Tonsea mendiami Minahasa bagian Utara
2. Puak Toumuung mendiami Minahasa Tengah bagian Barat
dan Barat daya.
3. Puak Toulour mendiami Minahasa
Tenggara.
4. Puak Tountemboan mendiami Minahasa bagian selatan
sampai sungai rano i apo
b. Tahun 1428
latin
( karya seni rupa dalam bentuk cukilan
dan goresan dengan menggunakan
benda tajam dari logam )
, puak mula-mula
Tengah bagian Timur dan
apo.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Tahun ini adalah patokan penghitungan hari jadi Minahasa
karena pada waktu itu lahir Deklarasi Maesa II yang ditandai
dengan Musyawarah Watu Pinawetengan. Saat yang sama ketika
Malesung diubah menjadi Minahasa dan munculah 9 puak (sub
etnis) kemudian menjadi 7 sub etnis.Watu Pinawetengan adalah
bukti yang menunjukan bahwa Orang Minahasa sudah ada sejak
Zaman Pra sejarah, tepatnya dizaman Megalitichum ( Zaman
Batu Besar )
Sekarang dikenal 7 Sub Etnis.
1. Puak Tousingin menjadi sub etnis Tonsawang mendiami
tanah yang dulunya kosong disekitar danau Bulilin.
2. Puak Pasan Wangko mendiami Ratahan – Bentenan.
3. Puak Ponosakan mendiami Belang dan sekitarnya
4. Puak Bantik mendiami pantai-pantai berbatasan dengan
Tombariri sampai wori.
5. Puak Bobontehu yang mendiami pulau-pulau sekitar
Minahasa.
6. “Pasan – Ponosakan” berasimilasi menjadi satu.
7. Bantik - Bobontehu juga menjadi satu,
Bobontehu berasal dari kata bahasa sangir Bowontehu,Bowongkehu (diatas pohon)
Bowontehu – Manarow (Manado tua) adalah salah satu kedatuan asli Sangihe sebelum
datang Bangsa Barat, didirikan oleh Datu Mokodolughu
abad ke X. Kedatuan Karangetang (di Siau) didirikan oleh Pangeran Bowontehu yang
bernama Lokongbanua- II pada abad ke XVI sekitar tahun 1510 - 1540 “.
c. Tahun 1523 awal kedatangan penjajah Barat di Tanah
Minahasa dimulai dari Spanyol, Portugis, kemudian
Belanda.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
BAB III
SEJARAH DESA WIAU LAPI
A. Asal usul nenek moyang orang Wiau Lapi.
Di bawah ini urutan beridirinya kampung berdasarkan
perjalanan Dotu sejak dari Pinawetengan ketika dilakukan
pembagian wilayah. Wanua Tombasian adalah Wanua pertama
yang didirikan oleh suku Tompakewa (Tountemboan) sejak
pertemuan pertama di watu pinawetengan, wanua Tombasian
didirikan oleh Dotu Kopero, Pandeiroth, Kalangi dan lain-lain.
Kopero adalah ketua Mahasa pada pertemuan di Pinawetengan.
Dari Tombasian lahir Kerengis, dan Piay pendiri Kayuuwi. Dari
Kayuuwi lahir Karisoh, Lalawi, Mangentas, dan Tantereng
pendiri Kawangkoan.
Dari Kawangkoan keluar Taranak-taranak yang mendirikan
Lansot, Lapi, Wuwuk, Koreng, Kaneyan, dan Paslaten.
Wanua Sonder Tua didirikan oleh Dotu Keintjem, Toporundeng,
Palar, Mangowal, dan Pesik, pada tahun 1847, kemudian lahirlah
perkampungan Kuntung, Sendangan,Tounelet,
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Kauneran, Talikuran, Tincep, Leilem, Timbukar, Suluun,
Tangkunei, Pinapalangkow, Kapoya, Munte, Pinaling, Lelema,
Popontolen, Tumpaan, Matani, Tenga, Pakuweru dan Pakuure.
Dari Langowan, tonaas Lampus, Waani, Palandeng, Kalangi, dan
Tumbelaka bersama taranak-taranak mereka berjalan ke barat lalu
mendirikan Kampung Rumoong dipegunungan Tareran, didekat
Rumoong mereka Tumani Wiya’u, Talaitad, Pinamorongan.
Diperkirakan nenek moyang orang Wiau Lapi berasal dari
daerah Kiawa, Langowan, dan dari daerah Kumawangkoan
lainya yang berpindah tempat karena kepentingan membuka lahan
baru pertanian. Mereka menuju ke Wiau Lapi dengan melewati
Sungai Tuu,nan diperkebunan Tuu,nan, Kampung Tombasian
Atas, dan Rumoong atas.
a. Latar belakang Kedatangan penduduk dari daerah
Sonder, Kawangkoan dan kiawa.
Alasan kedatangan penduduk dari Langowan dan
Kumawangkoan adalah :
- Kedekatan wilayah.
- Dotu Tumewang Berasal dari Langowan.
- Letak perkebunan Kiawa dan Perkebunan
Wiau Lapi saling berhubungan.
- Kiawa adalah salah satu desa tertua di
Minahasa
Bukti yang menguatkan bahwa nenek moyang orang
wiau dan lapi berasal dari daerah tersebut adalah,
memiliki kesamaan dialek dengan daerah asal. Bahasa
Tountemboan dengan dialek Sonder dan Kawangkoan,
yaitu dialek Matana’ i. Daerah yang menggunakan dialek
Matana’ i adalah : Sonder dan Kawangkoan
Daerah yang menggunakan dialek Makela’ i adalah :
Tompaso, Langowan, Rumoong Bawah, Amurang dan
Tompaso Baru.
Kata Maa’rem, cawok, dan co’ko ( matana, i ) dan Maa’
lem, kawok dan ko’ko (makela’ i)
b. Dotu – dotu yang pernah datang di daerah Rumong
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Atas adalah :
1. Dotu LONSU
2. Dotu TUMEWANG
( dalam Buku karangan E.V. Adam. Mengatakan bahwa Tumewang
adalah salah satu cucu Toar dan Lumimuut yang memilih tinggal di
Kema. )
3. Dotu MOTANG ( dari Rumoong bawah )
4. Dotu MAWOLE ( perempuan )
5. Dotu MANIMPOROK ( perempuan )
6. Dotu SAGE
7. Dotu PALANDI
8. Dotu MAMARIMBING
Nama dari salah satu anak Toar dan Lumimuut yang berarti Wara
imbing = Burung yang memiliki macam-macam warna. Tugas
Mamarimbing adalah menangkap bermacam-macam
Burung.
( berdasarkan catatan kantor desa Rumoong Atas dan tulisan
pada batu di halaman sekolah SD Rumoong atas .)
c. Beberapa nama kampung di kec. Tareran
berdasarkan urutan tahun berdirinya :
1. Pinamorongan 1501
2. Lansot 1560
3. Rumoong Bawah 1570
4. Tumaluntung 1580
5. Kapoya 1607
6. Suluun 1622
7. Rumoong atas 1650 / 1700
8. Ka’ neyan 1669
9. Wiya’u 1670
10. La’pi 1679
11. Talaitad 1750
12. Pinapalangkow 1850
13. Wiau Lapi 1890
14. Suluun II 1978
(dari buku : Minahasa Tanah Tercinta )
B. Sejarah Kampung Wiya’u
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Bekas perkampungan Wiau yang dijadikan kuburan umum.
a. Berdirinya kampung Wiya’u
Kampung Wiya’u didirikan pada tahun 1670.
Pemukiman orang Wiya’u tertua adalah di sebelah timur
kampung Wiau Lapi sekarang tepatnya di sebelah Selatan
pekuburan Umum Wiau. Perkampungan Wiya’u tua dibangun
di antara pepohonan Kemiri atau Wiya’ u ( bahasa
Tountemboan). Dari latar sejarah inilah maka perkampungan
tersebut kemudian bernama Kampung Wiya’u.
Pada suatu saat penduduk kampung terserang satu
wabah penyakit yang mematikan ( kemungkinan Kolera )
Wabah ini berjangkit tahun 1800, maka perkampungan
berpindah kearah barat sampai di Rumah Kel. Senduk Somba
(sekarang). Di areal tersebut terdapat satu pohon manggis yang
berumur ratusan tahun, kemudian tempat ini dikenal dengan
nama Mangustang. ( orang sering menyebut “ mico pe ang
mangustang” ) pohon tersebut pernah tumbuh di Samping
Lorong Kalangi sebagai salah satu tanda batas antara Wia’u
dan Lapi.
Kepala desa pertama adalah TUMEWANG 1670 - 1710
Tumewang yang dijuluki juga Lumambot adalah seorang
pemberani yang selalu ditugaskan untuk melerai perkelahian
atau menjadi penengah dalam peperangan. Tumewang pernah
ditugaskan untuk melerai peperangan yang terjadi didesa
Warembungan untuk mengusir orang-orang bantik dan
diberikan hadiah seorang perempuan untuk dijadikan isteri.
Dengan isterinya di Warembungan sempat mendapat
keturunan. Pernah ditugaskan untuk melerai Peperangan yang
terjadi di Langowan dan di Mongondow. Dotu Tumewang
dikenal dengan panggilan Ko’ko’ in talung (ayam hutan)
Kesaktiannya ada pada 3 ujung sapu lidi dan satu lembar
daun woka.
(Lumambot adalah nama anak dari Opo Wawo Rumambitan
yang memilih tinggal di Tonsea lama pada masa lalu, E. V. Adam )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Kepala Desa ke 2 diperkirakan Le’sar
Kepala desa ke 3 Arnold Kalangi
Memerintah sebagai Ukung Tu’a 1884 - 1890
(Arnold adalah keturunan dari Dotu Tumewang
Yang pertama kali membawah marga Kalangi )
Lahir 1844 dan meninggal Tanggal 28 Agustus 1903,
Umur 58 tahun.
b. Bukti Sejarah
Yang membuktikan bahwa pernah ada perkampungan tua
di Wiau adalah ditemukannya Batu yang disebut Watu
Tumani / Tumotowa, batu pertanda didirikannya
perkampungan. ( dahulu digunakan sebagai tempat
berkumpul, Tumotowa berasal dari Kata Towa yang berarti
Panggil ) terletak di depan rumah Om Bung Mondoringin,
Tumani (berarti ditahbiskan)
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Watu Tumani / Watu Tumotowa Kampung Wiya’u
Batu tumotowa kampung wiya,u’ diletakkan oleh
Dotu Le’ sar, sebagai tanda berdirinya kampung Wiyau
yang baru. Batu ini pernah di bongkar pada saat pembuatan
jalan Wiau Lapi tetapi alat yang digunakan untuk
membongkar mengalami kerusakan.
Bukti lain adalah Prasasti Makam, diantaranya
Makam dari : Arnol Kalangi ( Hukum Tua )
Makam ini diperkirakan Isteri dari Mamusung
Kelahiran 1838 – Meninggal 1925
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Pusara dari, P. Mokalu, Juru Tulis Tua
Pusara Dari Daniel Punu Dan Pendeta Turangan
C. Sejarah kampung Lapi
a. Berdirinya kampung La’pi’
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Kampung La’pi’ didirikan pada tahun 1679.
Keberadaan Kampung Lapi masa lalu tidak dapat
dipisahkan dari perjalanan Dotu Lonsu. Dotu Lonsu tiba
di areal perkampungan Lapi tua ( disekitaran rumah Kel.
Prok Manengkey sampai di belakang SD Inpres )
Dotu Lonsu membuka lahan perkebunan secara berpindahpindah
sebagaimana kebiasaan orang-orang masa lalu,
mulai dari lour wangker Rumoong sampai ke lour
wangker Lapi.
Di areal Gereja GMIM Imanuel sekarang, adalah
tempat didirikannya sabua ( lawi / terung ) sebagai tempat
pengeringan jagung juga sebagai Lumbung oleh dotu
Lonsu. ( kebiasaan orang Minahasa dulu adalah,
menanak nasi dari beras milu yang difufu) Tempat fufu
atau Solimai ( lumbung milu ) dibangun didalam sabuah.
Karena kesuburan tanah dan keahlian Dotu dalam
bercocok tanam maka hasil yang dipanen selalu melimpah
ruah.Setiap kali di simpan di dalam Solimai, bambu yang
menopang lumbung sering patah ( ma le’pi’ ) le’pi’
berarti patah karena berat.Begitu juga jagung yang siap
panen selalu patah karena buah jagung terlalu besar dan
berat. Dengan latar cerita inilah maka dinamakanlah
tempat tersebut sebagai Le’,pi’ selanjutnya berubah
menjad La’ pi’ atau Lapi’.
Leluhur orang Lapi mempunyai kemampuan yang
cukup baik dalam menata Kampung, terbukti dengan :
1. Penataan Kampung yang dibahagi 3 jalan raya.
2. Setiap rumah harus menghadap jalan raya.
3. Kedudukan Kampung mengikuti arah matahari Terbit
sampai terbenam. Penataan Kampung Lapi yang
seperti saat ini adalah hasil rancangan leluhur dimasa
lalu meskipun pada waktu itu penduduknya masih
sedikit. Tidak ada arsitektur Kampung dikecamatan
Tareran yang menyerupai Kampung Lapi.
Pada masa lalu perkampungan selalu dibangun di
dekat sungai atau mata air.Satu-satunya sumber mata air
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
diperkampungan pada waktu itu adalah di areal Gereja
GMIM Imanuel sekarang.
Pada Perkembangan selanjutnya ditetapkanlah penggalian
sumur berdasarkan Jaga/dusun.Memisahkan Sumur
Tempat Mandi,cuci dengan sumur air minum.Memisahkan
Tempat Mandi Laki-laki dari Tempat mandi Perempuan.
Kepala Kampung Pertama adalah Waraney 1679 - …..
( Waraney adalah gelar yang diberikan kepada seorang
pemberani atau seorang perajurit perang, perkiraan sementara
Waraney adalah orangtua dari Mamusung yang bernama
Wulan )
Kepala Kampung kedua adalah MAMUSUNG 1841 – ..
Setelah dibaptis, Mamusung diberikan nama Abram
Sinaulan. Mamusung adalah orang pertama yang
membawah Marga Sinaulan. Sinaulan berasal dari Kata
Sawel, Sinawelan ( berarti diganti ) atau dengan arti lain
Sina,u’ ( berarti nasehat ). Rumah Abram Sinaulan di
Sekitar SD GMIM. Kematian Abram Sinaulan karena
mengejar Sapi, lalu jatuh dan tertusuk benda tajam, dari
luka itu terjadi infeksi.
Kepala Kampung ketiga Egeten
Lahir : tahun 1811 - meninggal 29 maret 1897
( Posisi rumah Egeten terletak di rumah dari kel. Kostor
Worotitjan Kalangi ) Egeten memperanakan dua anak
perempuan.Dari dua anak tersebut tidak ada satupun yang
kawin.Egeten mempunyai seorang anak angkat dari marga
Soputan yang memperanakan Hendrik Soputan Hendrik
memperanakan Katerina Soputan (suaminya Kalangi)
Katerina memperanakan Ona Kalangi, Nona Kalangi,
Unggu Kalangi, Demsy Kalangi.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Makam dari Egeten
Kepala Kampung keempat Le’ sar ……- 1889
b. Bukti sejarah
1. Tembikar atau gerabah
Bejana Gerabah ( Kure /belanga tanah) dari bahan
tanah liat ditemukan dihalaman Rumah Kel. Timbong
Punu sebagai peralatan rumah tangga masa lalu.
Posisi dua belanga saling menutup. Benda ini
dinyakini sebagai tanda berdirinya kampung, karena
di kampung tidak ditemukan Watu
Tumotowa atau Watu Tumani.
2. Kuburan Tua orang Lapi
Kuburan tanpa nisan, dari batu kuala dan batu apela
atau domatu, membentang ke utara dari halaman
rumah Kel. Kalangi Wahani sampai di Rumah Kel.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Prok Sumual dan ketimur Sampai
Sinaulan Worotitjan
3. Makam Dotu Mamusung
Tempat Tinggalnya,di SD GMIM sekarang. Makam
ini dipindahkan dengan alasan, setiap orang yang
bermain sepak bola dan lewat dibatu tersebut se
terjatuh dan harus terluka
Diperkirakan, Abraham Lahir dikisaran tahun 1802
Dengan umur 100 Tahun ( Meninggal 1902 )
Hukum Toea Lapi
Kepala jaga
Hukum Kepala negeri
Hukum Toea
Minta Goeroe
Dapat Goeroe
Mati
ke rumah kel.
Worotitjan.
di Temukan di bekas
selalu
Heirat oleh :
A. Sinaulan
1880
1889
1841
1864
1885
1902
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Rekonstruksi Tulisan pada makam Abram Sinaulan
setelah di perjelas berdasarkan tulisan asli
menggunakan huruf latin dalam
Bahasa Melayu Baru ejaan Van Opusyen dan Soewandi
D. Kampung Wiya’u dan kampung La’pi’ dipersatukan
tahun 1890
Kampung Wiya’u dan La’pi’ dipersatukan pada saat
penduduk Minahasa setahun kemudian berjumlah 151.000 orang
( catatan Residen Manado 1890- an, tentang jumlah keadaan penduduk )
Antara Kampung Wiya’u dan Kampung La’pi’ sering terjadi
perselisihan yang berujung pada peperangan antar kampung. Hal
ini disebabkan oleh keberadaan dua kampung ini yang berasal
dari komunitas masa lalu yang berbeda. Cara berbahasa orang
Lapi dengan orang Wiau dimasa lalu berbeda dialek. Orang Lapi
berbahasa Tountemboan dengan dialek Matana’ i , sedangkan
orang Wiau berdialek Makela, i.
Atas inisiatif dari Abram Sinaulan dan maka
dipersatukanlah kampung Lapi dan kampung Wiau pada tahun
1890 dengan kepala kampung pertama ARNOLD KALANGI.
Alasan lain Penyatuan kampung adalah untuk menghindari
tekanan dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
( penjelasan J. J. Rantung dalam tulisan “ Suatu Tata Cara Pembagian
Warisan Didesa Wiau lapi “ karya C.O. Kalangi, Fakultas Hukum
UNSRAT – 1980-an )
a. SUSUNAN KEPALA KAMPUNG WIAU LAPI
1. Arnold Kalangi 1890 – 1903 ( bukan 1905 )
( sesuai catatan dipapan data )
2. Jeheskiel Punu 1905 – 1925
3. Fredrik Winerungan 1925 – 1950
Fredrik Winerungan dua kali menikah :
Dari Isteri pertama memperanakan :
· Kel. Kalangi Winerungan
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
· Tete’ Pangukur Winerungan
· Hein Winerungan
· Welem Winerungan
· Satu perempuan di Lelema.
Dari Isteri kedua Worotitjan memperanakan :
· Mas Winerungan
· Ungke Winerungan
· Lin Winerungan
4. Wellem Tombeng 1950 – 1952
Wellem Tombeng berasal dari Kakas, menikah
dengan Timban dan oleh sesuatu masalah pindah
ke Dumoga, Wellem Tombeng adalah orang
pertama yang mendirikan Koperasi Petani di Wiau
Lapi dan orang pertama yang memiliki Mobil
dikampung Lapi.
5. Servius A. Rantung 1952 – 1954
Menikah dengan Adelina Kalangi
dan Memperanakan Hendrik dan Elsye
6. Hendrik Winerungan 1954 – 1959
Menikah dengan Lumangkun, memperanakan
- Desmon Winerungan
- Nyong S. Winerungan.
7. J. J. Rantung 1959 – 1962
Menikah dengan Mondoringin, memperanakan :
Stientje, Selvi, Yoke, Beni, Nus, Nona
Yodi, Jois, Diane.
8. Servius A. Maun (pejabat sementara)1962 – 1963
Menikah dengan Sambur kemudian
Pindah ke Bombanon, Bolaang
Mongondow dan Menjadi Sangadi ( kepala desa )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
9. Hendrik Winerungan Pebruari 1963 –Juni 1963
(pejabat sementara)
10. J. J. Rantung 1963 – 1991
11. L. J. Mokalu April 1991 – 1999
(periode paling lain yaitu 8
tahun bukan periode 5
tahun)
12. Yotje Posumah, BA 1999 – 2005
13. Serma Polisi Max Prok 2006 -
( data ini dilengkapi dengan data yang diambil oleh penulis
dari papan data Kampung Wiau Lapi pada Tahun 1987 di Kantor desa )
b. Perangkat pembantu Tugas-tugas Hukum Tua.
Desa Wiau Lapi termasuk salah satu desa yang
berada di Puak / sub etnis Toutemboan yang mendiami
daerah Minahasa Bagian Selatan Sampai ke Sungai
Ranoiapo. Pada masa lalu Pernah menjadi bagian dari
wilayah Distrik Sonder, Kawangkoan,Tumpaan dan
Amurang. Wiau Lapi juga termasuk dalam wilayah
Pakasaan Rumoong.
Setiap persekutuan hukum atau walak dipimpin oleh
seseorang yang disebut “Ukung Tua”. Di masa VOC
diganti dengan istilah Belanda Hukum Mayoor kemudian
di masa Pemerintahan Kolonial Belanda diganti lagi
menjadi Hukum Besar atau Mayor. Kemudian menjadi
Kepala kampung seterusnya Hukum Tu ’a im walak.
(Hukum Tua)
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Tahun 1824 Belanda hanya mengakui 27 walak.
Kumpulan beberapa walak disebut Wanua, tetapi oleh
Belanda pada tahun 1896 disebut Pemerintahan distrik.
Tingkatan yang lebih tinggi dari Wanua adalah Pakasaan.
Ukuran persekutuan hukum dalam masyarakat adat
Minahasa :
- Keluarga dan taranak yang mendiami rumah
panjang. (rumah ini panjangnya mencapai 30
sampai 40 meter) Dirumah inilah hidup satu
taranak keluarga mulai dari yang tertua sampai
keanak cucu. Rumah seperti ini pernah di
dijumpai oleh Graffland didaerah Kapoya dan
Pinamorongan.
- Dari rumah panjang kemudian terbentuklah
Walak. Walak adalah persekutuan hukum yang
terbentuk dari beberapa keluarga.
- Dari Walak kemudian terbentuk persekutuan
hukum yang berbentuk Wanua. Wanua inilah
yang menjadi dasar terbentuknya sebuah
kampung.
- Persekutuan Walak yang semakin besar
kemudian menjadi persekutuan hukum yang
disebut Pakasaan.
- Persekutuan hukum Pakasaan yang semakin
besar membentuk persekutuan hukum yang
dinamakan Puak. Persekutuan hukum Puak
adalah persekutuan hukum yang terbentuk dari
latar belakang kehidupan yang sama seperti,
tempat tinggal yang berdekatan, bahasa yang
sama dan tradisi yang sama.
- Dari persekutuan hukum Puak kemudian
menjadi anak suku (sub ethnic) seperti, sub etnis
Tountembouan.
- Kumpulan dari beberapa anak suku di Minahasa
terbentuklah Suku Minahasa.
c. Perangkat kampung yang pernah menjabat.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Hukum Tua dibantu oleh Juru Tulis, Pangukur Tanah,
Mantri Air, Kepala Jaga Polisi dan Tukang Palakat.
1. Juru Tulis sampai Sekdes
- Jakob Sinaulan lahir 1821 meninggal 8
Januari 1901
- Adam Tuju lahir 1850 meninggal 18
April 1913
- Johanis Sinaulan 1895 - 1967
- P. Mokalu meninggal 21 juni 1922
- Worotitjan
- Ephaprodithus Sengkey
- Eles kalangi
- Niko Lapian ( dua kali )
- Didi Aseng
2. Pangukur Tanah
- Servius Winerungan
- J. P. H. Mokalu
- Mangore
- Max Mokalu.
3. Mantri Air ( jabatan ini ada sejak lahirnya
politik etis 1920-an )
-
-
- Bernard Rantung
4. Kepala Jaga Polisi
- Yesaya Paendong
- Yos Lapian
- J. A. Senduk
- Noh Rompas
- Hengky Towoliu
5. Tukang Palakat
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
( membantu mempublikasikan kepentingan desa
dengan cara berteriak sepanjang kampung yang
berisi pengumuman )
- Lodewijk Soputan
- Menaseh Sengkey
- Andi Lumangkun
5. Kepala jaga Meweteng
- Joel Kalangi (Wiau) - Jan Karundeng,
meninggal 1931 meninggal 3/12/1938
- Alo Rori -
- Jesaya Prok - Alo Kondoi
- Piter Prok -
- Ampel Punu - Noh Maun
- Pit Soputan - Dedy Maun
- Noh Maun - J. N. Mokalu
- Pitong Sumual - Alexander Walukow
- Max Pangkey - Edi Prok
- Dance Sinaulan - Hengky Wahani
- Zet Rantung -
- Sendow -
- Noh Rompas - Alo Kaani
- Olga Sumendap - Soni Maun
- Jus Sumendap - Jhoni Manengkey
- Jance Senduk - Noh Lontaan
- Jhoni Maun - Femy Waney
6. Kepala Urusan di Kampung
1. Alo Rantung
2. Niko Sengkey
3. Rin Soputan
4. Joke Tambun
5. Max Mokalu
7. Ketua LSD Ketua BPD
Yan Aseng Mathias Merukh
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
J. A. Senduk Jhoni Rompas
8. Ketua LKMD
Frets Soputan
Drs. Vence Prok
Piet Palar
9. Ketua LPMD
Stien Rantung
-
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Rumah Tradisional Minahasa di La’pi
Rumah dari La’zar Sambur ( Kel. Sambur Timban ) foto thn 1934
Dibangun tahun 1895.
Lazar sambur lahir 16
Amelia Timban Lahir 30
(Dokumentasi ini milik dari Kel. Sambur Saria.)
La’zar Sambur memiliki
(perbatasan Pinapalangkow), tahun 1920
Sapi-sapi ini diantar pulang ke rumah setiap hari Sabtu sore oleh Rozali Sambur , seti
jumat malam sudah diumumkan oleh tukang palakat dengan bunyi
“ semua anak-anak harus masuk kerumah pada sabtu sore karena sapi dari bapak Lazar
Sambur akan dibawa pulang ke rumah”.
– 8 - 1865, meninggal 8 – 12 -1922
30-9-1870, meninggal 26-11-1946
lahan peternakan sapi diperkebunan Aga
– an ternak peliharaanya mencapai ± 500 ekor.
setiap hari
umumkan
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
BAB IV
WIAU – LAPI SEJAK TAHUN 1890 SAMPAI 1960-AN
A. Masa Penjajahan Bangsa Barat
Tidak ada hal yang dapat dijelaskan tentang keadaan
Kampung pada Masa Penjajahan Spanyol dan Portugis. Tetapi
pada masa penjajahan Belanda, banyak laki-laki muda asal
kampung Wiau – Lapi yang ikut menjadi “ Sordado “ atau
tentara Belanda. Diklasifikasikan menurut jenjangnya yaitu mulai
dari Tentara Marsose Belanda dan Tentara sewahan Belanda
(KNIL). Orang Wiau Lapi yang memihak Belanda dengan cara
menjadi tentara Belanda yaitu ± 200 orang. Mulai dari pangkat
Prajurit sampai Sersan.
Terbagi dalam tiga tahapan yaitu :
1. Awal di mulainya Pemerintahan Kolonial Belanda setelah
Bubarnya VOC 31 Desember 1799.
2. Masa penyerahan kekuasaan Inggris Kepada Belanda
(Konvensi London ) untuk membantu Perang Belanda
melawan Pangeran Diponegoro dan Perang Aceh.Tahun 1825
– 1904
Saksi Sejarah :
Bapak Yesaya Sambur ditugaskan di Aceh Utara dalam
pasukan pada masa akhir perang Aceh sebagai marsose.
Sersan Pomantow Pasukan Altileri Belanda (Jawa Timur)
Sersan Sambur Pasukan Kaveleri ( Jawa Timur )
Pada masa ini orang Wiau Lapi sempat terlibat Tanam
Paksa dengan Tanaman Kopi sebagai tanaman Inti.
3. Masa Agresi Belanda I dan II, pengerahan kekuatan Pribumi
dalam kesatuan KNIL. (1946 – 1948)
Saksi Sejarah : Bapak Usop Rompas
Ditawan Jepang dan diasingkan di Australia. Dll.
Pada masa ini juga Johanis Sinaulan dituduh mencuri
Tembakau diperkebunan tembakau tepatnya di pekuburan
Lapi sekarang. Johanis Sinaulan ditangkap, ditelanjangi
dan diikat ditiang pada saat terik matahari, lalu pada
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
bagian kaki ditaburkan ampas kelapa sampai semut-semut
mengerumuni sekujur tubuh.
B. Masa Pendudukan Jepang
Ada beberapa orang yang menjadi Tentara Jepang sebagai
kempetai dan ada yang menjadi mata-mata jepang. Pada masa
penjajahan Jepang, rakyat Wiau Lapi dilarang makan nasi dari
beras padi dan dilarang memasak menggunakan garam.Garam
disembunyikan ditiang dapur dari bulu, pada bagian bawah
dilobangi untuk tempat keluarnya garam.nasi yang dimasak
dibelanga ditutup dengan ubi. Mereka yang menjadi polisi
Jepang adalah Sersan Pol. Mapaliey dan Tete Kota.
C. Masa menjelang Kemerdekaan dan Sesudah Kemerdekaan
1938 - 1960 – an
Pada masa ini hanya ada satu orang yang benar-benar
berjuang secara frontal dalam rangka mendukung kemerdekaan
yaitu Bapak Wellem Kaani. Bapak Wellem Kaani secara terbuka
mendirikan bendera merah putih, kemudian ditangkap dan
dipenjarakan.
Ada juga orang-orang yang berjuang secara tertutup dan
akhirnya tidak dihargai oleh Negara. Mereka adalah orang-orang
yang menjadi Romusha dan dipekerjakan untuk membangun
Lapangan Terbang Mapanget. Mereka harus berjalan kaki dari
Kampung Wiau Lapi selama beberapa hari dengan bekal beras
Milu sampai di Mapanget. Disana mereka di pekerjakan secara
paksa dan semena-mena, tidak diberi makan. Bertahan atau lari
berarti mati, tidak ada pilihan. Satu-satunya orang yang berani
melarikan diri setelah beberapa minggu karena siksaan yaitu
bapak Simon Petrus Walukow.
Pemuda Lapi yang terlibat dalam peristiwa Merah
Putih diantaranya : Lius Umpel (sekarang di Amurang),
Mengko Walukow, Yun Sengkey, dan Bapak Jozeph, mereka
kemudian pernah diutus di Ambon pada saat pemberantasan
pemberontak RMS. Banyak pemuda lapi menjadi anggota
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Laskar rakyat pimpinan Bapak Zet Mokalu (pimpinan Laskar
rakyat Minahasa selatan dan Laskar rakyat Tareran pimpinan
Bapak Tujuwale.
Pada masa itu juga muncul sekelompok orang di Wiau
Lapi yang berupaya membasmi para Tukang Santet atau Mariara.
Orang-orang yang sudah dinyatakan Mariara langsung di tangkap
dan dihakimi sendiri di Kampung Wuwuk. Kelompok tersebut
tidak berjalan di atas tanah tetapi melompat – lompat dari pagar
ke pagar. Setiap kali ada kelompok ini yang lewat seluruh rakyat
harus berteriak HOHOYA.
D. Masa PERMESTA ( Perjuangan Rakyat Semesta )
1957 - 1959
Tanggal 17 Pebruari 1957 terjadi pemutusan hubungan
antara pemerintah daerah dengan pusat oleh Permesta dan
memproklamirkan pemisahannya pada tanggal 2 maret 1957.
Sehari kemudian oleh Soekarno panglima tertinggi angkatan
perang, mengirim pasukan untuk membom Manado dengan
pesawat tempur AU.
Pada awalnya seluruh orang Lapi berjuang untuk
pembaharuan tetapi akhirnya ada yang berkhianat dan bergabung
secara gelap menjadi Tentara GAP (Gerakan Anti Permesta )
Ada korban tak Berdosa ketika terjadi pergolakan Permesta yaitu
dengan tewasnya seorang anak bermarga Soputan ketika sedang
mengejar roda sapi. Dia dan temannya ditembak secara membabi
buta oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI ). Korban tidak dapat
diselamatkan karena kehabisan darah.
Dipenjaranya Bapak Zet Maun karena dituduh sebagai
mata-mata permesta di penjara Bawah tanah TNI di Rumoong
Atas. Bersama dengan Bapak Zet Maun adalah : Bapak Utu
Mokalu dan Bapak Palar ( Kel Palar Sinaulan/opa palar ).Bapak
Utu Mokalu berhasil meloloskan diri sementara opa Palar sudah
berpasrah diri pada keadaan, meskipun akhirnya opa palar
dibebaskan.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Pada malam terakhir menjelang eksekusi (Tembak mati )
Bapak Zet Maun diberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu
oleh seorang penjaga pos yang secara kebetulan adalah orang
Toraja yang beragama Kristen Advent.
Hanya satu permintaan yang diminta oleh Bapak Zeth Maun yaitu
Alkitab dan Lampu Botol, secepatnya si penjaga langsung
mencari dan memenuhi permintaan itu. Menjelang subuh seluruh
Alkitab sudah terbaca oleh Bapak Zet Maun meskipun secara
garis besar. Pada pagi itu juga, tanpa diduga bapak Zet Maun
dinyatakan bebas oleh TNI.
Peristiwa lain yaitu : Bapak Lontaan, kakak dari Yan
Lontaan oleh Pasukan Permesta dituduh sebagai Mata-mata TNI.
Beliau dan beberapa temannya ditangkap dan disiksa di
Perkebunan Ra’dap dijadikan sasaran pelemparan pisau. Dalam
keadaan luka parah, bola matanya sudah keluar, beliau diarak ke
Talaitad. Dia menggali Lobang untuk kuburnya sendiri kemudian
ditembak sampai mati.
Pada masa ini, Sekolah Rakyat GMIM dipindahkan di
perkebunan Sipat dengan Kepala Sekolah Bapak Alo Sengkey.
dari Tahun 1958 – 1960. Dibuka Rumah Sakit Permesta di Kolay
dengan Juru Rawat Bapak J.A. Senduk. 1962 – 1965.
Menjelang berakhirnya Permesta, Bapak Warow seorang
pemimpin permesta pernah berkunjung di Rumah sakit Kolay
dengan mengendarai kuda putih.
Terjadi pembakaran Rumah – rumah rakyat yang oleh
TNI dianggap memihak Permesta. Seluruh Rakyat mengungsi ke
perkebunannya masing-masing, kecuali Orang yang sudah tua
dan Guru Jemaat Tua Bapak Worotitjan yang harus ada di
Kampung pada hari Minggu.
Pada masa ini ada seorang tua yang selalu pulang pergi
dari kampung kekebun dan sebaliknya. Beliau adalah Ayah dari
Bapak Marten Sinaulan ( Sinaulan Runtuwene ).
Oleh permesta dia dituduh mata – mata TNI. Sehingga suatu hari
Bapak Sinaulan di Temukan sudah tidak bernyawa, Kepala dan
Badannya terpisah akibat dipancung. Pada mulanya mayat dari
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
bapak Sinaulan dikuburkan di Perkebunan Le’ler di tempat
mereka mengungsi.
Kantor Desa Wiau Lapi Dan Lapangan
( dokumentasi ini dipinjam dari Kel.
Foto atas ; ke 3 dari kiri Hukum tua J.J. Rantung,
Hukum tua,
Foto bawah ; Kunjungan Bapak B.W. Lapian,
WIAU LAPI 1978 Saat dikunjungi oleh Bintang Radio RRI
Manado Herry Soemarto
atas Sponsor dari kuntua Kaima yang pada waktu itu menjadi
pemborong jalan aspal kampung Lapi dibawah PT.Maketete.
SD GMIM ± 1950-an
Soputan Rantung)
ibu
Rozali Sambur
Bupati Minahasa
dan penyanyi cilik Sully Masengi
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Herry Soemarto saat ini adal
Manado dan tinggal di Tuminting.
dewasa aktif menyanyi dan pernah bergabung denga
Band Aries, Kopandakan
kampung Bombanon, Bolmong.
Latar belakang Rumah Kel. Sumendap Maun ( om tein )
Dokumen ini milik Dari Kel. Kalalo Sambur
Tentara Permesta
( Dokumen ini milik dari Tanta nona Tuju )
adalah promotor Enterteinment di
Sully Masengi dimasa
dengan Group
Kopandakan-Kotamobagu. Sekarang tinggal di
1958
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
BAB V
PERKEMBANGAN INJIL
A. PROSES PERSEBARAN INJIL SAMPAI KE MINAHASA
a. Masa sebelum NZG
Abad ke 15 Paus di Roma memberi tugas kepada bangsa
Portugis dan Spanyol untuk menyebarkan agama
Kristen Khatolik. Organisasi yang bertugas
menyebarkan Agama Krsiten Khatolik adalah
Misi.
Tahun 1517 Dimulailah Gerakan Pembaruan Gereja Oleh
Marthin Luther.Yang kemudian menjadi Kristen
Protestan.
Tahun 1522 Rahib Fransiskan Tiba di Maluku dan tinggal di
Ternate,Ambon dan Banda.
Tahun 1534 Rahib Fransiskan mulai bekerja di Halmahera.
Tahun 1536 Simon Vaz, pater Fransiskan adalah orang pertama
yang mati Sahid di Maluku.
Pebruari 1546Fransiskus Xaverius misionaris Yesuit tiba di
Ambon.
Tahun 1563 Diego Magelhaes dari Portugis membaptis Raja
Manarou dan anak dari Raja Kerajaan Siau
Serta 1500 orang lainnya.
Tahun 1570 Misi Roma Khatolik sudah tersebar di Ambon,
Bacan, Halmahera,Ternate – Tidore, Banggai,
Manado dan Sangir.
Tahun 1602 Didirikanlah Persekutuan Dagang Belanda atas
prakarsa dari Olden Van Barnevelt dengan Nama
VOC ( Vrenigde Oost – Indische Compagnie )
Tahun 1605 Steven Van der Hagen dengan Kapal Belanda Tiba
di teluk Ambon, pada saat itu orang Kristen
berjumlah 16.000 orang.
Tahun 1609 Diutuslah pendeta-pendeta sebagai pegawai VOC.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Disamping bertugas memenuhi kebutuhan Rohani
para pegawai, mereka juga menyebarkan agam
Kristen Protestan aliran Calvinis.
Tahun 1618- 1622
Sebastian Danckaerts bekerja di Ambon.
Tahun 1623 Didirikanlah Seminarium Indicum, Sekolah
Pendeta Untuk Indonesia. Sampai tahun1633 dan
menyerahkan 10 pendeta untuk Indonesia.
Tahun 1624-1634
Sebastian Danckaerts bekerja di Jakarta
Tahun 1675 Ds. Montanus mendapati bahwa jemaat-jemaat di
Manado sudah sangat lemah.
Tahun 1677 VOC menetapkan Ds.Zacharias Cacheing di
Manado.
Tahun 1678-1701
Melchior Leideker menterjemahkan Alkitab dalam
bahasa Melayu Tinggi, sampai di Efesus 6 : 6 ia
meninggal.
Tahun 1695 Tercatat 2192 murid sekolah di Minahasa
Tahun 1700 Tak banyak lagi pendeta yang suka dating di
Indonesia.
Tahun 1771 Ds. Wiltenaar berkunjung di Likupang dan
mendapati jemaat baru 102 orang dewasa,
105 anak- anak.
31 Desember 1799 VOC Bubar.
Sejak bubarnya VOC, tidak ada lagi pelayanan
Rohani
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
b. Masa NZG ( Nederlandsch Zendeling Genootschap )
Perserikatan pekabaran Injil Belanda
Tahun 1770 – 1853
Ds. Josep Kam Bertugas di Maluku dan
dijuluki Rasul Maluku.
Tahun 1797 Van der Kamp mendirikan NZG
Tahun 1817 Ds. Josep Kam berkunjung ke Minahasa.
Tahun 1819 Ds. Lenting berkunjung ke Minahasa.
Ds. Josep Kam dan Ds. Lenting mendapati
orang Kristen tidak ada pelayanan lagi.
Lalu mereka berdua melaporkan keadaan
itu pada NZG di Belanda.
1822 Atas laporan diatas maka NZG mengirim 2
orang berkebangsaan Swiss,
- L.Lamers di Kema ( meninggal 1824 di
Kema )
- W. Muller di Manado (meninggal 1827 di
Manado) Mereka meninggal karena
penyakit Typus.dalam pelayanan, mereka
mengalamai banyak hambatan dan
tantangan terutama dari kalangan turunan
Eropa.
Tahun 1827 Pelayanan Manado diganti oleh
Ds. G. J. Helendoorn.
4 tahun kemudian dikirim lagi 2 Orang
pelayan yaitu :
Johann Friedrich Riedel dan
Johann GottliebSchwars.
29 November 1929
Rombongan Penginjil NZG berangkat dari
Rotterdam menuju Indonesia, dengan
menumpang kapal De Jongee Adriana.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Mereka yang tiba di Batavia / Jakarta
adalah
- J. F. Riedel,
- A. Douwes.
- J. G. Schwars.
Mereka di Sambut oleh Joseph Kam, wakil
resmi Zending yang berpusat di
Ambon.Pusat Zending pada waktu itu
adalah Ambon.
18 Juni 1831 Mereka Tiba di Manado,
Tahun ini dianggap sebagai tahun penting
dimulainya pekerjaan Pelayanan
Penginjilan secara Intensif.
J. F. Riedel ditempatkan di Tondano,
isterinya adalah orang Ambon.
J. G. Schwars (kelahiran Koningsberg, 21
April 1800) di tempatkan di Kakas
kemudian dipindahkan ke Langowan.
Pada saat itu mereka sudah membagi Minahasa menjadi 10
Ressort penginjilan Yaitu :
- Resort Tomohon
- Resort Tondano
- Resort Langowan
- Resort Amurang
- Resort Kumelembuai
- Resort Tanawangko
- Resort Kema
- Resort Talawaan
- Resort Sonder
- Resort Ratahan
Selain Zending di atas, masih ada lagi zending lain yang
bekerja di Minahasa.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
J.F. Riedel dan J. G. Schwars lahir dan dibesarkan dikalangan Pietist. Pietist
adalah Pribadi-pribadi yang mengutamakan dirinya untuk belajar firman
Allah, dan menerapkannya untuk peraturan Iman dan tabiatnya, menuju
kepada suatu kehidupan yang patut dicontohi ( Joachim Feller. Profesor
Unifersitas Leipzig,1689) Jadi bukan dalam pengertian Pietistme, sebagai
suatu kelompok Revival (kebangkitan Kembali) dari Lutheran Churc di
Jerman.
Akhir abad 17, Pietist diartikan sebagai : Firman Allah harus lebih baik
diketahui dengan pembacaan dan Interpretasi sistimatis oleh banyak orang
dan kesetiaan membaca secara pribadi dan dalam pertemuan – pertemuan
anggota bebas menyatakan ide-idenya kemudian rakyat harus dididik dengan
rajin tentang kekeristenan, yang tidak hanya berisi pengertian tetapi
perbuatan.
1808-1861 C.J.V.D. Liefde di Amurang
1836 K. T. Herman di Amurang.
Meninggal 1851
1838 A. T. Mattern di Tomohon.
Meninggal di Manado 1842
1842-1873 N. P. H. Wilken. Di Tomohon
1846-1883 P. H. Lennemann. Di Manado.
1848-1854 R. Bossert. Di Tanawangko
1849 F. Hartig. Di Kema dan Likupang.
Meninggal di Kema 1854
1849 Sibold Ulfers di Kumelembuai. Meninggal
di Kumelembuai 1885
1850-1853 H. Nooydi. Di Tondano
1850-1853 N. Graafland. Di Sonder.
1851-1856 S. de Van der Velde Van Capellen.
Di Rumoong (dipegunungan Tareran)
1854-1903 H. Rocker di Tondano
1857-1862 H. J. Tendeloo di Airmadidi 1857-1862
1860-1870 A. O. Schaafsma. Di Langowan
1860-1903 J. A. Schwars. Di Sonder
1863-1834 J. N. Wiersma. Di Ratahan
1864-1867 M.V.D. Wal di Talawaan
1865-1890 H. G. Kruyt di Kuranga
1867-1878 H. Betthik. Di Tanawangko
1867-1909 J. Louwerier. Di Tomohon
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
1870-1913 M. Brouwer. Di Langowan
1872-…… A. de Lange. Di Tanawangko
1880-1889 H. M. Svhippers. Di Tanawangko
1881-1887 J. Boide di Tenga dan Kumelembuai
1881-1889 J. Hore. Di Maumbi dan Tanawangko
1885-1894 N. Permeey.
1888-1932 E. Tr. G. Graafland. Di Amurang
1888-1895 J. S. de Vales. Di Ratahan
1890-1926 J. H. Hibink Rocker. Di Kuranga
1895-1876 H. J. Moens. Di Ratahan dan Tomohon
1896-…… S. Auisings di Ratahan
c. Masa GMIM Bersinode 30 September 1934
(dokumen dari tabloid mimbar)
BAKAL SINODE GMIM 1934.
Ds. E.A.A. de Vreede (x) dan A.Z.R. Wenas (xx)
Ketika GMIM dinyatakan sebagai gereja yang berdiri
sendiri , Gereja ini tetap menjadi bagian deri gereja Negara.
Berdasarkan pernyataan dari Mr. J.E. van Hoogstraten seorang
anggota Kerkbestuur ( pengurus Gereja di Negara ) tahun 1933
menyatakan bahwa seb
Negara, maka pengaturan Gereja di Minahasa tidak dapat
diubah secara principal tanpa persetujuan pemerintah.
Menjelang kedatangan Jepang di Indonesia, banyak pendeta
Di…………
sebelum pemisahan Administrasi Gereja
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Belanda yang ditawan. Kepemimpinan Gereja mau tidak mau
harus di pegang oleh Pendeta Minahasa.
Perubahan ini menjadi awal dari kepemimpinan Pendeta
Minahasa di GMIM tetapi tetap menjalin hubungan dengan
GPI. Sejak GMIM berdiri sendiri, GMIM masih berada
dibawah lingkungan GPI dan resort-resort diubah menjadi
Klasis. Yaitu :
- Klasis Airmadidi
- Klasis Amurang
- Klasis Kumelembuai
- Klasis Langowan
- Klasis Maumbi
- Klasis Manado ( Indonesia )
- Klasis Manado ( Eropa )
- Klasis Ratahan
- Klasis Sonder
- Klasis Tomohon
- Klasis Tondano
Hal ini berlangsung sampai tahun 1942
Pendeta – pendeta Belanda yang menjabat ketua Sinode
adalah :
- Ds. E.A.A. de Verde 1934-1935
- Ds. C.D. Buenk 1935-1937
- Ds. H.H. van Herwerden 1941-1942
- Dr. G.P.H. Locher
Ketua Sinode Pribumi pertama adalah :
A.Z.R. Wenas
Pada awal GMIM berdiri terdapat 11 classis yang
diadaptasi dari resort, 360 Jemaat dengan 6000 Majelis
Jemaat. Berdasarkan beslit Gubernur Jendral Hindia Belanda
17 september 1935 No.5 menyatakan GMIM berdiri sendiri
dalam lingkungan Gereja Protestan di Hindia Belanda.
Upacara peresmian GMIM 30 September 1934
dilaksanakan di Gedung Gereja Sion Tomohon. Hadir pada
waktu itu Gubernur Jendral Mr. B.C. de Jonge mewakili
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
pemerintah. Pada malam hari diadakan perjamuan kudus di
gereja Sentrum Manado
menjadi pusat GMIM. Hulppredikers Afdeling
diubah menjadi Klasis.
Klasis Tomohon, Ketua Majelis Jemaat Tomohon dan Direktur
Stovil.
- Jumat Agung 1939
penggunaan Toga untuk pendeta pribumi.
- Tanggal 23 November 1937, Serikat Kaum Ibu Masehi
dipersatukan menja
Minahasa ( Perkim )
- 1 Januari 1939 Liturgi Kebaktian Biasa
Komisi Liturgi mulai digunakan.
Gereja Sentrum Manado, Gedung Gereja Protestan Tertua di Kota Manado
Tahun 1945 :
Tahun 1951 :
Manado. Sejak saat itu pula Tomohon resmi
(ressort )
Ds. A.Z.R. Wenas menjadi ketua
1939. Badan pekerja sinode menyetujui
menjadi Persatuan Kaum Ibu Masehi di
Biasa, hasil olahan dari
Sinode mendirikan PPKM.
- Classis dirubah menjadi
wilayah, dan telah tersusun
jemaat lingkaran sebanyak 35
lingkaran.
- Wilayah Tareran terdiri dari 12
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
jemaat
Tahun 1951 : Dibentuk PKIKM
(pergerakan kaum ibu Kristen di
minahasa) dan PKBKM (pergerakan kaum
bapa kristen di Minahasa)
2 Maret 1957: Proklamasi PERMESTA di Makasar.
Tahun 1951-1966 :Dibuatlah tata gereja baru yang
menghapus bentuk jemaat lingkaran.
Tahun 1962 : Diresmikanlah distrik bawahan Tareran
tepatnya januari 1962 oleh Bupati F.
Sumampow yang dilandaskan dari 12
jemaat GMIM di wilayah Tareran.
Jemaat dalam lingkungan wilayah
Tareran yang berasal dari 2 classis Yaitu :
Dari klassis Sonder adalah Suluun,dan
Pinapalangkow. Dari klasis Amurang
adalah Rumoong Lansot, WiauLapi,
Talaitad, Wuwuk, Tumaluntung,
Koreng, Pinamorongan, Kaneyan dan
Kapoya.
April 1961 :Diadakan perjanjian perdamaian antara
permesta dan TNI di Woloan.
Tahun 1970 :Tata gereja diperbaharui lagi.
Tahun 1981 :Tata gereja diperbaharui lagi.
d. Perkembangan Pendidikan
Tahun 1832 J. G. Schwars Sudah membuka sekolah di
Minahasa Tengah.
Tahun 1845 Sudah ada 66 Sekolah di Minahasa, 55 Sekolah
Zendeling dan 11 Sekolah Guberneman
( pemerintah )
Tahun 1847 Murid Stelsel ( sekolah dirumah dengan nama
Lain Mamurid dari sekolah ini melahirkan guru
pembantu atau Onder mester dan penginjil )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Sekolah seperti ini sudah melahirkan Pembantu
penginjil pribumi Pertama Yaitu ADRIANUS
ANGKOW murid dari Riedel yang ditahbiskan di
Langowan 1847 dan SILVANUS ITEM
ditahbiskan di Tondano 1859.
Tahun 1851 N. Graafland, mendirikan sekolah Guru
( Normal School ) di Sonder.
Tahun 1867 Dibuka kursus untuk mendidik para penginjil dan
berkembang menjadi STOVIL ( School tot
opleiding Voor Inladsche Leerar ) atau Sekolah
Guru Pribumi.
Tahun 1882 NZG menyerahkan urusan dan pembiayaan
jemaat-jemaat kepada Indische Kerk.
( Gereja Protestan Hindia Belanda )
Tetapi sekolah masih dibawah Tanggung jawab
NZG.
Tahun 1875 Guru G. Rompas Sudah mengajar di Lapi
dengan 41 murid laki-laki dan 34 murid
perempuan.
Data ini berdasarkan data daftar sekolahsekolah
Genootschaap di Minahasa, Desember
1875.
( Awal pendidikan dasar di Minahasa Tengah 1832,
Dr.Bertha Pantow dan Arahan Bapak Pdt. Dr. A. F.
Parengkuan pada seminar sejarah Injil Lapi, 14 Juni 1997 )
Tahun 1888 Terdapat 216 sekolah dengan jumlah murid
21.922. Jumlah penduduk 190.000 jiwa
Tahun 1890 Sudah ada sekolah Volkschooll (kelas I-II-III)
dan Sekolah Gubernemen ( Sekolah
pemerintah ) di Rumoong Lansot dan
sekitarnya. Pada akhirnya sekolah
Gubernemen berhenti karena kalah bersaing
dengan sekolah milik NZG.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Kepala sekolah pertama Volkschool
Rumoong Lansot adalah orang Lapi yaitu
Bapak Petrus Rompas, dari thn 1890 sampai
1910 (meninggal di Tondegesan), Bpk Petrus
Rompas juga sebagai Guru Jemaat Rumoong
Lansot. Kepala sekolah kelima 1929-1941 adalah
Zacheus Sinaulan (mester) berasal dari Lapi.
Guru Volk School Rumoong Lansot asal Lapi
sejak thn 1890 adalah : Petrus Rompas, J.G.
Manengkey, J. Aseng, A.Rantung, Zacheus
Sinaulan, S. Worotitjan.
Tahun 1898 Tercatat 133 sekolah Zending NZG. Jumlah murid
8378. 4961 laki-laki – 347 Perempuan. Dari 200-
an Jemaat. Jumlah Orang Kristen 154.817 orang,
Islam, 7023 dan Orang Kafir 8371.
Tahun 1923 Didirikan Sekolah Sambungan kelas IV-V
( Vervolg school ) di Rumoong Lansot dengan
kepala Sekolah pertama Benyamin Pandelaki asal
Paleloan.
Tahun 1932 Indische Kerk Mengambil alih semua sekolah
NZG. Sejak dimulainya Perang dunia II
berakhirlah sekolah-sekolah milik Indische Kerk.
Diganti dengan sekolah yng bernuansa Jepang.
Bukti bahwa pendidikan di Lapi sudah ada sejak tahun 1800-an
adalah :
- Prasasti Kubur Abram Sinaulan tertulis Minta Guru tahun 1864
dan dapat Guru 1885.
- Guru G. Rompas Sudah mengajar di Lapi dengan 41 murid lakilaki
dan 34 murid perempuan. Data ini berdasarkan data daftar
sekolah-sekolah Genootschaap di Minahasa, Desember 1875.
- Bapak Riyad Sambur Kelahiran Lapi 1902, pernah memberikan
pernyataan bahwa mereka pernah bersekolah di sekolah
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Pertanian ( Landbouw ) di Gedung Gereja bersama 36 orang
lainnya, dan yang selesai hanya 3 orang.
e. Kegiatan persekolahan di La’pi’
Sekolah Dasar di Lapi :
1878 Didirikan Sekolah dasar Gubernemen (sama dengan
sekolah negeri ) yang memakai gedung Gereja sebagai
tempat bersekolah. Dengan Kepala Sekolah Bapak
Abram Sinaulan. Sekolah dasar gubernemen kemudian
dikelola oleh Badan Penginjilan Belanda, NZG.
1932 Sekolah Dasar NZG Lapi diambil alih Oleh Indische Kerk
( suatu badan di pemerintahan Belanda yang membidangi
urusan gereja).
1942 Ketika dimulainya perang dunia II dan dimulainya
pendudukan Jepang, tidak ada data yang menjelaskan
apakah sekolah yang dikelolah oleh NZG beralih
menjadi sekolah Jepang. Bedasarkan penuturan dari
Tanta Sopitje Piri dan teman-teman sebayannya bahwa
dimasa itu mereka sempat belajar bahasa Jepang dan
mengenal Lagu Kebangsaan Jepang “ Kimigayo “ serta
mengenal Dewa Matahari Jepang Amaterasu Omikami.
Pada masa itu masih berlaku aktifitas sekolah
Volkschool 3 kelas di Lapi dan Vervolkschol 2 kelas di
Lansot. Terdapat kurang lebih 50 orang Lapi dan
Talaitad yang bersekolah di Volkschool Lapi.
Diantaranya J. J. Rantung dan teman sebayanya.
Hal ini membuktikan bahwa sekolah yang dikelolah
oleh Indische kerk masih ada di Lapi sampai tahun
1947 yaitu masa Perang kemerdekaan sampai masa
penyerahan kedaulatan.
1950 Masa pengakuan kedaulatan RI, adalah akhir dari
sekolah Indische Kerk. Dan dimulailah Sekolah Dasar
yang dikelolah spenuhnya oleh GMIM. Diperkirakan
tahun ini diakhir 1940 dan awal 1950 adalah awal
dimulainya Sekolah Dasar GMIM Lapi. Yang
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
menggunakan bangunan pertemuan disebelah Timur
Gereja GMIM Imanuel. Angkatan pertama SD GMIM
Lapi diantaranya bapak Fredrik Walukow ,Oskar
Soputan (lole), Prof. Dr. Oswald Wotulo. Minder Hein
Punu.
1962 Tanah tempat dimakamkan Abram Sinaulan (tanah
milik Abram Sinaulan) dijadikan lapangan bola kaki
oleh pemerintah melalui panitia bentukan pemerintah
dimasa pemerintahan Servius Maun. Tanah tersebut
dibeli oleh pemerintah desa dengan cara ditukar dengan
satu lokasi perkebunan di perkebunan Sipat kepada
bapak Wellem Kaani sebagai pemilik sebagian tanah di
lokasi pembuatan lapangan.( Tanah di sipat adalah
milik dari kerabat Bapak Nikodemus Mokalu/nyong
kalu). Tanah tersebut dibeli oleh pemerintah melalui
panitia dan dijadikan alat tukar terhadap tanah milik
bapak Wellem Kaani dilokasi pembuatan lapangan)
lapangan bola kaki kemudian dijadikan tempat
berdirinya SD GMIM Lapi karena dimasa itu orang-orang
yang bermain bola kaki di lapangan tersebut selalu
mengalami kecelakaan.
1962 Jemaat GMIM Lapi mendirikan Sekolah Taman kanakkanak
dengan nama Taman kanak-kanak Dorkas. Yang
menjadi pelopor, juga sebagai guru selama 1962 – 1978.
Adalah Ibu Janda Emma Soputan Mondoringin.
1964 Mempertimbangkan keadaan SD GMIM Lapi di samping
gereja tidak lagi memenuhi syarat untuk belajar karena
sudah sempit. Atas permintaan J.G. Manengkey sebagai
Kepala Sekolah, maka dibuatlah rapat desa untuk
memindahkan sekolah ke lapangan bola kaki.
Disepakatilah pemindahan Gedung Sekolah SD GMIM
Lapi, yang dipelopori oleh pemuka gereja GMIM Bapak
Agust Worotitjan dan pemuka Gereja “pengster” Bapak
Gembala Rudolf Wotulo, Pestus Winerungan dan
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Ferdinand Pangkey beserta J.J. Rantung sebagai Kepala
Desa Disepakati bersama dengan GPDI karena pada
masa itu hanya terdapat satu sekolah.
Yang terjadi kemudian Bapak Pes Winerungan dan
tokoh GPDI lainnya serta beberapa tokoh masyarakat
di Wiau menginginkan nama SD GMIM Lapi diganti
menjadi SD GMIM WIAU LAPI, dengan alasan bahwa
sekolah tersebut adalah milik orang Wiau Lapi. Hal itu
tidak disetujui oleh Bapak Kepala Sekolah Manengkey
karena di beslit (surat keputusan) atau dipersuratan
memang bertuliskan SD GMIM Lapi. Dimasa itu sangat
sulit merubah satu data yang sudah teregistrasi.
Urutan Kepala sekolah SD GMIM Lapi yg dapat didata
Sejak sekolah rakyat GMIM (SR – GMIM) sampai
sekarang :
- Watung 1956-1957
- Perang permesta dimulai 1957
Adri Sengkey (Alo Sengkey) 1958-1960
(sekolah dipindahkan diperkebunan Sipat)
- Semuel Worotitjan 1961-
( sebagai kepala dinas PDK pertama dikecamatan
Tareran)
- J.G. Manengkey
- J. A. Aseng
- Dra.Ny. D. Sumakul
- Dra. Ny. Slat Kowel
- Drs. N. Rori
- Drs. Sumajow
- Ny. S. A. Soputan Rantung, S.Pd
1968 Atas prakarsa Bapak Pes Winerungan ,Ferdinand pangkey
dan Gembala Wotulo pada tahun 1968 dibuatlah satu
gagasan untuk mendirikan Sekolah Dasar pantekosta.
Gagasan tersebut disetujui oleh pemerintah desa lalu
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
dibelilah sebidang tanah di belakang Gereja Pantekosta
untuk didirikan Sekolah Dasar Pantekosta dengan
menggunakan dana dari masyrakat Wiau Lapi bukan
dengan dana Gereja.
Urutan Kepala Sekolah SD Pantekosta
-
-
-
-
1965-1975
Didirikanlah Sekolah Menengah Ekonomi Pertama
(SMEP) Lapi, sebagai kelas jauh SMEP Negeri
Kawangkoan.
Urutan Kepala sekolah
- Nyong Simbawa
- Imon
- Leksi Lapian
- Chres Rembet
- Ibu Rakian
- Niko Lapian ( guru / merangkap kepala sekolah )
1982 Bapak Wellem Kaani meminta pembayaran atas
sebagian tanah di lokasi SD GMIM Lapi. Karena
menurut Bapak Wellem Kaani tanah tersebut belum
dibayar. Meskipun pada penjelasan sebelumnya, terbukti
bahwa tanah tersebut sudah dibayar dengan sitim
Tukar.Yang menjadi saksi atas transaksi tersebut
adalah bapak Lole Maun sebagai Kepala desa dan Bapak
Nikodemus Mokalu sebagai pemilik hak atas tanah di
sipat. Tanah disipat yang ditukar tersebut pernah
dijadikan sekolah di masa permesta.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
1980-an
Datang bantuan pemerintah untuk mendirikan Sekolah
Dasar Negeri yang kemudian bernama Sekolah Dasar
Negeri Inpres Wiau – Lapi.
Oleh pemerintah dibelilah tanah milik dari Kel. Sambur
Mongilala dan sebagian tanah di sumbang oleh Pestus
Winerungan, pada akhirnya bapak Pestus Winerungan
meminta bayar atas tanah pemberiannya kepada pihak
sekolah.
Urutan kepala SD N Inpres Wiau Lapi
-
-
-
1986 Gedung sekolah TK dipindahkan ke tempat baru
dengan kepala sekolah Ny. Waroka Merentek kemudian
diganti oleh Ny. Trikori Manengkey,
BAB VI
INJIL DI LAPI
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Makam dari Pdt. S. de Van Der Velde Van Capellen di desa Lansot
A. Awal kedatangan Injil di Lapi
Tahun 1851. Wiau Lapi adalah bagian dari daerah penginjilan
Ressort Amurang dibawah pimpinan pendeta
K. T. Herman.
Tahun 1854 K. T. Herman meninggal.
Setelah H. T. Herman meninggal, datanglah
S.Van
kepemimpinannya Ressort Amurang mengalami
perubahan secara menyeluruh.
mengatakan bahwa Wuwuk adalah jemaat yang
paling dicintainya. Wilay
Kapoya dan Rumoong.
Tahun 1855 NZG mengutus S.de van der velde van capellen
ke Kepulauan Sangihe, berangkat tgl 3 oktober
dan tiba tgl 5 oktober dengan perahu dayung di
Taghulandang dan melanjutkan ke Pulau Sangihe
Der Velde Van Capellen. Dibawah
H.T.Herman
Wilayah kerjanya sampai ke
ah
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
besar. Dalam kunjangannya ke sangihe
telah membaptis 5033 orang.
Tahun 1856 Capellen meninggal dunia diantara jemaatnya di
Rumoong Atas dan dimakamkan di kampong
Lansot, lalu diganti Oleh J.H. Tendeloo
Tahun 1860 Menurut N. Graafland ketika tiba di Amurang ,
kekristenan disana sudah berlangsung sejak lama.
Pada saat N. Graafland tiba diWuwuk,
mengatakan bahwa sudah ada kehidupan
kekristenan yang maju dan sudah ada sekolah
Zending. Kekristenan ada di Rumoong berkat
pengaruh dari Wuwuk yang akhirnya Rumoomg
menjadi Jemaat Induk.
B. Perjalanan Injil sampai Di Baptisnya Mamusung.
Perjalanan Injil di Lapi tidak lepas dari proses penginjilan
yang dilakukan oleh Capellen dari Tahun 1851 – 1856 di daerah
Rumoong atas, karena daerah Lapi termasuk dalam wilayah
pelayanan injil Ressort Amurang.
Pada masa itu Kampung Rumoong, Lansot, Wiyau dan Lapi
termasuk dalam wilayah Pakasaan Kawangkoan ( setingkat
kecamatan atau kumpulan dari beberapa Kampung )
Dimasa penginjilan Capellen dikirimlah seorang dari
Kawangkoan oleh pemerintah distrik Kawangkoan Bernama
Yafet Lapian menjadi Hukum Tua Kampung Lansot pertama
antara tahun 1842 - 1850. (pada saat yang sama di Lapi sudah
ada Kepala Desa ke dua yaitu Abram Sinaulan, Tahun 1841 )
Baptisan pertama di Lansot terjadi pada tahun 1842. Orang
yang dibaptis adalah :
- Timbong ( Daniel Lumangkun )
- Antonius Sumakul
- Hermanus Tenda ( Nama Hermanus kemungkinan diadaptasi
dari nama K. T. Herman )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Diperkirakan Baptisan itu dilakukan oleh J. G. Schwars atau H. T.
Herman. Sesudah itu datanglah Capellen dari Amurang tahun
1851. Saat itu masih banyak orang yang belum rela di Baptis.
Kemudian Capellen menciptakan lagu yang syairnya seperti
dibawah ini :
1. Pira Kamo en Tonaas Hale
Telu Kamo en Tonaas Hale
Telu Kamo en Topoken
Wo Rageiyen Tanu Sera
Hale-hale-hale-hale- Haleluyah
2. Oinangku O Amangku Hale
Rumayo mange ai Tuhan Hale
Yore Ka Kamo mate karapi ndosa akar inure
Hale-hale-hale-hale-Haleluyah
(dapat dinyanyikan seperti Lagu yang sering dinyanyikan Ev.
Bella.)
Apa yang dicari orang Uang
Apa yang dicari orang Uang
Apa yang dicari orang
Siang,malam,pagi, petang
Uang – uang –uang ………….
( Perkiraan Penulis, Dua dari Tiga Tonaas yang belum rela di Baptis
adalah Mamusung dan Tumewang. Karena Abram Sinaulan atau
Mamusung menerima Baptisan pada saat S. S. Tumbelaka mulai
berkunjung ke Lapi. )
Setelah Capellen meninggal, penginjilan dilanjutkan oleh
seorang pemuda bernama Simon Simson Tumbelaka dari tahun
1856 dan menikah dengan gadis Kampung Lansot bernama Maria
Rumangu anak dari Karel Rumangu pada tahun 1867. Tahun
1875, S. S. Tumbelaka pindah ke Amurang. ( masa pelayanan
1856 – 1875 selama 19 Tahun ) Penggantinya adalah Siliwanus
Walintukan ( meninggal dan dikuburkan di Lansot 1897 ) Masa
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
pelayanan S. Walintukan sudah menggunakan nama (Dj M I)
“ Djumat Masehi Indjili “ Rumoong Lansot tahun 1885.
Penggantinya adalah Pendeta Tawas. Pendeta Tawas di Ganti
oleh Pendeta Turangan tahun 1909 ( orang Lapi / keluarganya
ada di Jakarta ) Tahun 1911 di Pindahkan ke Jawa. Diganti oleh
Pendeta Warow sampai 1918 kemudian diganti oleh Pendeta
Rompas sampai 1930. Diganti lagi oleh Pendeta Siwu sampai
1934. Kemudian diganti lagi oleh pendeta Th. Manengkey
(orang Lapi ) dari tahun 1935 – 1942. Pada masa itu Ketua Klasis
Amurang adalah Pendeta Tiel. ( 1932-1941 )
Pendeta yang secara bergantian sesudah Pendeta Th. Manengkey
adalah Pendeta Watung, Pendeta Wokas, Pendeta A.
Tumbelaka, Pendeta S. Goni,Th. Kambey, A.R. Sayow,
R.M.Rumondor.
Dari penjelasan diatas ditemukan bukti-bukti bahwa
Wilayah pelayanan Injil Jemaat Induk Rumoong Atas meliputi
daerah-daerah Rumoong lansot dan Lapi. Sehingga Pendetapendeta
yang bertugas di Jemaat Rumoong lansot juga bertugas di
Lapi.
Baptisan yang dilakukan pada Mamusung dilakukan oleh
Pendeta Simon Simson Tumbelaka tahun 1856 secara masal
bersama dengan Isterinya Wokas dan anak-anak. Jacob,
Hendrikh, Mesakh, Isakh.
Mempelajari status Tiga Tonaas dan kesaksian dalam lagu
Karangan Capellen bahwa masih ada tiga Tonaas yang belum di
baptis maka didapatlah kesimpulan Bahwa Capellen tidak sempat
berkunjung ke Lapi.
Baptisan mula-mula yang dilakukan kepada Mamusung,
menggunakan air yang diambil dari perkebunan Sarani.
JIKA HARI ULANG TAHUN GEREJA DI HITUNG SEJAK
BAPTISAN MAMUSUNG 1856, MAKA UMUR JEMAAT
KRISTEN LAPI SAMPAI TAHUN 2006 ADALAH 149
TAHUN
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
“ tentang wanua “
Setiap Wanua hanya dipimpin oleh satu Tonaas dan satu imam agama tua / walian (oleh orang
Kristen disebut kafir atau alifuru ) Sedangkan Empung Wailan Wangko, adalah Dewa Minahasa
Purba, Bukan Allah dari Orang Kristen.
Alat-alat kelengkapan Baptisan dan Perjamuan
peninggalan saman Belanda.
Diperkirakan alat-alat ini berumur 130 tahun
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Gedung Gereja GMIM Rumoong Lansot
Pusat penginjilan Rumoong atas dan sekitarnya.
Gereja ini adalah Gereja Tertua di Kec. Tareran
Didirikan thn 1915 ditahbiskan 16 juni 1916
C. ( GPI ) Gereja Protestan Indonesia, Dj. MI ( Djumat Masehi
Injili ) sampai ke GMIM ( Gereja Mas
Tidak diketahui kapan jemaat Lapi mulai terbentuk dalam
satu persekutuan yang saling melayani. Karena jemaat sudah
semakin banyak, maka secara bersama
tempat Ibadah pertama Tahun 1878 dengan ukuran 17 x 9 m
Sejak saat itu mulai di Gunakan Istilah Jemaat Lapi.
Masehi Injili di Minahasa )
bersama-sama mereka mendirikan
meter.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
a. Persekutuan Ibadah mula
Pada awalnya Jemaat Lapi beribadah di
kemudian didirikanlah Gereja dengan bahan baku kayu,
seperti gambar dibawah ini.
GEREJA PERTA
Rekonstruksi Gereja Lapi Pertama 1878
Di lukis oleh Alffian Walukow
dari Oma Palar
digereja pertama)
mula-mula.
Sabuah,
PERTAMA JEMAAT LAPI
i 1878-1931(43 Tahun)
berdasarkan penuturan
(saksi hidup yang pernah beribadah
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Batu penjuru Gereja
Batu ini satu
dipancang pada tahun 1878
Batu ini di pancang mengelilingi gereja sejumlah 14 bua
dan tinggal menunggu dihancurkan oleh pemimpin
pemimpin gereja berikutnya.
(wawancara dengan bapak Sam Tam
Penjelasan dari saksi Sejarah
Gereja ini dibangun dengan Konstruksi Kayu Besi,
Linggua dan kayu
membangun Gereja ini di sumbangkan oleh Bapak Franz
Tuju (dotu Tuju di Lapi) dari perkebunan Pobua.Tiang
gereja dari Batu Kuala setinggi 40 cm dari atas
tanah.Dinding dan Lantai menggunakan Nibong. ( Kulit
batang pohon palm Wanga )Atap dari Daun Rumbia.Pada
saat itu sudah ada Lonceng. (lonceng tersebut adalah
lonceng yang sudah dibawah ke gereja Eben Haezar
Wiau)Kostor harus menggunakan tangga untuk
membunyikan lonceng.Pada bagian belakang sudah ada
Ruang persiapan yang disambung dibelakang gereja.
Gereja.
satu-satunya bangunan yang masih tersisa sejak
1878.
buah,
pemimpinpemimpin
Tambun, thn 2001)
kayu-kayu keras lain. Bahan kayu untuk
a
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Pembuatan balok menggunakan peda Tada ( Pisou )Gereja
ini kemudian dibongkar dan diganti dengan gereja baru
tahun 1931
Pobua dalam bahasa Tountemboan tua berarti Pinang
atau dengan istilah lain dalam bahasa yang sama yaitu T
Alat yang digunakan untuk membuat balok Gereja
Pertama
Alat ini milik dari :
- Bapak Yunus Walukow yang diturunkan kepada Bapak
Narsisus Walukow atau Tete No’ Walukow.
- La’zar Sambur Yang diturunkan kepada Bapak Riyad
Sambur.
Alat ini adalah hasil karya dari Pandai besi / tukang besi
Dotu Punu. Panjang 65 dan 75 cm
Koleksi
T÷,nga’
cm.
Koleksi, Alffian Walukow
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
GEREJA KE
Gereja Lapi ke Dua 1931
Ukuran 20 x 9 meter
Dokumentasi ini milik dar kel. Matodjin Sambur
Penjelasan dari Saksi sejarah
Ukuran Bangunan 20 x 9 meter dengan model semi
Gereja ini Mulai di bangun sejak 1931, masih berdasarkan Arsitektur
sebelumnya tetapi mengalami beberapa perubahan :
Ditopang dengan tiang batu.Beratapkan Seng, memiliki menara di bagian
Tengah dan ada penentu arah angin berbentuk ayam pada bagian
menara juga sebagai symbol gereja
Konstruksi Kap / atap pertama lurus kemudian dubah lagi menjadi dua
susun.
- 2
– 1950 ( 19 tahun )
permanen
pucuk
gereja-gereja protestan.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
GEREJA KE
Gereja ketiga ini memiliki konstruksi Beton setinggi 1,5 m pada bagian
bawah dan bagian atas dari papan. Kemudian di ubah lagi menjadi gereja
semi permanent seperti pada gambar berikut
- 3
1950 – 1955
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
BANGUNAN GEREJA DIBAWAH INI ADALAH HASIL
PERBAIKAN DARI GEREJA KE TIGA
Pada Bangunan inilah mulai Menggunakan Nama Imanuel dis
Tukang-tukang yang bekerja untuk perbaikan Gereja Tahun 1950
( Bapak Matodjin, Bapak Mangore, Bapak Supit, Bapak Yon Wahani, Bapak Utu
GEREJA KE EMPAT
disekitar
Tahun 1968
1955 – 1981
1950-an
Mokalu )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Ukuran 24 x 12 meter konstruksi permanent dilengkapi konsistori
Diselesaikan dalam waktu 227 hari
GEREJA TERBARU
HASIL RENOVASI DARI GEREJA 1981
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
D. PERIODISASI PERJALANAN INJIL JEMAAT LAPI
a. Gereja GMIM
Sebelum mengenal injil, secara umum masyarakat Minahasa
mempunyai agama Tua. Dengan Penguasa Empung Wailan
Wangko bergaya Animisme dan Dinamisme.
Aktifitas budaya Minahasa Tua masa lalu Wiyau dan Lapi
sebelum mengenal Injil adalah :
- Mengenal adanya kekuatan yang lebih kuat dari kekuatan
Manusia, dan kekuatan itu dianggap berada di Pohonpohon
besar dan Batu-batu besar.( Beberapa rumpun
bambu pakayu dianggap sebagai pelindung kampung atau
pagar kampung jika ada kekuatan jahat yang akan
mengganggu ) Bukti yang masih tersisa adalah Rumpun
bambu pakayu di bagian utara kampung. Dibelakang kel
Tambayong. Biasanya dibawah pohon sering diletakan
sesajen/sajian atau umper.
- Menganggap bahwa roh orang mati dapat kembali dalam
wujud lain setelah 3 hari sesudah kematian dan akan naik
ke Kasendukan pada hari ke 40. Roh tersebut dalam
istilah Tountemboan “ Nimu’kud atau mu’kur”.
- Meyakini gejala alam berpengaruh terhadap kehidupan
Manusia.
Contoh : Bunyi burung Wara’ , bunyi cecak, ada orang
bersin sebelum melakukan perjalanan dan
binatang menyebrang pada saat melakukan
perjalanan akan membawa sial.
- Peresmian rumah (Rumamba)
- Tanam padi ladang.
Proses tanam padi ladang dilakukan mulai dari
membakar hutan kemudian persiapan tanam.
Jika pada saat pengolahan lahan muncul burung
kekekou maka ada pertanda baik.
Panen padi atau “mu,puk wene” dilakukan sambil
Bernyanyi, hal ini berhubungan dengan makan beras
baru yang disebut Makamberu.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Melakukan ritual “Luma’ lu” atau ziarah ketempat yang
sering dikunjungi oleh kerabat yang sudah mati satu
hari sesudah pemakaman. Dipimpin oleh orang yang
dituakan dalam keluarga sambil mengikuti perilaku dari
kerabat yang sudah mati mulai dari tutur kata sampai
cara berjalan.
- Meletakan sesaji (umper) pada malam pertama kematian
diatas kubur atau dikamar tidur orang yang baru mati.
- Memanggil roh leluhur untuk kepentingan pengobatan
orang sakit.
- Memindahkan rumah secara gotong royong.
- Mapalus subuh sampai pagi, mapalus siang,mapalus satu
hari. Jumlah anggota mapalus mencapai 100 orang yang
dipimpin oleh ketua Mapalus.
- Kumpul kebo atau Baku piara.
- Percaya adanya santet yang dilakukan oleh ahli santet
( Mariara,tukang uru’/paracun )
- Mengenal kekuatan setan dalam bermacam wujud dan
rupa, diantaranya :
mu’kur,manginde,kekek,ma’beris,pontianak,mamo’pok
dan lo’lok. Kekuatan seperti ini disebut juga reges
(bukan angin) tetapi roh halus.
- Menggunakan Wentel (jimat)
- Meminta jawaban atas masalah kepada orang yang
dianggap sakti yg disebut “papatengo”.
- Mempercayai adanya lokasi tempat tinggal para setan
atau tempat yang memiliki penunggu seperti sumur
dan pancuran tempat mandi, persimpangan jalan
(se’pangan)
- Mempercayai adanya Mamuis. Orang yang bertugas
menangkap dan memenggal kepala manusia untuk
kepentingan perdukunan atau pendirian bangunan besar.
- Mempercayai adanya binatang jadi-jadian.
- Mempercayai adanya pengaruh perbuatan ibu hamil
terhadap proses kehamilan sampai kehamilan bayi.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Seperti : Ibu hamil harus menutup kepala kalau berjalan
malam hari,tidak boleh berdiri dipintu,tidak boleh
menjahit dimalam hari.
1. Masuknya injil :
Setelah masuknya Injil, banyak sekali aktifitas budaya yang
bersentuhan dengan kekafiran mulai ditinggalkan.
1851 – 1856 Pendeta S. de van der Velde Van Capellen
datang menginjil dan membaptis.
1857-1875 Simon Simson Tumbelaka
1875-1897 S. Walintukan ( orang Rumoong Atasa )
1897-1908 Pendeta Tawas
1909-1911 Pendeta Turangan ( Orang Lapi )
1911-1918 Pendeta Warow(tinggal di Rumoong Atas )
1918-1926 Pendeta Mundung
1927-1930 Pendeta J. Rompas ( orang Lapi )
1930-1934 Pendeta P. Siwu (asal Sonder)
Pada masa ini dibangun Gereja ke 2 ukuran
20x9 meter.Ditahbiskan oleh pendeta G.
Tiel Ketua Klasis Amurang.
Sejak 1934 Dimulai dengan 3 Kolom, kemudian
menjadi 5 kolom sampai 8 kolom.
1986-1990 Menjadi 12 kolom.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
2. Pendeta, Penulong (pembantu injil), yang pernah
memimpin Jemaat Lapi sejak 30 September 1934
sampai sekarang.
Th. Manengkey 1935-1941
Wa’tung 1942-1943
Wokas 1943-1945
A. Tumbelaka 1946-1948
S.G. Goni 1949-1951
Th. Kambey 1951-1952
S. R. Sayow 1952-1955
R. M. Rumondor 1955-1957
H. Wowiling 1957-1958
Lengkong 1959-1960
Th. Manengkey 1960-1961
M. L. Sondakh 1962-1965
T. M. Kowel 1965-1970
W. R. Rondonuwu 1970-1978
J. Ruus Sm. Th. 1980-1985
Ny Th. R. Sompie Liwe S.Th 1985-1990
Pdt. Mongan. S.Th 1990-1995
Pdt. Dr. T. Wungkar, S.Th.M.Th ………….
Pdt. Maxi Ompi, S.Th 2000-2004
Pdt. Walandow Rumayar
Pdt…………………………
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
3. Nama Ketua jemaat Awam, yang pernah memimpin
Jemaat.
Daniel Sinaulan 1910-1920
Zeth Maun 1920-1932
Zeth Lapood 1932-1934
Sejak 30 september 1934 sampai berakhirnya ketua
jemat dari kalangan orang biasa.
Zet Lapood 1934-1936
Piet Adolf Soputan 1936-1945
August Worotitjan 1945-1977
Bernard Worotitjan 1977-1979
August Worotitjan 1979-1982
Alexander Walukow
(ketua jemaat awam terakhir) 1982-1986
Pada masa ini mulai
di bahas
pembangunan TK
Baru Dan pendirian
Kanisah di Wiau.
Catatan :
J. A. Senduk adalah tokoh yang mengelolah Balai pengobatan GMIM
Lapi sejak tahun 1962 sampai 1992.
4. Anggota Jemaat yang pernah mengabdi pada Gereja.
Tua-Tua Gereja, masa sebelum ada Kolom ( majelis am )
-
-
-
Majelis Jemaat masa 3 dan 4 Kolom
- Bapak Mantri Timban, Sersan KNIL
- Bapak Pomantow Rompas
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Ibu Soputan Mondoringin
- J. A. Senduk
- R. M Sambur
- Sam Sumendap
- Papa Gogos Sumendap
- Umboh ( pernah pindah ke KGPM )
- Guru Semuel Worotitjan
- Ibu Maun Sengkey
- Ibu Sengkey Maun
- Bapak F. R. Maun
- Bapak Kalangi
- Rori Kalangi
- Adelina Prok Soputan
- J. J. Rantung
Majelis Jemaat masa 5 Kolom
- Eles Kalangi
- Paendong Ropa
- Efraim Kalangi
- Adelina Soputan
- J. J. Rantung
- Rantung Kalangi
- J. A. Rompas
- Soputan Mondoringin
- Alfrets Sinaulan
- Soputan Rantung
Majelis Jemaat masa 8 Kolom
- Eles kalangi Paendong Ropa
- M. Merukh
- Ibu Matodjin Sambur
- J.J. Rantung
- J. A. Rompas
- Roni Worotitjan
- Mery Tambun
- Beth Sambur
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- A, M. Tuju
- Stien Rantung
- M. L. Kaami
- Rit Walukow
Guru Ketua Pelka Anak Rice Aseng Manengkey Sekolah
Minggu
- J. G. Manengkey
- S. Tambun
- Bapak Junus Palar
- Ibu Palar Sinaulan ( oma Palar )
- Ritje Manengkey, S.Pd
Ketua Pelka Remaja
- J. B. Tambun
- Jantje Walukow
- Boby Aseng
- Nancy Mangore
Ketua PPKM ( Pergerakan Pemuda Kristen di Minahasa )
- Obe Rantung
- Sam Tambun 1947-1948
- Bapak Nyong Simbawa
- Bapak J. Aseng
- Bung Mondoringin
- Buang Maun
- Guru Wem Rompas
- J. A. Rompas
- Hein Soputan
- Agus Rantung
- Stientje Senduk
- B. K. Worotitjan
- J. B. Tambun
- Drs. D.J. Worotitjan
- Dantje Maun, S.pd
- Alexander Walukow
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Jantje Walukow
- Leni Worotitjan
- Hendra Lapian
PKIKM (pergerakan kaum ibu kristen Minahasa) /Ketua
Kaum Ibu dan pengurus kaum ibu.
- Ibu maun Sengkey (mama dedy)
- Ibu Rantung Punu
(mama Obe Rantung suami dari Dr.Worotitjan)
- Adelina Rantung Kalangi
- Ibu janda Soputan Mondoringin
- Ibu Sumendap Simbawah
- Ibu Johana Wanei Senduk
- Ibu Rori Kalangi (Tanta Nona Tumewang)
- Johana Walukow Rantung
- Nona Worotitjan Walukow
- Doke Prok Kondoi
Pengurus Pelka Kaum Bapak
- Bung Mondoringin
- Sam Tambun
- A. Walukow
- J.B.Tambun
- B.K. Worotitjan
- Niko Lapian
- D. A. Worotitjan
Sekertaris Jemaat
- J. A. Aseng Guru
- M. Mangore
- Lole Soputan Guru
- Semuel Worotitjan Guru
- M. Merukh
- Niko Lapian
- Drs. V. Prok
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Nona Leni Worotitjan
Bendahara Jemaat
- R. M.Sambur ( selama 30 tahun )
- Eper Kalangi
- J. A. Rompas
- Hans Prok
- Stans Sengkey
Kostor
- Daniel Timban
- Zakheus Tambajong
- Menase Sinaulan
- Bapak Worotitjan Kalangi
- Bapak M. L. Rantung
- Bapak. Nyong Punu Rantung
- Ampel Sinaulan
- Andri Mokalu
- Oskar Umbo
5. Peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan
GMIM Lapi
- Pada tahun 1932 Guru Jemaat Zet Maun mencoba
mendirikan KGPM dengan cara mengganti Papan
Dj M I dengan Papan KGPM di gereja pada malam
hari.Pada saat itu tidak ada dukungan jemaat lain.
Akhirnya Bapak Zet Maun kembali lagi ke GMIM.
- Diperkebunan ra’dap pernah diadakan Konvrensi yang
membicarakan kelahiran KGPM Tokoh yang hadir yaitu
Pendeta Sinaulan tapi kemudian Pendeta Sinaulan
Pindah Ke Tumpaan dan meninggal di
Tumpaan.Tempat dilaksanakannya Pertemuan di
namakan Konvrensi sampai sekarang.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
E . GEREJA PANTEKOSTA di IDONESIA JEMAAT WIAU
LAPI
Cikal bakal masuknya Injil Pantekosta di Wiau - Lapi
adalah atas keberanian dari Sersan Mokalu (KNIL).
Pada awalnya, Pantekosta Wiau Lapi lahir dari Gereja Pinkster
Bewegijck, kemudian diganti lagi dengan ajaran lain yaitu Gereja
Pantekosta, sampai ke Gereja Pantekosta di Indonesia ( GPDI )
Ada beberapa versi yang mengatakan tentang pemeluk mula-mula
agama Pantekosta.
Versi orang-orang GMIM mengatakan, berpindahnya
beberapa jemaat GMIM menjadi jemaat mula-mula Pantekosta di
Wiau Lapi adalah :
- kurangnya perhatian pimpinan GMIM
- tidak mendapat kedudukan di GMIM.
Versi lain mengatakan bahwa, pada masa itu para Gembala
Pantekosta dengan tegas menentang perdukunan atau orang – orang
yang ber ilah lain. Banyak orang bertobat dan menyerahkan jimatnya
untuk dibakar didalam Gereja.
Penganut ajaran Pantekosta mula-mula adalah :
- Ibu Lapian Sengkey ( pimpinan kaum ibu GMIM)
- Worotitjan
- Somba
- Pes Winerungan
- Ferdinand pangkey
- Eduard Prok
Sersan Mokalu meninggal karena dipancung kepalanya oleh Tentara
Jepang. Saat dipancung kepalanya masih berteriak Haleluyah,
Salah satu keturunannya adalah Bapak Alm. Drs.Piet
Mokalu, mantan Pembantu Dekan – I Fakultas Pendidikan Bahasa
dan Seni FPBS IKIP Manado, juga sebagai pelopor berdirinya
Fakulats Sastera dan Seni (FKSS) IKIP Manado.
Gembala – gembala yang pernah memimpin Gereja Pantekosta Wiau
Lapi :
-
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
-
- Gembala Wotulo
- Gembala Robot
- Gembala Poli
- Gembala Poli Junior
1. GEREJA KGPM
Pelopor berdirinya KGPM lapi adalah Bung Mondoringin,
ditahbiskan menjadi Gembala pada Tahun 1978 oleh ketua KGPM
Sulut, Bpk. Buyung. (mantan kakanwil penerangan)
F. GEREJA ADVENT HARI KETUJUH
Pelopor berdirinya Advent Hari ketujuh adalah bapak Zet Maun
Pada tahun 1970-an. Sejak keluar dari tahanan bawah tanah TNI
Karena dituduh sebagai spion Permesta tahun 1959 Bapak Zet
Maun sudah menjadi Avent.
G . GEREJA TABERNAKEL
Didirikan atas inisiatif dari Bapak. Wentong Mamesah Kalangi
Waney. Gembala pertama adalah Nona Els Mamesah disusul oleh
Gembala Hendrik Tandi.Tanah tempat berdirinya gereja adalah
sumbangan dari Kel. Kalangi Rantung.
H . GEREJA PANTEKOSTA SERIKAT DI INDONESIA ( GPI )
Didirikan atas inisiatif dari Kel. Lontaan Soputan dan Kel.
Sinaulan Mongilala.
I . GEREJA GMIM EBEN HAEZAR WIAU LAPI
Berdirinya Kanisah Eben Haezar adalah buah pikiran BPMJ dan
pemuka gereja Periode 1982-1985.
- Dengan alasan Mempertahankan warga jemaat GMIM
di Wiau yang sebagian besar sudah pindah ke
GPDI.(alasan intern gereja)
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Jangkauan Pelayanan terlalu Jauh dari Induk.
Pada masa Pendeta Kowel Wungkar,
Masa Jabatan Tahun 2000-2005 didirikanlah Kanisah GMIM di
Wiau.
Tahun 2006 disahkan oleh Sinode sebagai gereja yang berdiri
sendiri lepas dari induk GMIM Imanuel. Terbagi dari 5 Kolom.
BPMJ EBEN HAEZAR
Ketua : Pdt. Singon Lumintang, S.Th
Kostor : Dantje Dien Kalangi
Aset GMIM Imanuel yang dipindahkan ke Eben Haezar
adalah : Lonceng Tua,Bangku.
BAB VII
SILSILAH BEBERAPA KELUARGA TUA DESA WIAU LAPI
SILSILAH LONSU
Lonsu memperanakan
- Kasenda
- Rumangan
- Buyung
- Tangkow
Kasenda memperanakan
- Wulan
- Perok
Wulan beristerikan Kitje dan memperanakan
- Mamusung
- Rumondor
- Kalumbene
- Sendowene
MAMUSUNG pewaris pertama Marga SINAULAN Lapi
Mamusung diganti namanya Menjadi ABRAM SINAULAN setelah
dibaptis menjadi Kristen.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
A. Abram Sinaulan beristerikan Wokas dan memperanakan :
I. Jacob Sinaulan, juru tulis
II. Hendrikus Sinaulan
III. Mesakh Sinaulan
IV. Ishak Sinaulan
I. Jacob Sinaulan beristeri Katerina Kalengkongan
memperanakan
1. Elizabeth
2. Daniel
3. Loisya
4. Enos
5. Lorina
6. Petrus ( penutur Silsilah Lonsu dan silsilah keluarga lain di
Wiau Lapi )
7. Dina
1. Elizabeth Bersuamikan Daud Sengkey, tidak ada anak, mereka
lalu mengangkat anak dari Tondegesan Dengan nama Semuel.
Semuel beristerikan Willhelmina Winerungan dan memperanakan
Ida Sengkey
Martje Sengkey
Azer Sengkey
Timban Sengkey
Ida Sengkey bersuamikan Nyong Mondoringin
memperanakan :
Deitje Mondoringin
Bung Mondoringin
Net Mondoringin ( Kel. Sambur Mondoringin )
Ili Mondoringin ( Kel. Sinaulan Momdoringin )
Reini Mondoringin (Kel. Rantung Mondoringin
Martje Sengkey bersuamikan Justus Maun
memperanakan :
Dedy Maun
Aser Sengkey Beristerikan Buang Kalangi
memperanakan :
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Non Sengkey
- Ani Sengkey ( Keluarga Merukh Sengkey )
- Itou Sengkey ( Kel. Prok Sengkey – amma fera)
Timban Sengkey Beristerikan Lin Soputan (wuwuk
dumoga) dan memperanakan :
-
2. Daniel Sinaulan beristerikan Lin Soputan dan memperanakan :
1. Samuel Sinaulan
2. Zackeus Sinaulan umur 57 tahun, meninggal 20 april 1944
( kepala sekolah Volk School Lansot 1923 –1941 )
3. Hendrik Sinaulan
4. Fredrik Sinaulan
5. Tertius Sinaulan
6. Johan Sinaulan
7. Ana Willhelmina Sinaulan ( oma Palar )
Oma Palar Kelahiran 1919 meninggal 1998
Umur 98 tahun )
8. Non Great Sinaulan
a. Samuel Sinaulan ( tidak kawin, meninggal sementara sekolah
Pendeta )
b. Zhakeus Sinaulan beristerikan……………………….dan
memperanakan :
- Pit Sinaulan beristerikan Ngion di Tompaso dan
memperanakan :
- Boy Sinaulan
- Yoyo Sinaulan bersuamikan Inkiriwang
di Jakarta.
- Meti Sinaulan Bersuami Matindas
( Tikala- Manado )
memperanakan : Julia Matindas
( sekolah Pendeta )
Jein Matindas ( Manado )
Nyonyo ( laki-laki )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Agusta Sinaulan ( Nenek Lobu )
- Berth
- Agusta Sinaulan
- Berth Sinaulan beristerikan Umboh dan memperanakan :
- Fery Sinaulan ( sopir di kantor DPRD Manado )
beristeri Marga Semet di Teling.
- Sarles Sinaulan
( isterinya orang jawa, Tinggal Di Kemayoran )
c. Hendrik Sinaulan
(menjadi pendeta di Tumpaan, Bondowoso dan Tomohon )
Beristerikan Femi Karwur dan memperanakan :
1. Edi Sinaulan
2. Wem Sinaulan
3. Joutje Sinaulan
4. Buang Sinaulan
5. Non Sinaulan
6. Wem Sinaulan
7. Adri Sinaulan
8. Hans Sinaulan
9. Butje Sinaulan
10. Jopi Sinaulan
- Edi Sinaulan Beristerikan Anna ( china )
memperanakan,
- Feki
-
- Wem Sinaulan
( pegawai Bank Bumi Daya Jakarta )
beristerikan.Neli Laoh ( pinapalangkow )
Memeperanakan 3 laki-laki
- Joutje Sinaulan Bersuamikan Lapood
(orang Pondang) kerja disalah satu toko buku di
Manado tapi celaka di motor.
- Buang Sinaulan, Perempuan
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
(kerja Bank BBD Jakarta)
- Non Sinaulan
- Wem Sinaulan
- Adri Sinaulan, (anak angkat dari Oma Palar)
Dirut perusahaan asing di Jakarta,
beristerikan Julia Rumengan,mempunyai
3 orang anak laki-laki.
- Butje Sinaulan, Jakarta
- Jopi Sinaulan, Jakarta
d. Fredrik Sinaulan (kembar dengan Hendrik)
e. Tertius Sinaulan ( opa Bandung ) beristeri Ruth Maengkom,
tidak ada anak.
Suami pertama dari Ruth Maengkom adalah
Montolalu dengan 3 orang anak : Mima di Jakarta
( Kel. Rantung Montolalu ), Foni dan Utu di
Manado.
f. Johan Sinaulan ( sersan KNIL ) beristerikan Dina Soputan,
tetapi mengandung dari orang Belanda dan memperanakan
Wem Sinaulan.Kemudian Dina Soputan masih mengandung
anak dari Johan Sinaulan dan memeperanakan.
- Lin Sinaulan
- Ida Sengkey
- Lisbeth Sinaulan
- Dantje Sinaulan
- Niko Sinaulan
Wem Sinaulan ( Belanda ) beristerikan Lin Singal
memeperanakan
- Hery Sinaulan ( perempuan )
- Carol Sinaulan
- Robby Sinaulan
- Miske Sinaulan
- Laki-laki
- Laki-laki
Lin Sinaulan bersuamikan :
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Suami 1. Orang Aceh memperanakan
2 orang anak
Suami 2. Orang Belanda memperanakan
Johanis Muda Sinaulan
(Kel. Sinaulan Karundeng ),
meninggal di Lapi
(menggunakan marga
Muda)
Suami 3. Edi Muda ( orang Gorontalo
turunan Turki )
Memperanakan :
Jefri dan Rocky
Ida Sinaulan Bersuamikan Abram Lapian
(sersan KNIL )
Memperanakan :
Rudy Lapian beristeri Mokalu memiliki
5 anak.
Jopi Lapiaan beristeri Rorong memiliki
2 anak
Hani Lapian bersiteri Matindas memiliki
Anak Eke,Rio dan Rino
Yantje Lapian isterinya anggota DPRD
Garut
Lenda Lapian bersuamikan Pendeta
Rajawali ( pensiunan kapten )
memiliki 4 anak.
Lisbeth Sinaulan bersuamikan….. Rarung,
memperanakan,
Jan Man Sinaulan ( Kel. Sinaulan Waney )
Nyong Rarung
Hanes Rarung
Jopi Rarung
Non Rarung
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Dantje Sinaulan beristerikan orang Pare-pare
Mempunyai 3 anak
Niko Sinaulan beristerikan Asa
(orang motoling)Di Jakarta dengan 3 anak.
g. Anna Willhelmina Carolina Sinaulan ( Oma Palar / penutur
Silsilah Sinaulan ke Alffian Walukow ) bersuamikan Junus
Palar / mantri cacar, tidak ada anak.
Mengangkat anak(anak asuh) dari keluarga dekat yaitu
1. Hengky Palar Beristeri Pangalila
Orang tua dari Hengki Palar adalah
Portinatus palar Meninggal Palu.
2. Adri Sinaulan, Jakarta
3. Piet Palar beristeri Ani Sumendap
Non Great Sinaulan
h. Non Great Sinaulan
3. Loisya Sinaulan Isteri Pertama dari Cornelius Rompas
memperanakan :
- Zet Rompas,
- Fredrika Rompas,
- Gothlip Rompas,
Zet Rompas beristerikan…….memperanakan.
- Utha Rompas
- Pit Rompas
- Usop Rompas
- Tina Rompas
- Miya Rompas
- Sophia Rompas
- Non Rompas
- Noh Rompas
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Utha Rompas Beristeri Maria memeperanakan…..
1. Pit Rompas beristeri,…Kalangi
memeperanakan,
- Sintje Rompas
2. Merry Worotitjan memperanakan
- Rudy Rompas
- Nely Rompas
3. Usop Rompas beristeri Judith Maun.
4. Tina Rompas Bersuamikan Pomantow.
5. Miya Rompas Bersuamikan Paendong.
6. Sophia Rompas Bersuamikan Junus
Senduk.
7. Non Rompas Beristeri Timban
8. Noh Rompas Bersistri Buang Sinaulan.
( baku dapa )
Fredrika Rompas bersuami Benyamin Soputan memperanakan
- Lin Timban Soputan (Dumoga)
- Usu Mokalu Soputan
- Unggu Prok Soputan
- Nyong Soputan Worotitjan.
Gothlip Rompas (guru) Beristri Kumaat ( Luwuk )
4. Enos Sinaulan Beristeri Ariantje Palar memperanakan :
- Hariet Sinaulan (Rantung Sinaulan)
5. Lorina Sinaulan, isteri kedua dari Cornelius Rompas sesudah
Louisya Meninggal memperanakan :
- Lorens Rompas
- Jus Rompas
- Orgen Rompas
Lorens Rompas (angkatan laut) beristeri Onibala (tolog)
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
di Manado.
Jus Rompas beristeri Carolina Worotitjan memperanakan :
- Nona Punu Rompas
- Wem Rompas Wawointana
- Nyong Rompas Kaani
- Itang Rorong Rompas
Orgen Rompas beristeri Barnetje Langi, memperanakan :
- Ampel Rompas
- Noni Rompas
- Beth Rompas
- Ema Rompas
Ampel Rompas beriteri Emi Soputan
memeperanakan
- Kel. Welang Rompas,
memperanakan
cilla dan micky
- Dolly Rompas
- Boy Rompas Waney
memperankan,(baku dapa)
Feybe dan Olan
- Harol Rompas Manengkey
memperanakan
-
-
- Oning Rompas
Noni Rompas ( Tambun Rompas )
memperanakan :
- Merry Tambun
( Sambur Tambun )
- Buang Tambun
(Tambun Rantung) baku dapa
- Jemy Tambun
( Tambun Worotitjan )
- Jantje Tambun
- Tine Tambun
( Maun Tambun ) baku dapa
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Beth Rompas
Ema Rompas ( kawangkoan )
6. Petrus Sinaulan ( penutur pertama silsilah keluarga-keluarga di
Wiau Lapi ) beristerikan Pomantow (talaitad), memperanakan :
Ruben Sinaulan
Sophia Sinaulan
Nela Sinaulan
Nase Sinaulan
Lentji Sinaulan
Ruben Sinaulan beristerikan Kalangi, memperanakan :
- Worotitjan Sinaulan
- Mesakh Sinaulan
- Sam Sinaulan
- Nyong Awon Sinaulan
- Noni Sinaulan ( Mapaliey Sinaulan ) di Dumoga
Sophia Sinaulan Bersuamikan Pa’is ( Tempang )
Nela Sinaulan Suaminya Tamboto
memperanakan :
-Table Tamboto (bujang)
-Utu Tamboto (Tamboto Kumaat)
Memperanakan Dr. Tamboto
-Alo Tamboto (Tamboto Rorong)
-Nona Tamboto ( Prok Tamboto di Lapi)
Nase Sinaulan Dengan Isteri :
1. Ariantji Soputan memperanakan :
- Nona Sinaulan
- Utu Sinaulan
- Ampel Sinaulan ( kostor )
- Nyong Sinaulan ( dumoga )
- Din Sinaulan ( Tangkulung Sinaulan )
- Non Sinaulan.
2. Ona Manengkey ( Sinaulan Manengkey )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Ona Manengkey sebelum menikah dengan Nase
Sinaulan pernah punya Suami yaitu : Alfius
Soputan memperanakan Pit Soputan.
Lentji Sinaulan bersuamikan Martinus Langi,
memperanakan :
Non Langi ( Rompas Langi )
Nyong Langi ( Langi Winerungan )
Noh Langi ( Langi Rondonuwu )
7. Dina Sinaulan ( Ngayow Sinaulan ) memperanakan :
Margareth ( Sumendap Ngayow )
Maria ( Soputan Ngayow ) memperankan :
- Detje ( Waney Soputan ) memperanakan :
Heni ( Waney Perok ) baku dapa
Femi (Rompas Waney) baku dapa
Jantje (Waney Worotitjan )
- Emi ( Sengkey Soputan ) memperanakan
Stans Sengkey ( Posumah Sengkey ) baku dapa
Nina ( Paendong Ngayow )
II. Hendrikus Sinaulan beristerikan………..memperanakan.
1. Benyamun Sinaulan
2. Ismail Sinaulan
3. Marensi Sinaulan
4. Willhelminah Sinaulan
5. Ariantji Sinaulan
6. Franzi Sinaulan
1. Benyamin Sinaulan beristerikan………Timban memperanakan :
Abram Sinaulan (Abram ke- 2 ) beristerikan…………….Kalangi
- Dantje Sinaulan
- Rius Sinaulan
- Marten Sinaulan
- Sirus Sinaulan
- Nona Sinaulan
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Sin Sinaulan ( Rori Sinaulan )
Bertji Sinaulan bersuamikan …………. Sengkey,
memperanakan :
- Niko Sengkey
2. Ismail Sinaulan beristeri……………………. Sumampow,
memperanakan :
- Martinus Sinaulan
- Semuel Loleng Sinaulan
- Androkles Sinaulan
- Johanis Sinaulan
Martinus Sinaulan beristeri Winerungan meperanakan ;
- Yan Sinaulan ( Ra’dey )
- Wempi Sinaulan ( Sinaulan Worotitjan )
- Daud Ibrahim Sinaulan ( Sinaulan …..)
- Marten Sinaulan ( Sinaulan Runtuwene )
- Pret ( Sinaulan Senduk ) baku dapa
- Nona Sinaulan ( Maun Sinaulan )
Semuel Loleng Sinaulan beristerikan Soputan,
memperanakan :
- Tin Sinaulan ( Mokalu Sinaulan )
- Sile Sinaulan ( Sinaulan Mondoringin )
baku dapa
- Ade Sinaulan ( Sinaulan Piri )
- Dely Sinaulan ( Maun Sinaulan )
Androkles Sinaulan bersiteri orang Jawa tidak ada anak.
dan mengangkat anak ; Usu Paoki
Johanis Sinaulan Beristeri Willhelmina Palar
memperanakan anak tunggal.
Justintje Sinaulan ( Kel. “ Walukow Sinaulan “ )
Kel Walukow Sinaulan memperanakan
- Nyong Walukow Rantung
- Sintje Kalangi Walukow
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Rit Rompas Walukow
- Alex Walukow Sambur
- Jus Walukow Lolowang
- Pit Palar Walukow Sumendap
Johanis Sinaulan adalah Juru Tulis Pertama,Pegawai
pengairan saman Belanda di Tanawangko
terakhir Tukang kayu
3. Marensi Sinaulan Bersuamikan ……………Timban,
memperanakan :
- Sersan Lorens Timban, memperanakan :
Kel, Maengkom Timban, memperanakan :
Junus Soputan
Sintje Muaya Maengkom
Nona Kondoi Maengkom
( mantu dari Joula Soputan )
Pontoh Maengkom
Sumual Maengkom ( nyong )
Heni Maengkom
Rily Maengkom
Jhony Maengkom
4. Willhelmina Sinaulan Bersuamikan Zet Maun, meperanakan :
- Justus Maun, memperanakan
- Dedy Maun
-
-
-
-
- Maria Sengkey Maun, memperanakan
- Rica Aseng Sengkey
-
-
-
-
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Lontaan Maun, memperanakan
- Yan Lontaan
-
-
- Hellena Umbo Maun, memperanakan
- Non Umboh
- Pitong Umboh Tuj
5. Ariantji Sinaulan Bersuamikan Soputan, memperanakan
- Katharina Kalangi Soputan, memperanakan
- Ona Kalangi
-
6. Franzi Sinaulan
III. Mesakh Sinaulan bersisteri Tambun, memperanakan :
1. Andrias Sinaulan
2. Daud Sinaulan beristeri…………….. memperanakan
Anak-anak di Rumoong dan Pinapalangkow
3. Michela Sinaulan (Kel. Posuma Sinaulan) memperanakan
- Sepot Posumah
-
-
-
4. Johana Sinaulan (Kel. Mongilala Sinaulan) memperanakan :
- Maria Mongilala
- Junus Alo Mongilala
- Anna Mongilala
- Ariantji Mongilala
- Josinah Mongilala ( Sambur Mongilala )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
IV. Ishak Sinaulan beristeri Jacoba………… memperanakan :
- Jacobmina Sinaulan bersuami Elfianus Mondoringin,
memperanakan
- Lorens Mondoringin
- Ema Mondoringin ( guru pelopor TK Dorkas )
( catatan tak jelas Anis Paendong dan Tumuju )
KETURUNAN RUMENGAN
( Anak kedua dari Dotu Lonsu )
Rumengan memperanakan
- Sinorotan
- Onsina
- Sompili
- Kembuan
- Turangan
- Karewowan
Sinorotan memperanakan
- Tulandi
- Timbal
- Wesilis
- Lontaan
- Terok
- Rusungan
Rusungan menikah dengan Tani, memperankan :
Purun dan Uneran
Uneran bersuamikan Pandey
memperanakan :
Tinenden dan Rais
Tinenden bersuami Kalengkongan dan
memperanakan :
- Katharina Kalengkongan
- Ladia
- Jakoba
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
- Martha
- Simon
- Adriana
KETURUNAN KITJE DAN WULAN
Dari anak – anak Rumondor, Kalumbene, Sendowene adik dari
Mamusung
Rumondor memperanakan :
Sem,Hendrikus,Kornela,Katrentje,Her
Kalumbena memperanakan : Lonseng dan Wereng
Sendowene memperanakan : Marlina dan Johana
INILAH SILSILAH KETURUNAN RUMANGU
Rumangu memperanakan :
Maun,Pangemanan,Wolo,Pangaroran,Laiwene,Tiwon
Maun memperanakan :
Wawondatu, Siyowwene, Aper, Karundeng, Seput,
Ruindungan, Lintuuran, Langkay.
Pangemanan memperanakan : Wengkong, Rasuen, Spela
Wolo memperanakan : Rantung,Kolek,Sesung, Paku
Pangaroran Memperanakan, Robuat,Wuronton,Kayuwatu
Wuronton memperanakan, Ratumbanua
(anak angkat)
Ratumbanua memperanakan, Wokas, Tijow
Wokas bersuami Mamusung ( Abram
Sinaulan )
Laiwene…………
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Tiwon……….
INILAH KETURUNAN LOLAS
Lolas memperanakan, Kondoi,Tuuk, Manopo, Lonsow, Lieguw,Suoth.
Kondoi memperanakan Sulu, Pandey, Peteon
Pandey beristerikan Uneran memperanakan Tinenden
(ibu dari Katharina Kalengkongan) dan Rais.
Tuuk memperanakan, kambey, Rembet dan Laya
Kambey memperanakan Komeles dan Pema
Rembet memperanakan……
Laya memperanakan Johanes dan Worang
Manopo memperanakan…..
Lonsow memperanakan Mamahit, Parut dan Sekee.
Lieguw memperanakan Tumbelaka
Suoth memperanakan Rusuh dan Mondoringin
INILAH KETURUNAN TENDA
Tenda memperanakan Ludong, Rantung dan Pinontoan
Rantung memperanakan Retek
Retek memperanakan : Lumpow dan Wereng
Lumpow memperanakan Thimothius dan Arnold
Wereng memperanakan Anatje
INILAH SILSILAH KOTULUS
Kotulus memperanakan , Tani, Kupor, Kaliwunan, Talondo, Lowat,
Purukan
INILAH KETURUNAN MANGUNDAP
( Dari Kawangkoan Pindah Ke Rumoong )
Mangundap memperanakan Kalangi, Mentang, dan Ka’kap
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Kalangi memperanakan, Ondang,Lantang,Kumendong,Lombok,
Sembung
Ondang memperanakan…
Lantang,Kumendong (tidak ada anak)
Lombok memperanakan
Rensinamaria
Mi’I (Adriana)
Taas ( Yosras)
Siwi (Yafet)
Ombang (yoel)
Tuwang (welem)
Engglina
Mentang memperanakan, Wokas, Karwur, Talopook
Ka’kap memperanakan Sumangkut, Palit, Paat, Reku
INILAH SILSILAH MONGILALA
Dotu Mongilala berasal dari Leilem membuka lahan baru di Wiau dan
menetap.
Dotu Mongilala beristri Pendong dan memperanakan Junus Mongilala
Junus Mongilala Beritrikan Johana Sinaulan, memperanakan :
Maria Mongilala bersuamikan Julius Dieng (Pensunan KNIL)
tidak berketurunan.
Junus (alo) Mongilala bersitrikan Ida Punu
Memperanakan,
Yeni(Dantje Sinaulan Mongilala),
Bung( Mongilala Maun),
Fony(Kondoy Mongilala),
Eling(Sumual Mongilala),
Elsye(Timban Mongilala).
Ana Mongilala Bersuamikan ………..Rori, memperanakan
Fredrik (Rori Mongilala emes )
Along ( Rori Mokalu)
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Ariantji Mongilala
Suami 1. Dien Kalangi (tidak nikah)
Memperanakan
Nyong (Mongilala Sumendap)
Nona ( Pit, Soputan Mongilala)
Suami 2. ……………….Rantung (menikah)
Memperanakan,
Non,(Mokalu Rantung) tidak ada anak
Mien,(Punu Rantung kostor)
Zeth(Rantung Pangkey)
Josina Mongilala Bersuamikan Riyad Sambur
INILAH SILSILAH TAMPI
Tampi beristrikan Rantung, memperanakan Tampi perempuan
Tampi bersuamikan Piri (asal kiawa) memperanakan Piri perempuan
Piri Isteri pertama dari Yunus Walukow (datang dari kiawa )
memperanakn
a. Pitong
b. Juliana ( Piri Walukow )
c. Arith ( Walukow Singal )
d. Mengko (Bujang)
e. Simon Petrus Walukow
f. Ater ( Raranta Walukow )
g. Noh (Walukow Sumakul
INILAH SILSILAH SAMBUR
Dotu Sambur dari Langowan memperanakan 3 anak :
Di Pinapalangkow, Di Lapi, Di Tonsea ( menjadi Sambul)
Dotu Sambur Lapi bernama Martinus Sambur
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Martinus Sambur beristeri ……. Meperanakan :
Lasar Sambur dan Rahel Sambur
Lasar Sambur beristeri Amelia Timban memperanakan :
- Hendrikus (Sambur Saria,KNIL)
- Pit Sambur koki KNIL (Bujang kembar dengan Rozali)
- Rozali ( Bujang )
- Riyad
(Sambur Mongilala, sekolah pertanian Belanda, Landbouw)
- Jotam Sambur (bujang KNIL)
- Servius (Sambur Kalangi,KNIL)
- Jesaya Sambur (KNIL)
Isteri 1. Kalangi memperanakan, Beth,Buang,Din
Isteri 2. Mondoringin memperanakan,
- Alo Kornelius (Sambur ……………KNIL) memperanakan
Calvin Sambur (Kalimantan)
Selvi Sambur ( Rumoong)
Rahel Sambur Bersuamikan Joshua Rantung memperanakan :
Tertius Rantung
Carolina Rantung
Anatji Rantung
Tertius (Rantung Soputan,betji) memperanakan
Nyong Rantung Kostor
Lole Rantung
Carolina Rantung Bersuami Jakob Mokalu memperanakan
Utu Mokalu
Anatji bersuamikan Thimotius Maun, memperanakan :
Noh Maun
Nyong Maun (eldat)
Judith Maun
Sinyo Maun
DOTU PEWARIS WEOL
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Weol memperanakan :
Philep Weol
Hendrik Weol
Jesias Weol
Welmensi Weol
Philep memperanakan
Eldat Weol
Nelly ( Maukar Weol)
Hendrik Weol memperanakan
Brosius Weol dan Luter Weol
Jesias Weol tidak ada anak
Welmensi Weol Bersuamikan Amelius Muaya
memperanakan :
Dina Muaya
Amos Muaya
Marensi Muaya
Helena Muaya
Adelina Muaya
Nichlas Muaya
Dina Muaya Bersuamikan Mr. Palar (Mester In
lander – Sarjana hukum )
1. Julius Palar Soputan memperanakan
Dedi Palar dan Evi Palar
2. Mentji Palar, Bersuamikan Mamesah,
memperanakan :
Ona, ( Kalangi Mamesa )
memperanakanWem,Yantje,An
Kalangi
Nyong, memperanakan Buang Mamesa
Wentong memperanakan
Elsye Mamesa
Intang. (Worotitjan Mamesah)
memperanakan
Nyong (Worititjan Kaani)
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Amos .....
Niklas Muaya beristerikan…. memperanakan :
Petrus Muaya, memperanakan
Bernad Muaya
SILSILAH PALAR
Opa Mr. Palar Muaya memperanakan ;
1. Junus Palar ( Palar Sinaulan / Oma palar)
2. Portinatus Palar (palu)
3. Julius Palar ( Palar Soputan)
4. Mentji Palar (Mamesah palar)
5. Kato Palar Suaminya Wawo (orang Tondangow)
Memperanakan Yan Wawo. memperanakan Edi Wibowo
6. Willhelmina Palar ( Sinaulan Palar )
( Mr. Palar adalah Guru, juga sebagai Sarjana Hukum Belanda )
KETURUNAN MUAYA
Amelius Muaya
Jafet Muaya
Jafet Muaya memperanakan :
Jakobus Muaya ( Muaya Waney ) memperanakan Luis Muaya
Jan Muaya ( Muaya Bela ) memperanakan Nelly Muaya
Hendrik Muaya ( Muaya Pesik ) memperanakan Kanici Muaya
KETURUNAN PESIK
Pesik Tampi memperanakan
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Junus Pesik - Mokalu, (Josina Mokalu)
Memperanakan, Ani Pesik,Mas Pesik
Saudara kandung dari Josina Mokalu adalah ;
Benyamin Mokalu Sumilat, Guru (Tomohon)
Tangkow Mokalu (Tondano)
Sersan KNIL Mokalu Karundeng (pelopor
pantekosta dipancung kepalanya oleh
Jepang)
KELUARGA TIMBAN
Istri dari Lazar Sambur yaitu Amelia Timban)mempunyai saudara
kandung yaitu ;
1.
Saudara Kandung dari Martji Timban
- Mantri Lorens ( Timban Punu /Suami isteri Mantri)
Memperanakan: Meri Timban
Meri bersuamikan Maengkom
(papa tua dari tanta Mima Montolalu, orang tua
dari tanta Mima adalah Rut Maengkom )
13 anak
Yang ada di Tareran adala:
Kondoi Maengkom ( lansot)
Sumual Maengkom (lapi)
Muaya Maengkom (Talaitad)
- Alfrits Timban isterinya Sembung.
INILAH SILSILAH SANDRES
(warga Belanda)
Sandres bersiterikan Timban, memperanakan
- Kalangi Sandres,
- Sagrang Sandres,
- Repi Sandres ( Ranomea )
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
SILSILAH ADAM TUJU / Lahir, 1860 meninggal 18 april 1913
(istri dari tete adam kemungkinan orang Talaitad)
Keluarga ini yang telah menyumbangkan seluruh kayu yang
digunakan untuk membangun gereja GMIM pertama yang diambil
dari perkebunan Pobua.
Anak dari Adam Tuju adalah
1. Franz Tuju beristri Rantung
Memperanakan, Ida Tuju,Nyong Tuju, Itou,Alo,
Nona, Tina/Kel. Tobing Tuju (meningghal di
Bandung)
2. Perempuan menjadi kel. Winerungan Tuju
Orang tua dari Tete Skel atau Jehezkiel Winerungan
Aring dan Nenek Usu Winerungan (mama niko) kel.
Rori Winerungan.
Suami pertama dari Nenek Usu Winerungan adalah
Rantung, kemudian nenek usu menikah lagi dengan
Rori.
Tete Rori sebelum menikah dengan Usu Winerungan
memiliki isteri pertama Mongilala orang Tua dari
Om Along Rori.
SUMBER INFORMASI DAN BUKTI SEJARAH
Data, beserta bukti sejarah pada tulisan ini dikumpulkan sejak tahun
1983 sampai 2008
Nara Sumber utama
No Nama Umur Pekerjaan Pendidikan Bentuk Informasi Ket
1 Anna
Willhelminah
Carolina
Sinaulan
Ibu
Rumah
Tangga
Sekolah
Rakyat
Zending
Sejarah injil lapi,
data sekunder
silsilah, Sinaulan
dan kel. lain di lapi
berdasarkan tulisan
tangan dari
suaminya. Junus
Palar
Data
primer
dan
sekunder
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
2 J. A. Senduk Peniunan
KNIL dan
Perawat
perang
dunia II
Vervolk
School
Sejarah injil
Lapi,sejarah masa
perang dunia II
sampai aman
permesta di Lapi
Data
Primer
3 Riyad
Sambur
Petani Sekolah
rakyat
Zending
Sejara Injil
Lapi,adat
istiadat,sejarah
kampung.
Data
primer
4 Guru Jemaat
Tua. Agust
Worotitjan
Pemuka
Gereja
Sekolah
Rakyat
Zending
Sejarah Gereja Lapi Data
Pimer
5 Alexsander
Walukow
Petani SMEA Sejara Injil
Lapi,adat
istiadat,Sejarah
kampung. Wilayah
kepolisian Wiau
Lapi. Silsilah
keluarga.
Data
primer
dan
sekunder
7 Simon
Walukow
Petani Sekolah
rakyat
Gubernemen
Adat istiadat,
Sejarah kampung
masa perang dunia
II.Wilayah
kepolisian Wiau
Lapi
Data
Primer
8 Sam Tambun Mantan
Tentara
KNIL
Sekolah
rakyat
Gubernemen
Sejarah Gereja,
Sejarah kampung
masa perang dunia
II
Data
Primer
9 Lole Timban Veteran
Republik
Indonesia
Sekolah
rakyat
Gubernemen
Sejarah kampung
masa perang dunia
II
Data
Primer
10 Nyong
Waney
Petani SMEP Sejarah Kampung,
Adat Istiadat
Data
Sekunder
11 Narsisus
Walukow
Veteran
Republik
Indonesia
Sekolah
rakyat
Gubernemen
Sejarah Kampung
Masa Perang Dunia
II. Batas kepolisian
Lapi. Silsilah
keluarga
Data
Primer
12 Niko lapian Pegawai Perguruan
Tinggi
Sejarah
kampung,adat
Istiadat,bahasa
daerah,pemerintahan
desa.
Data
primer
dan
sekunder
13 Nyong
Mangore
Petani Volk school Pemerintahan desa Data
primer
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
14 Gembala
Kawalod
pendeta Sekolah
rakyat
Perang permesta Data
primer /
pelaku
sejarah
15 Bapak
Matotdjin
Pensiunan
TNI
Sekolah
Rakyat
Perang Permesta Data
primer /
pelaku
sejarah
16 Utu Mokalu Petani Sekolah
Rakyat
Sejarah
kampung,bahasa
daerah,perang
permesta
Data
primer /
pelaku
sejarah
17 Yan Lontaan Veteran
RI
Sekolah
Rakyat
Sejarah
kampung,,perang
permesta,sejarah
pantekosta
18 Noh sambur Petani Sekolah
Guru
Sejarah Kampung,
silsilah keluarga.
19 Yesaya
Pendong
Petani Sekolah
rakyat
Sejarah Kampung.
20 Oskar
Kalangi, SH
PNS Perguruan
tinggi
Hukum Adat /
Tanah Kalakeran
21 Marthen
Sinaulan
Petani Sekolah
Rakyat
Silsilah, Bahasa
daerah
22 Hery
Sambur
Penjahit SMA Cerita tentang
lingkungan Batu
konimpis
23 Zet Rantung Perangkat
desa,
Sekolah
Rakyat
Tentang sejarah
GPDI
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Nara Sumber Pendukung :
Beberapa Warga Kampung Wiau Lapi yang lahir dibawah tahun
1965 dari beberapa marga yang masih terbawa sampai sekarang
yaitu ;
Dien
Kaani,
Kalangi,
Langi,
Lapian,
Lumangkun
Maun,
Menengkey,
Mokalu,
Mondoringin,
Mongilala,
Paendong,
Pangkey,
Pesik,
Piri,
Posumah,
Prok,
Punu,
Dari 36 marga ini membentuk taranak-taranak lalu membentuk Wanua
(kampung) Wiyau dan La’pi.
Sumber Dokumentasi sejarah dan bukti sejarah :
1. 600 lembar foto yang diproduksi dari tahun 1902 milik Kel.
Sambur Saria yang dikoleksi oleh Kel. Matodjin Sambur.
2. Foto milik Kel. Rantung Mondoringin, Koleksi Kel. Soputan
Rantung
3. Foto milik dari Kel. Kalalo Sambur
4. Foto milik Kel. Palar Sinaulan, Koleksi Kel. Palar Walukow
Sumendap
5. Foto milik Kel. Pomantow Rompas
6. Foto Koleksi Kel. Walukow Bawelle.
Barang bukti peninggalan sejarah
Rantung,
Rompas,
Rori,
Sambur,
Senduk,
Sengkey,
Sinaulan,
Somba,
Soputan,
Sumual,
Tambayong,
Tampi,
Timban,
Tuju,
Walukow,
Waney,
Winerungan,
Worotitjan,
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
1. Lonceng Tua di gereja GMIM Buatan Prancis yang digunakan
bersamaan dengan dibangunnya gereja pertama. (sekarang ada
di GMIM Eben Haezar )
2. Bangku Kayu Tua di gereja GMIM diproduksi dimasa gereja
kedua.
3. Seperangkat alat perjamuan dan baptisan dari masa gereja
Pertama.
4. Lonceng yang digunakan sekarang adalah hadiah pemerintah
Bala tentara Jepang
Dimasa kepemimpinan Guru jumat tua A. Worotitjan.
5.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
FOTOGRAFER DAN KOMUNITAS WARGA ASING
YANG TINGGAL DAN BERKETURUNAN DI WIAU LAPI
Foto adalah sarana multimedia langkah sampai tahun 1970 –
an, tetapi orang Wiau Lapi sudah mengenal teknologi seperti itu sejak
tahun 1930 - an. Proses kerja fotografi dilakukan sendiri oleh
fotografer. mulai dari pengambilan moment / Gambar objek, sampai
pengafdrukan, pembuatan klise dan pencetakan.
Salah satu keluarga yang masih mempertahankan usaha tersebut
adalah bapak Toli, pemilik studio photo Toli di Manado. Sejak lahir
sampai berumur 12 tahun bapak Toli diasuh oleh seorang “babu”
(pembantu rumah tangga) bernama Josina Mongillala (kel Sambur
Mongilla) karena mama dari Toli adalah saudara dekat dari Oma
Mongilala Pendong. Oma mongilala Pendong adalah Oma dari Josina
Mongilala.
Ada kurang lebih seribu lembar foto yang sempat
terinfentarisasi pada saat pengumpulan data sejarah Kampung Wiau
Lapi mulai dari foto yang diproduksi tahun 1902.
Kamera yang digunakan mulai dari kamera kotak, sampai ke kamera
digital manual dengan putaran rol menggunakan fer dan kamera jenis
SRL (self refleks lens). Bapak A Liong dan bapak Timban sempat
menggunakan blitz api untuk bantuan pencahayaan.
Nama Fotografer ;
Bapak Timban (KNIL) Tahun 1930 - an
Bapak A Liong Tahun 1930 – an
Bapak Hin Pendong Tahun 1960 - an
Bapak Matodjin Tahun 1960 – an
Bapak Oswald Wotulo Tahun 1970 - an
Pada saat yang sama bapak A Liong juga berprofesi sebagai
pengrajin Terompah atau Klom, sendal yang berbahan alas terbuat dari
kayu.
A Liong adalah Tentara Nasional China berpangkat kapten
yang lari dari China karena menjadi bagian dari tekanan politik
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
partai komunsi china dibawah pipinan Mao Tze Dong, pelarian terbesar
adalah ke Taipei, Taiwan.
Bapak A Liong adalah salah satu warga keturunan Tionghoa yang
ada di Lapi disamping keluarga Kaani,Kel. Wo Seng Winerungan
(donatur gereja GMIM Imanuel). Keluarga tionghoa lain di Lapi
adalah orang – orang Hokian yang berangkat dari Canton dekat
Hongkong sebagai pedagang.
Satu-satunya warga Eropa di Wiau Lapi adalah kel. Sandres,
meskipun sampai saat ini tidak didapati data pasti tentang opa
Sandres. Sandres mulai tinggal di Wiau Akhir tahun 1800. Turunan
Kel. Sandres kemudian menyebar
Ke Matungkas dan Ranomea.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
PROFIL PENULIS
Nama : Alffian W.P.
Ttl : Wiau Lapi, 28 Mei 1972
Pekerjaan : Guru di SMP Negeri 5
Tabukan Utara,
Kab. Kepulauan Sangihe
Pendidikan : S-1 / Seni Rupa UNIMA
Alamat : Kampung Lenganeng,
Kec. Tabut
Kab. Kepl. Sangihe
Nama Isteri : Metty. M. Bawelle, S.Pd
Nama anak : Theabella Natasha Walukow
Theovinci Nathanael Walukow
1992-1995 : Aktif berpameran karya study
Tahun 1994 : Aktif menulis puisi
Tahun 1994 sampai 2001 : Merancang dan membuat Taman
Tahun 1996 sampai 1998 : Menjadi Salah
Tahun 2002 sampai sekarang :
Walukow, s.Pd
Dan pergelaran seni mahasiswa seni rupa.
dan sudah diterbitkan
± 70 -an judul dalam berbagai edisi di
beberapa surat kabar Manado.
sebanyak ± 150 taman rumah tinggal
yang tersebar di kota Manado.
satu penata Ruang
pertemuan di Aula Kantor Wali Kota
Manado dan acara-acara Dharma
wanita / PKK Kotamadya Manado
Dibawah pengawasan Ir. Ny.V.Rorong
Raung (sebagai sekretaris PKK Kodya
Manado. Merancang Pohon Natal
Tertinggi Indonesia ( tinggi 16 meter )
dan Patung Santa Claus ( tinggi 5 meter )
pada acara Ibadah Natal Bersama Propinsi
Sulawesi Utara yang dilaksanakan
dilapangan Tikala. Merancang dan
membuat Lampion Artistik Natal dan Idul
Fitri di tempat-tempat strategis Kota
Manado.
Mengelola sanggar Seni dan Ketrampilan.
Bidang pengembangan, Souvenir,
Sablon, keterampilan dan kerajinan
daerah.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Tahun 2004 :
- Mengikuti lomba inovasi guru dalam
bentuk karya tulis dengan judul “
Metode Imaginasi dalam
Pembelajaran Sejarah” tingkat
propinsi SULUT.
- Merancang Kue Ulang Tahun
Tradisional Minahasa Selatan dengan
10 ribu buah kue tradisional ( tinggi
4,5 meter )
- Merancang pembuatan Dodol
Raksasa ( panjang 10 meter – garis
tengah 50 cm ) pada peringatan Hari
Ulang Tahun Pertama Minsel.
Tahun 2005 – sekarang : Aktif menulis artikel journal tema sejarah
dan budaya dibeberapa surat kabar
Manado. Diantaranya Santiago Pahlawan
Indonesia yang dilupakan,Sejarah Sam
Ratulangi, Sejarah Walanda Maramis.
Tahun 2006 : Menciptakan rekor baru MURI.
Merancang Pembuatan Kue adat Sangihe
“TAMO” sebagai Kue adat terbesar
sepanjang Sejarah Indonesia dan tercatat
dalam Buku Recor Indonesia di Museum
Record Indonesia.Dokumentasi kue adat
ini sudah di pajang di Candi
Borobudur,sebagai Rekor terbaru dan
paling lain pada jenisnya.
Tahun 2007 : Mengikuti sayembara logo Kabupaten
Sitaro.
Tahun 2008 : Merancang kurikulum Mulok Potensi
daerah. Tingkat SD-SMP-SMA.
Tahun 2009 : - Pemenang I lomba karya nyata
tingkat Propinsi. Judul Karya “ Kursus
souvenir besi kampung Lenganeng”.
- Mengikuti Lomba Karya Nyata
Pengelola kursus keterampilan PTKPNF
tingkat Nasional di Jogyakarta.
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
Yang sudah dikerjakan di
Sangihe adalah : Menata halaman Gereja GMIST ULU
Siau,Menata halaman Gereja GMIST
PETRA Manganitu, Pembuatan kolam
Hias Kantor Dinas Diknas
Kab.Kepl.Sangihe.
BEBERAPA HASIL RANCANGAN
TAMO RAKSASA DESAIN LOGO SITARO
Guntingan koran KOMENTAR ,
edisi Kamis, 2 February 2006
116 TAHUN DESA WIAU LAPI, Alffian W.P. Walukow, S.Pd
KUE ULANG TAHUN
TRADISIONAL
PERTAMA DAN TERTINGGI
Bupati Minahasa Selatan, Ramoy
Luntungan dengan latar belakang
kue ulang tahun. Karya Alffian
Walukow. Terbuat dari kue-kue khas
Minahasa, sejumlah 10.000
bungkusan kue tradisional. (
Guntingan Koran Manado Post,
Edisi Selasa 10 Agustus 2004 )
DODOL TERPANJANG DIDUNIA
PANJANG 12 METER, BERAT ±
800 Kg, Garis tengah, bagian tengah
kue 50 cm.Pelengkap Pameran dalam
rangka HUT - 1 Kab. Minahasa
Selatan di Amurang.Pada pembukaan
pameran telah dibeli oleh Gubernur
J.A.Sondakh sepanjang 2 meter
dengan harga Rp. 2.000.000,-
( Guntingan Koran Manado Post,
Edisi Selasa 10 Agustus 2004 )......

Tidak ada komentar: