Rabu, 06 April 2011

KEBUDAYAAN SANGIHE - V



BAB  -  V
SENI  TARI DAN MUSIK SANGIHE
Penciptaan tari lahir sebagai  bagian  dari keperluan  ritual  atau  upacara  adat dan kegiatan  sosio – kultural. Dalam  tata  kehidupan seperti itu rasa  dan  semangat  kebersamaan  menjadi  titik   sentral.          ( I Wayan Dibia,dkk. Tari Komunal,2006)
Tari  berkembang  atas  kerja sama dan rangsangan  yang  didapat   dari  musik,seni rupa,sastera dan  drama. Penciptaan  tari  tradisi  sudah ada seiring  dengan  lajunya  sejarah. Masing-masing  khazana tari  tersebut mengalami  perubahan  dan  perkembangan. Satu  sama  lain dapat  terjadi  saling  silang  budaya atau  saling  mempengaruhi.( Sumaryono Endo Suanda, Tari  Tontonan, 2006)
Di sangihe, tarian  merupakan  bagian  dari  kehidupan  masyarakat,  apakah   itu  untuk  keperluan  ritual ataupun  pertunjukan. Dalam mengekspresikan tari, musik  menjadi  bagian  didalamnya. Setiap  bentuk  tari  mengalami  perubahan dari   waktu ke waktu berdasarkan  perkembangannya.
Terdapat beberapa  tari-tarian  asli  sangihe  yang  masih  ada  dan  sedang  dikembangkan   yaitu, tari gunde,tari sese madunde,tari alabadiri,tari dangsang sahabe,tari bengko,tari salo,tari upase,tari tambor dan  tarian ampa wayer.
Substansi (isi) dasar  tari,  adalah  gerak tubuh, karena  itu tari adalah  perwujudan ekspresi secara  personal. Tari  lahir  dari suatu  sistim  kebudayaan  yang  berlaku didaerah   masing-masing merupakan bentuk  komunikasi  antar manusia yang  lahir dari  tatanan  kehidupan. ( I wayan dibia,cs.Tari komunal,2006 ).
Tari dipertunjukan  pada berbagai  peristiwa, seperti  yang  berkaitan dengan upacara (ritual) dan  pesta  untuk  merayakan  kejadian-kejadian  penting.Tari  telah  berperan  penting dalam  sistim  sosial sejak  zaman  pra sejarah (Sumaryono, Endo Suanda,Tari tontonan, 2006)

A.                   MUSIK DAN TARI LIDE.
Penelitian tentang  musik  ini telah  dilakukan  oleh  banyak ahli dan  pemerhati lokal dan beberapa  pakar  etnomusikolog  dari Indonesia  maupun  luar   negeri. Mengolį  adalah  suatu kegiatan  memainkan  alat  musik yang  dinamakan musik lide. Latar belakang permainan musik  ini adalah  sebagai media penghubung manusia dan  sang  penguasa  alam. Disamping  memainkan  musik ,terdapat  satu  orang  perempuan  yang   menyanyi dengan isi syair pantun  (dalam  bahasa sangihe disebut  papantung, medenden).  Musik  lide terdiri dari sekumpulan  alat musik  tradisional  Sangihe yang dimainkan  secara  bersama oleh penganut  kepercayaan sundeng. Musik  ini  sudah  ada bersamaan  waktunya  dengan    kerajaan  mula-mula  di  kepulauan  sangihe tahun 1500 – an. Kesenian  ini  lahir  sabagai  bagian dari  ritual mêsundeng.
1.          Jenis alat  musik lide
Musik  lide  terdiri  dari beberapa jenis  alat musik yang pada musik melodis memiliki unsur 5  buah  nada   yaitu : do,re,mi,fa,sol.
a.              Alat musik  melodis atau  alat yang  mengantar  melodi  pada  lagu.
·                 Arababu dan  alat  penggesek.





·                 Bansi,  alat  musik   melodis


b.              Alat  musik  ritmik.
·                 Sasesaheng


·                 Salude



·                 Oli

2.          Jenis lagu pada  musik  lide.
Musik   lide   terdiri   dari  8  jenis  irama lagu purba. Jenis  irama lagu  purba yang  masih  ada dari  antara  8  lagu  purba adalah :
1. Lagung lide
2. Lagung laogho u  lendu
3. Lagung elehu ake
4. Lagung sangi  u  wuala
Lagu  yang  sudah  punah  diantaranya adalah Ondolu Wango.

Hal ini disampaikan  oleh  nara  sumber, pemain dan pembuat  alat dikampung  Manumpitaeng bernama  Umbure Kalenggihang. Menurut bapak Malomboris (pemerhati  music  lide dari kampung  Manumpitaeng) lagu yg  sudah  dinyatakan  punah masih  dapat   dimainkan  oleh Bapak  Umbure tetapi  belum  saatnya  diajarkan.  Hal  ini mungkin  berhubungan  dengan  sitem  pewarisan  pada  Agama  Sundeng. Menurut bapak Malomboris, pemerhati  budaya lide dari Manumpitaeng mengatakan  bahwa selain lagu, terdapat  juga tari pada  ritual sundeng yang   sudah  dinyatakan  punah, tari  tersebut bernama  Tari  lide.

Jenis irama  lagu, pengembangan dari  lagu  purba diantaranya  adalah :
1. Lagung bowong buas
2. Lagung balang
3. Lagung sahola
Setiap  jenis  lagu   memiliki  latar  belakang  penciptaan  yang  berbeda. Yang  unik  dari  irama  musik  lide  yaitu :  irama  musik  lide sudah  diturunkan secara  turun-temurun  tanpa  perubahan secara   signifikan. Perbedaan  musik lide hanya  terdapat pada tempat dimana  musikc itu dikembangkan. Irama lagu   musik  lide di  daerah  sekitar   Pulau  Mahumu hanya   menggunakan  3  irama lagu   sementara  didaerah  lain  menggunakan 4  irama lagu. Musik  lide  merupakan  paduan  dari  beberapa  jenis  alat  musik  seperti : Oli, Bansi, Arababu, salude  dan Sasesaheng  yang  dimainkan  secara  bersamaan menjadi sebuah  ansambel. Permainan   music   ini  sering  juga  di padukan  dengan  vocal / suara  manusia.  Syair  lagu  yang  dinyanyikan kebanyakan bertema permintaan  yang  memiluhkan, hasil  dari  penderitaan yang berkepanjangan. Pada  perkembangan  salanjutnya Musik  lide mulai  dipadukan  dengan  gong atau dalam  bahasa  sangihe  disebut  Nanaungang. Kegunaan gong  adalah  pengendali  tempo lagu.


3.           Filosofi  dan  pemaknaan lagu  purba pada  music  lide.
Dari  keempat  jenis  lagu  yang  ada,  pada  dasarnya  mempunyai  nuansa kepedihan. Lagu  lide  merupakan lagu  inti atau  lagu pembuka  yang  dapat  menyertai  penyembahan  agar cepat  sampai  kepada  sang  penguasa alam dalam  bentuk  permohonan.Lagu  Elehu ake : mengetengahkan  tentang  bentuk  permintaan  dan  permohonan  seperti air  yang  mengalir.Lagu Sangi U Wuala : arti  sangi  u  wuala  adalah Tangisan  Buaya. Dimasa  lalu masyarakat  sangihe  meyakini  adanya  Upung (leluhur) Manusia  dan Upung (leluhur) Buaya. Upung  buaya berjalan  dengan  dua kaki menggunakan  ikat  kepala  merah. Upung  buaya  ini  memiliki  kekuatan  yang  sangat  sakti  sehingga  apa  yang  dia  minta  harus  diberikan. Jika permintaannya  tidak  dipenuhi  maka  akan ada  korban yang  ditelan. Lagu  sangi  u  wuala berkisah tentang ancaman  terhadap  kehidupan  manusia yang   digambarkan sebagai  rupa  Buaya. Ancaman  tersebut telah  membawah umat  pada  kesedihan  yang  berkepanjangan.Lagu  Laogho u lendu,lagu  lendu diambil  dari  nama  salah  satu  jenis   burung  yang  hidup  di sangihe. Burung  ini   adalah  satu-satunya  burung    dalam  kehidupan  budaya  sangihe yang  dianggap  sebagai perpanjangan tugas  penguasa  alam. Tugas  burung  lendu  yang  paling  utama  adalah  ating  tanda  tentang  kematian kerabat  terdekat. Selain   lendu  ada  juga  kaliyaow yang  meberi  tanda  akan  kehadiran  kerabat  dekat  dari  tempat  jauh.











4.          Salah satu bentuk  lagu  pada   musik  lide

Komposisi Lagung  Lide





























Kelompok pemain musik lide kreasi Tabukan.Awal tahun 1900. Pada  kelompok  ini sudah  menggunakan  6  buah  gong, dimainkan khsusus  oleh wanita,dalam  pementasan.
Foto dari buku  “Nusa utara  dalam geopolitik”,oleh Manenda Sarapil

Dukun-dukun Wanita berpakaian koffo dilatarbelakangi  pemain musik lide di Manganitu. Awal tahun 1900. Dimainkan dalam ritual
adat.  Foto  dari  buku “ Kabar baik dari bibir pasifik” D.Brillman



























5.        Tarian  yang  diiringi  musik  lide.
Tari lide  sebagai  bagian  dari  ritual mêsundeng. Merupakan tarian purba  yang  sudah  punah. Tari ini dilakukan  dalam  tahapan  menalê, (menalê  adalah memberi  makan, wawancara : G. Makamea,2008)  dilakukan  untuk  mengantar  roh perempuan  muda yang dikorbankan kepada  sang  pencipta).










                                Pola  lantai  tari  lide
                               











Tari  lide  ditarikan   oleh perempuan, penari  mengelilingi  korban dalam  kelompok  tari, dan  menari  sesuai   gerakan masing-masing yang  imajinatif dan  spontan. Gerakan  dasar  tari, tangan  di goyang dan  kaki  disentak-sentakan ketanah sambil  mengelilingi korban. Dasar  dari  tari lide  adalah  tari  tunggal  yang  ditarikan  bersama.Dilihat dari unsur  tari  maka  tarian  ini dikelompokan  sebagai tari komunal. Tari komunal  adalah suatu  peristiwa   pertunjukan  tari yang  melibatkan  masyarakat  besar. Tari komunal mengandung  prinsip semangat kebersamaan,rasa persaudaraan atau  solidaritas terhadap  kepentingan  bersama.
Lambat laun konsep kebudayaan  semakin  mengalami  perubahan. Setelah  masuknya  agama  Islam dan  agama Kristen di kepl. Sangihe  maka  pengorbanan   manusia   diganti  dengan binantang  berupa  babi. Seekor babi dengan  persyaratan yaitu  babi  tambun  besar   berwarna  hitam  keseluruhan dari  unjung  kepala  sampai  ujung  kuku.Pengorbanan   binantang  kemudian  diganti lagi  dengan Sajen  berupa  ketupat jenis  bebatung kambing, salah  satu  jenis   ketupat  dari  16  jenis  ketupat  sangihe.(wawancara : Makamea 2006) Ketupat  kemudian  diganti  lagi dengan  nasi  kuning  yang  disajikan  diatas  piring  besar yang  disebut dulang. Populasi  pelaku  musik  lide asli dan medenden tinggal satu orang.



B.         KESENIAN  MĔBAWALASĔ
Mĕtaggongong identik  dengan  mĕbawalasĕ sambo.
Alat   musik   yang  digunakan  dalam permainan musik “mĕtagonggong”  adalah gendang.








Dimasa  lalu,  permainan  musik  tagonggong dijadikan sebagai  pengiring kegiatan “me’sambo” atau  mĕbawalasĕ  sambo, tari gunde dan upacara  adat. Pengaruh kebudayaan  import dan  saling  berpengaruhnya budaya  sendiri menjadi  bagian  dari  perjalanan panjang budaya  mebawalase  kantari.
Dari   cerita  lisan  dan  beberapa folklore sangihe tentang Makaampo, memberikan  gambaran  kemahiran  leluhur  orang sangihe  dalam  berpuisi dan  berpantun. Berpantun adalah   bagian  umum  dari   budaya   nusantara yaitu  mengucapkan syair – syair  dalam  bentuk  percakapan yang   memiliki  arti  dan  harus  dibalas sesuai  permintaan  syair   sebelumnya. Pantun  dilakukan secara  berbalas-balasan antar dua orang  atau  dua kelompok.
Pantun,mantera,tinggung-tinggung  adalah   sastera  lisan  tertua  di sangihe yang  diajarkan  secara  turun  temurun. Mantera  mengalami  perubahan  isi   sejak  masuknya  Islam  dikepulauan  sangihe. Pantun tidak  mengalami  perubahan  isi melainkan   mengalami  perubahan cara  penyajian. Tinggung-tinggung atau teka-teki pertama  kali  mendapat  respons masyarakat di  Istana  kerajaan tabukan. Dikemudian hari kegiatan   berbalas    syair muncul dalam  bentuk  berbeda yaitu   disajikan   dengan  iringan   musik  tagonggong. Syair lalu   dilantukan “bernada” penthatonik  dan  dibalas  oleh  orang lain. Sambil  melantunkan  sambo setiap   orang  harus  memukul tagonggong   sesuai  irama  yang  diinginkan.
Ada   tiga  unsur penting dalam mĕbawalasĕ sambo   yaitu : mĕtagonggong, mĕsambo,mĕbawalasĕ. Inti   dari  kesenian ini  adalah mĕbawalasĕ. Setiap  lawan sambo harus mampu  menjawab  atau   membalas syair  yang disambokan. Kalau  tidak  maka  akan  dianggap  kalah. Berdasarkan  cerita   dari  kampung dagho, kalamadagho dan  pananaru  bahwa   pulau  sambo   yang  ada di  pantai  kalamadago terlempar  akibat  permainan  tagonggong dan  sasambo  seorang  yang  sakti.   Sampai  saat  ini,  pulau   tersebut  dinamakan  pulau  sambo.   Dimasa  lalu,   setiap  sambo   yang  dilantunkan memiliki  kekuatan  magic yang  dapat  membunuh  orang.Bentuk  lagu  sambo  terdiri  dari : lagung  balang,lagung sonda, lagung sasahola,lagung duruhang, dan  lagung   bawine.
Setelah  masuknya  bangsa  eropa,  kesenian  mĕbawalasĕ melahirkan bentuk  baru  yaitu saling berbalas lagu atau mĕbawalasĕ kantari. Lagu-lagu yang  dinyanyikan  mendapat  sentuhan   diatonis eropa yaitu   nada do,re,mi,fa,sol,la,si.
Pada  awalnya, kesenian  mĕbawalasĕ kantari dilaksanakan  pada  kumpulan  keramaian  sebagai  pertunjukan  rakyat  dalam  acara-acara  hayatan, pernikahan  dan kematian. Proses mĕbawalasĕ kantari mula-mula adalah  seseorang  berdiri sambil menyanyi  lalu diikuti  oleh peserta  yang  hadir sambil menunjuk satu  demi  satu orang  yang  hadir  ketika  lagu  berhenti, dengan  sendirinya  orang  yang tertunjuk bersamaan dengan akhir  lagu  harus berdiri menggantikan  orang  yang  sedang  berdiri. Kesenian  ini kemudian disebut  tunjuk”.
Kesenian  mĕbawalasĕ kantari menemui  persimpangan  sejak masuknya  injil  di  tanah  sangihe. Pada  saat  itu lahir  bentuk  paduan  suara gereja yang disebut Zangvereeninging  yang  diambil  dari  kata dasar zang (bahasa  belanda) yang berarti nyanyian. Di manganitu kelompok   paduan  suara  ini berkembang  sejak  akhir  tahun 1800 dengan sebutan  sampregening.  Diawal tahun 1900  Nn. C.W.S. Steller menawarkan diri  menjadi pelatih sampregening jemaat kristen Paghulu.  
Lambat  laun kesenian eropa  ini   terinkulturasi dengan  kesenian  “tunjuk”. Kemudian muncul kesenian  masamper  yang  merupakan persilangan  antara paduan  suara   gereja  dan  kesenian  tradisional. Pengistilahan sampri sebagai  paduan  suara masih  digunakan sampai  tahun 1960-an. Bersamaan  dengan  itu   sudah  muncul  istilah  samperě  yang  menggantikan istilah  tunjuk  pada  kegiatan  mebawalasě kantari.
Kesenian   tradisional  adalah seni budaya yang  sudah  sejak lama  temurun,telah  hidup  dan  berkembang pada suatu  daerah  tertentu  ( Okka A.Yati dalam M.M.Bawelle, Pengaruh  Partisipasi  Sponsor terhadap  pengembangan seni  masamper di kecamatan malalayang  kotamadya manado, Skripsi,1998)
Masamper mula-mula berasal  dari bahasa belanda Zang sfeer yang  artinya  menyanyi bersama  dalam  suasana tertentu. Masyarakat  sangihe  menyebutnya  Samper dan  mendapat pengaruh  imbuhan “me” menjadi  mesamper. ( Taman Budaya, Rumusan hasil   sarasehan  masamper, 15 0ktober 1992 dalam M.M.Bawelle, Pengaruh  Partisipasi  Sponsor terhadap  pengembangan seni  masamper di kecamatan malalayang  kotamadya manado, Skripsi,1998)
Unsur  utama  Masamper  adalah : unsur  musik  vokal,unsur gerak,unsur mebawalase atau  berbalas-balasan. Menggunakan  nada  diatonik  dan  dinyanyikan seperti paduan  suara / koor. ( M.M.Bawelle, Pengaruh  Partisipasi  Sponsor terhadap  pengembangan seni  masamper di kecamatan malalayang  kotamadya manado, Skripsi,1998)
Di Indonesia  hanya  ada dua bentuk  paduan  suara  tradisional  yaitu paduan suara tradisional batak dan masamper dari  sangihe. Masamper terbentuk  dari beberapa  babakan  berdasarkan  jenis  lagu  yang dinyanyikan.
1.                    Lagu  pertemuan  atau  perjumpaan.
Pada  jenis  lagu  ini   hanya dapat dinyanyikan lagu  yang bertemakan perjumpaan  dalam suatu  acara hayatan  seperti perkawinan  dan  kematian. Jenis  lagu  ini  mengalami  perubahan dengan tema lagu  perjumpaan  secara umum.
2.                    Lagu rohani / pujian
Pada jenis  lagu  ini   hanya  dapat dinyanyikan lagu yang  bertemakan  rohani. Termasuk aktifitas  religius  agama sangihe  maupun  agam  kristen.
3.                    Lagu-lagu bertemakan  kepahlawanan
Pada jenis  lagu  ini   hanya  dapat dinyanyikan lagu   yang  bertemakan  kepahlawanan pahlawan sangihe. Tetapi  kemudian  seiring  dengan  perkembangan muncul  tema kepahlawanan  nasional.
4.                    Lagu-lagu  bertema  sastera sangihe.
Pada  jenis  ini hanya dapat  dinyanyikan lagu yang  bermakna dan  bernilai  sastera tinggi, tidak  boleh menggunakan kosa kata  bahasa  sangihe  sehari-hari.
5.                    Lagu  percintaan
Pada  jenis  lagu ini  mengambil  tema cinta  dan  kasih  sayang orang tua kepada anak, anak kepada orang tua, kepada sesama,kepada teman dan sahabat, kepada orang dewasa yang  akan dan saling bercinta (pacaran), problema cinta muda-mudi,problem rumah tangga.
6.                    Lagu  perpisahan
Babakan  ini  adalah babakan yang  paling terakhir  dimana  acara mêsamperê sudah  selesai.Berakhirnya mêsamperê ditandai  dengan  tidak  ada lagi kelompok  yang  mampu membalas lagu  terakhir.
Dimasa lalu kegiatan  mêsamperê dapat  diselenggarakan  selama  24 sampai 48 jam. Hal  ini  bisa terjadi  apabila kelompok  yang  ikut  dalam mêsamperê memiliki  banyak perbendaharaan lagu. Hal  yang  menarik  dimasa lalu, karena kehabisan  lagu seorang  pangataseng (pemimpin  mêsamperê) dapat  menciptakan  lagu pada saat  kegiatan  mêsamperê sementara berlangsung.
Meskipun  lagu – lagu  masamper banyak menggunakan  lagu – lagu tahlil dan mazmur, tetapi  ditahun 1800,  budaya  masamper  adalah  budaya  umum sangihe. Hal  ini  terbukti dengan  banyaknya  kaum  muslim   yang  ikut  dalam  kegiatan “tunjuk”.  Mereka  mengetahui  banyak  lagu-lagu  kristen. (penjelasan   bpk. Luqman Makapuas  dan beberapa tua kampung di Tabukan Utara) Sejak   munculnya  sampregening  maka  kebudayaan masamper lebih  identik  dengan  kristen.
Tahun 1980-an, masamper  mulai dilombakan  dalam  berbagai  kegiatan. Menjelang   tahun 1990-an nilai-nilai asli  masamper berubah   dengan  munculnya  grup-grup   masamper modern  yang  tujuannya mengarah kepada kegiatan  komersial.. Nilai   positif  dari  munculnya grup  masamper  komersial  adalah semakin meluasnya  pengenalan akan   budaya  sangihe   ke seluruh  Indonesia.







Kelompok Zangvereeninging dari  Manalu,
pimpinan  Bpk. Beltazar Tatontos thn 1927

Pementasan  Masamper dalam rangka Sail Bunaken,Bitung 2009

 











Selain  beberapa seni  musik  yang  sudah  dijelaskan, Masayarakat  sangihe juga  mengenal beberapa permainan  musik lain seperti: musik  tunta, musik  bambu melulu, musik puhe dan music orkes.  Musik  orkes   adalah  satu  bentuk  ansambel  music  yang diwariskan  sejak  masa  Spanyol.

C.         TARIAN  SANGIHE  
Masyarakat  sangihe telah  mengenal  tari  sejak  zaman  pra  sejarah. Dimulai   dengan  lahirnya tari  lide  dalam  upacara  sundeng. Tari lide kemudian  berubah   karakternya  menjadi  mêsalai (salai  dalam  bahasa  sangihe  artinya  menari). Konseptual  tari  sangihe  pada  awalnya  dilakukan  dalam  upacara  sundeng   yang  merupakan  bagian  dari keutuhan  teatrical  upacara   dimana  terdapat  berbagai macam  kesenian  yang  ditampilkan dan  setiap orang melakukannya  berdasar peran  masing-masing.  Mêsalai  memasuki  bentuk  baru  yaitu  : pementasan  secara  spontan  dalam acara-acara  keramaian. Mêsalai  yang  berakar  dari  tari  lide ditarikan oleh  sekelompok orang dengan  peran tunggal  disertai gerakan dan ekspresi  spontan, tanpa dibentuk sebelumnya. Konsep utama  tari  ini adalah  gerakan bebas  dilakukan  oleh  laki-laki  dan  perempuan. Tari  ini  mengalami   perubahan-perubahan   sampai  muncul tarian  Gunde.
Berdasarkan fungsi  dan  perannya  dalam   kehidupan  sosial, tari  - tarian  sangihe  dikelompokan  dalam  dua bagian  yaitu ; Tarian  Istana dan Tarian Rakyat.
a.        Tarian Istana
1.          Tari Gunde
Pada  awalnya   tarian  gunde ditarikan  secara   perorangan  dikampung-kampung  oleh para  wanita yang  masih  perawan  pada  upacara  perkawinan   yang  menggambarkan  kesucian  seorang  wanita  sangihe. Gunde dalam  bahasa  sangihe  berarti  lambat. ( A. Takaonselang-Manganitu,wawancara. 2006).
Pada suatu  masa  masuklah  kesenian  ini  menjadi  bagian  dari  kesenian  Istana  dikerajaan Manganitu. Penari  dipilih  dari  penari-penari  terbaik di tiap  kampung. Gerak  dasar  tari gunde  teradaptasi  dari  tari  lide. Mulanya   tarian ini  dipentaskan  sebagai  tarian  hiburan  untuk  raja, kemudian  berubah  fungsinya  menjadi  tarian  penjemput  tamu penting  kerajaan yang dilakukan di depan istana. Seiring  perkembangan  waktu,  ada beberapa  penari  gunde istana lalu  menjadi selir  raja. Persebaran  penari  gunde  meliputi  semua wilayah  kerajaan  Manganitu.




Tari Gunde untuk  penjemputan  Tamu.
Foto : Pergelaran Budaya  Sangihe di Surabaya, 2007
 










2.     Tari Rangsang Sahabe dan Tari  Alabadiri.
Tari  ransa / rangsang  sahabe atau dangsang sahabe adalah  tari  yang tercipta  dari sebuah  sayembara. Tarian  ini  lahir  dari  lingkungan  istana kerajaan tabukan tahun 1700.Pada  saat  itu  terjadi  kefakuman  jabatan  raja  setelah  Raja  Don Fransiskus Yuda – I  mengakhiri   jabatannya. Untuk   mengisi  kekosongan  jabatan maka  di persiapkanlah satu lomba khusus  kepada    dua  orang  calon  pengganti  raja. Dua  orang  tersebut adalah Dalero  dan Pandialang. Lomba  yang  disiapkan  adalah lomba  dayung (dorehe) . Jalur  yang  ditempuh mulai  dari Salimahe sampai ke Punge ( pulau beng laut).
Kompetisi itu  terjadi kira-kira  tahun 1720 dan   dimenangkan  oleh Dalero dengan kecurangan.  Dari  kemenangan  itu   dalero berhak  menduduki  tahta  kerajaan. Nama lain  dari  dalero   adalah Markus Jakobus Dalero. Untuk  memperingati kemenangan tersebut,  dalero  menciptakan  tari  yang  dinamakan  tari  Alabadiri. Pandialang hanya   menduduki  jabatan  Jogugu di Sahabe. Pandialang  yang  kecewa, lalu  menciptakan  satu   tarian tandingan  yang  disebut  Rangsang Sahabe. Secara umum  tari alabadiri  dan  ransang  sahabe  memiliki  kesamaan.
Tari alabadiri, dapat  dikelompokam  sebagai  bentuk tarian teatrikal. Penari membawakan peran dari  sebuah  cerita  dalam  bentuk  gerak tari.  Tari  alabadiri  terbentuk  dari 10 tahapan dengan konsep tari dan cerita yang  berbeda. Tari  alabadiri menggunakan beberapa properti pendukung tari  seperti ; kulubalang,kaliau,tokoting,sinsing,sondang. Tarian ini khusu  dimainkan oleh laki-laki diiringi “tambor” (bukan tagonggong) dan dipimpin oleh seorang  pangataseng  dan dua kapita.
Tahapan  tari alabadiri adalah :
1.              Penghormatan kepada penonton (pembukaan)
2.              Gerakan  dengan  alat kulubalang (tongkat berhias)















3.              Gerakan  dengan  alat tokoting (cambuk dari rotan)


4.              Gerakan  dengan  alat sinsing (cincin)
5.              Gerakan  dengan  alat sondang ( pisau kecil)





6.              Gerakan mesalai (menari-nari)
7.              Gerakan memainkan  kaliau (perisai) ke telinga



8.              Gerakan memainkan  kaliau (perisai) ke lutut
9.              Gerakan mangaemba (terbang  seperti burung)
10.           Penghormatan kepada penonton (penutup)
Filosofi  utama tarian  ini  bermakna  “tunduk  dan  patuh  pada penguasa.




























Kelompok penari Alabadiri (atas) Dangsang sahabe (bawah), thn 1927 di  istana  kerajaan Tabukan.
 



Tari  Upase,  adalah  tarian  yang menggambarkan  kesiapan  pengawalan  raja  dalam  setiap  peperangan. Tarian  ini  disebut  juga  Opase.























Pasukan opase dalam  tarian  upase,
Kerajaan  Tabukan  1927













        12 anak  bangsawan laki-laki dalam pasukan  běngko


Tari Běngko, adalah  tari yang  diadaptasi  dari peran  prajurit  kerajaan  Tabukan  dalam  mengawal raja. Tari ini   menggambarkan   kesiapan  pasukan perang dalam  menghadapi  musuh. Dalam  bahasa sangihe, bengko berarti tombak.
Tari  Kabasaran  Tambor. Tarian ini  menggambarkan  semangat perang, yang disampaikan melalui pukulan-pukulan  tambor. Diperkirakan  bentuk  kesenian ini teradaptasi  dari  kesenian  eropa. Tarian  ini  sudah  punah  dan tidak pernah  lagi  dimainkan.







          Pasukan  Kabasaran Tambor  kerajaan  Tabukan,1927

b.        Tarian rakyat
1.          Tari Salo
Salo  berarti  mengamuk. Tari salo adalah  bentuk   tarian   purba yang  dilakukan  dalam upacara  sundeng sampai masuknya  bangsa eropa  di  Sangihe. Prosesi  salo  dilakukan  dengan  cara mengelilingi korban persembahan  berupa  babi. Diiringi  bunyi-bunyian  musik etnik sangihe sambil menikam  babi  yang tergantung  di  pohon. Tari salo  lahir  sebagai  ekspresi  perang  antara  kebaikan  dan  kejahatan  dalam  kepercayaan sundeng (G, Makamea,dan  masyarakat disekitar tempat upacara, wawancara, 2006)  Tari  salo  yang dulunya  bagian  dari kegiatan  ritual adat kemudian  menjadi  bagian  dari tari  pertunjukan rakyat.  Biasanya  tari ini  diperagakan   saat  ada kunjungan  tamu  terhormat atau dalam  acara tuludě. Selain  salo  terdapat  juga  tari  upase,tari bengko,tari alabadiri dan dangsang sahabe yang  menggambarkan  semangat, dalam  bentuk tari theater. Tari  salo adalah  tarian  rakyat sedangkan tari  upase,tari bengko,tari alabadiri dan dangsang sahabe adalah  tarian  istana.








                  Pergelaran  Tari  Salo, pada  peringatan  Hardiknas 2009 di Tahuna
2.     Tari Ampa wayer
Di era tahun  1940 – an, lahir  sebuah  kesenian  rakyat  baru,yang disebut “ampa wayer”. Kesenian  ini  adalah  kesenian  rakyat yang  muncul  dari kepulauan  Siau.  Kesenian  ini  merupakan  adaptasi  dan perpaduan  dari  kesenian eropa dengan kesenian  setempat. Tarian  ini  sudah   berkembang sejak masa  penguasaan  spanyol di  kerajaan  Siau dan menemukan  identitasnya  menjelang  berakhirnya  perang dunia ke -  II.  Ampa  wayer  adalah gerak  tari kelompok yang  dipimpin  oleh  seorang kapel. Gerakan tari terbentuk berdasarkan   irama  musik  pengiring . Pada  dasarnya,  inti   dari  kesenian  ini  adalah  tarian  muda-mudi  yang  ditarikan  secara  spontan   dalam  kumpulan  keramaian  sebagai bentuk  ekspresi  kebebasan dan  kemerdekaan.

3.     Tari  Mědunde.
Tari ini berkisah tentang latar belakang  lahirnya pulau siau. Sepintas,   cerita   dalam  tari ini  mirip  dengan  kisah Tumatenden  dari  Minahasa  Utara dan kisah Joko Tarub dari jawa. Cerita  dalam   tari ini mengisahkan  perjodohan  antara seorang  laki-laki  bernama Mědunde dengan  seorang  bidadari dari  khayangan. Awal kisah,  medunde seorang  yang pintar berpuisi  suatu  ketika  memasuki  hutan untuk mencari burung. Tetapi dia justru bertemu dengan  seorang  bidadari yang  sedang mandi  bersama 9 orang saudaranya.Salah  satu  dari  bidadari  itu   yang  kemudian  menjadi isterinya.  Dari  pernikahan  itu  lahir  dua orang anak bernama  pahawon sulugě dan kanawoeng (kanawoeng  bergelar pahawontoka). Siau diambil   dari  kata sio (sembilan)  dari kisah sembilan  bidadari dan Mědunde (buku toponimi,............sudin  kebudayaan dinas diknas,  2006)

4.     Tari Kakalumpang
Tari  ini  berkembang  sejak  masa  kekuasaan   VOC  di sangihe yang dipadukan  dengan  aktifitas  masyarakat. Latar  belakang ceritanya  adalah : Ternate sebagai perpanjangan tangan VOC  mengklaim  kekuasan  atas  sangihe, sehingga rakyat  sangihe   harus   memberikan  upeti  kepada  kesultanan ternate.
Upeti  yang  diberikan  berupa minyak  kelapa. Dari  kegiatan  mencukur  kelapa inilah lahir  kesenian  Měkakalumpang. Tari kakalumpang juga mendapat  sentuhan maluku dengan  tari gaba-gaba.

Pergelaran  tari  kakalumpang,hardiknas 2009 di Tahuna
Masih  banyak  kesenian sangihe yang tidak  dapat dikembangkan seperti
: Seni mebowo dan seni meganding.Seni mebowo, adalah bentuk seni 
yang dilakukan dalam  bentuk nyanyi untuk  menidurkan  bayi  dalam 
ayunan. Pengungkapan  lagu hanya  dengan  syair  yang  bermakna
puitis.









Ayunan  bayi  suku  sangihe
Selain  beberapa  kesenian   yang  sudah  dipaparkan  sebelumnya,juga  terdapat  kesenian  Islam asli  sangihe  yaitu : Hadrah mangut, Samrah dan Turunan. Semua  jenis  kesenian  Islam sangihe, pada awalnya lahir  dan  berkembang di  Tabukan  kemudian  menyebar ke seluruh  daerah yang  berpenduduk  muslim.










Kesenian  hadrah


Tidak ada komentar: