Senin, 17 Oktober 2011

PUISI ALFFIAN WALUKOW - DISEBRANG LAUTAN - 2006

KUMPULAN PUISI









DISEB’RANG  LAUTAN



( Puisi – puisi ini  berkisah tentang kebudayaan dan sejarah sangihe serta keadaan penduduk sangihe)







KARYA

ALFFIAN   WALUKOW



MANGANITU  2006



tumpangan



aku sendiri,

aku seperti sendiri

seperti di sorga,

menatap langit penuh awan

terhimpit diantara air

yang mebiru, membumbung dan menerjang,

sampai jauh keatas perih.

sesampaiku,

ku tak tahu dimana jalan, dimana ilalang.

rimbun gelap menutup hati,

yang sendiri,

dan seperti selalu sendiri,

sunyi,………

sepi,…………

akan dimulai atau diakhiri,

tapi kapan,

kalau sauh tak pernah dilempar,

‘tuk jemput aku yang sengsara.

biarkan,….

biarkan semua terjadi.

seumpama mimpi yang sedang bermimpi

sampai kapan, jalan ini menuju pada arahnya,

kalau gunung tak pernah tersibak

laut tak akan terbelah

sampai kumati…..

sendiri…………

tanpa kekasih.







dapatkah   bebas





bukakan jalan,…. pengawal,

jangan terus berjaga,

lemparkan talimu,

buatku beranjak,

yang cuma terdiam tanpa  arti  dibelantara

penuh berat bebanku, jika t’rus menunggu

dalam lingkaran lautan.



lepaskan aku,…… pengawal

dari ikatan kain dikepala

dan  “bika”  dibelakangku

setiap kali selalu kesakitan

dipermalukan.

lihat…… betapa kuat tanganku,

lihat…… betapa keras kulitku,

tapi aku tak bisa lagi menganyam “kembuahe”

kar’na  “ginto”  yang kupunyapun sudah terjual.





ijinkan  aku  duduk  di “ jalan  makaampo “



ijinkan aku duduk disini

kalau nanti ku tak punya lagi tempat untuk duduk.

semua yang kupunya kini punyamu

aku lupa,……

siapa yang menjual tanahku,



ijinkan aku duduk,…… ‘tuk minta sedekah.

kar’na kini ku tak punya apa-apa lagi.

semua tergadai….

kepadamu orang yang tak kukenal

kau bukan makaampo

kau bukan larenggam

kau bukan sarapil

kau bukan tinungki



kepadamu dulu kutitip nama leluhurku

bukan berarti kujual………

surat  buat    “ papa’  akang “



maaf…..

aku tak dapat pulang.

jangan tunggu sampai jasad  “ tua’ “ membusuk

pasangkanlah nisan yang indah,

dan kuburkanlah di tanah famili.



tulis dipusara,……

” sungguh aku hanya orang yang tertindas

tapi bukan budak di tanah  lolak “

aku ada di lembe,

aku ada di wori

aku ada di belang,

aku ada di bitung

aku ada di  toli – toli

aku ada di makasar

aku ada di tanjung priuk

aku ada di madagaskar



titip salam

buat pewaris udah makat raya.

yang lupa dimana jalan  ke sangihe.



akan kutunjuk jalan ke tabukan,manganitu, kendahe,tahuna,siau, tagulandang, lirung.

akan kuantar kegunung-gunung leluhur

meski namaku tak pernah tertulis.



kepada  “ popo axel 



pirua.……po

tabea’……po

masih ingat…….

kata yang selalu ada

dalam susah

dan selalu ada demi martabat

ratusan tahun gumansalangi  berjalan diantara kita

sejak tampungang lawo.

dan  genggonalangi terus melindungi kita,

tak satupun sedih  mengikat hati

karena kita satu kerabat

tinggal di tengah lautan luas

terhempas  ombak

tersudut oleh  zaman

zaman yang sedang meninggalkan kita.



pirua…………po

berapa banyak  cucu leluhur  ditanah ini…..



yang  tinggal   hanyalah,………

mereka yang lahir karena cinta,

mereka yang hidup karena peduli,



pirua …..po

dimana mereka yang dulu punya tanah ini

mereka yang punya nama dinisan.

mereka yang  dulu  menentang  voc

dengan semangat……

dengan bininta……



pulang……po,

lihat negeri ini yang besar dalam selubung  adat,





tetapkan  hati  meski  kan  mati





angsuang mencengkram erat hati bisu ini

yang datang karena cinta

mengapit dikiri  cercaan

menunggu disini petaka

menggerutu  tak lagi,

seumpama perahu tenggelam dilaut luas

tak satu mata kan melihat

betapa negeri ini dalam gugatan anak baru lahir.

dalam warna yang berbeda

antara hati yang serpih

menyatukan mu  i  genggona

dengan ku opo muntu untu,

berjalan pada sorga sendiri

pada tongkat toar lumimuut

dan perahu sangiang mengkila tercinta.

hitammu bukan hitamku

tapi putih hatiku pantas di mengerti

bukan karena nestapa yang membayang

atas dosa samansialang

juga pengkhianatan prajurit kolongan

kepada pejuang bataha

cinta  sapelah hanya mimpi jika bukan

karena kepatuhan pada paduka.

apa arti semua jika ketaatan tak lagi berarti kepada titah

sementara hati ini terlalu senang untuk disakiti.

putar lagi haluan, biar cuma haluan tumbilung.

tetapkan hati, karena restu tak pernah berulang.







 

dari  arwah – arwah yang menangis



mengiang ditelingaku

tangis  dokter csesskho

karena kepala isterinya dipenggal

dan rumah sakit sending tergelinding,

sampai musnah.



terisak tangis,...

atas sumpah santiago yang terkubur

tanpa penghargaan.



ingin aku jadi sultan tidore agar diingat sejarah.

tapi aku cuma cucu santiago

bukan keluarga diponegoro.



aku ingin seperti j.e.tatengkeng

tapi aku tak mau dilupa sepertinya



aku mungkin hanya akan seperti raja winsulangi.















andai aku memang wawu



aku bukan wawu

aku perempuan biasa dengan bika dipunggungku.

setiap hari jualan sagu dipasar towo

dengan masker beras dipipi dan tangan

karena aku masih cantik,

memang aku cantik



tapi aku tak bisa duduk diemper toko

karena aku tak secantik pemilik toko

yang berkulit kuning,

bermata sipit,

berambut lurus,



aku dipanggil wawu diistana

seperti  wawu mawira diistana raja mokodompis.

mungkin aku harus tetap wawu

dari pada menjadi mawu



barangkali aku bukan wawu,

karena aku tidak berdarah biru.





 tanah  terakhir



aku pernah ada 50 tahun lalu

ketika itu jalan masih putih

belukar menutupi jalanku

rindang sejuk pedine, di seperempat kaki mantahi

ketika haus datang,  tinggal selangkah ake wanua.

memandang indah pantai bakalaeng

ada perahu sekecil sesawi

aku sampai tak  ingat  negriku kini di depan mata.

indah, penuh kenangan.

melihat istana mokodompis raja yang kehilangan kepala.

dua tiang menhir didepan rumah om noa

tetap berjaga digerbang.

meriam penjajah masih tersisa tanpa karat.

di tanah katiandagho masih terasa ada watu tiala

kulihat istanah lazaru yang hampir hancur.



melewati kararatuang

seperti dipapah penghulu di masa lalu.

tak terdengar lagi musik oli,

musik dalam pujian kepada sang khalik penguasa hujan.

diatas gereja padihe.

ku berikan tanda salib didepan wajahku

kemudian memanjat tebing diatasnya

disinilah singgasana leluhurku.

aku memandang indah dua tanjung dan laut ditengahnya

aku seperti melihat sebuah bininta

dengan enampuluh orang dan seorang panglima laut.

ternyata aku sedang berdiri diatas kubur diamanti

aku bertanya kepada seorang tua lahamendu

dimana tanah leluhurku

dan dijawab,..

tingal satu, ditempat aku berdiri.

aku menangis,…

berarti aku harus pulang kenegri orang

negri yang mengasihani aku selama ini,







kepada  mawu  masade





mawu,…

mungkinkah aku harus berkata,…

allahu akbar,… allahu akbar,……

aku hanya mengenalmu,

penguasa keluargaku.

aku dapat mengucapkannya.

“ismillah”,…..

aku mampu berpuasa

juga menikmati kebesaranmu pada diko’u solo.

lonceng selalu memanggilku di hari sambayang

datang menghadap kekuatanmu.

melalui doaku

doa yang selama ini selalu dihina

sembahyang  yang selama ini ditertawakan

kalau nanti kubesar

dimana kami harus berpijak

meski  terus disisihkan dari buku-buku catatan.

mawu…….

tunjukan kekuatanmu

seperti ucapanmu  diistana wulaeng, saat dosa menghancurkan semenanjung maselihe.











katakan



sebait  saja,

atau  sebentar saja

jangan memelas

nanti ku menangis

atau isyaratkan raut

ku pasti tahu



satu isyarat bahkan seribu isyarat

kumengerti,…

tak usah bicara

ku pasti tahu



mungkin rindu

mungkin juga benci

biarkan  berarti

supaya hati tak perlu memilih



terus,…

jangan berhenti,

sebelum sepi datang menindih



temui aku lagi disini

katakan,  seperti aku pernah mengatakannya

























syair  tuk  “ timade  ipe ”





sebegitu indah puisimu

sebesar tagore



begitu mengalirnya kata-katamu

seperti chairil anwar

seumpama hamka



tapi aku tak melihat

disisi mana engkau berdiri

sebab kata hati tak dapat di hancurkan

oleh ketulusan cinta sekalipun



kau bersabda seperti kristus

kau memuji seperti shakes

dengan tanganmu

dengan lidahmu



apakah telur tumpanganmu kedunia lain

atau tanduk tempatmu berdiri

andai hati nurani dapat dibayar

akan kucuri semua hati



pastikan kepada siapa engkau menyembah,

supaya tahu berapa banyak umatmu



sekalilah tinggal ditanahmu

tanah yang megalirkan darahmu

jangan menjadi tuan di tanah orang



rindukan,…..

rasakan,…..



betapa sedih leluhur dalam syairmu

yang tak mampu keluar dari sorga ini

sorga yang terhimpit neraka







cinta setengah hati



dari mata kau bicara

dari hati kau melihat

dengan rasa kau menggengam

satu tak kau ingat

luka ini masih membekas

mungkin waktu tlah berlalu

tapi rasa tak pernah berubah

meski laut sudah kuseberangi

tanda di kalbu adalah bukti

kesetiaan tak pernah berbatas

oleh tradisi ataupun posisi

sekali kepakan sayap tak seperti sekali mengayuh dayung.

lautan tak seluas rasa dihati atau di bathin

pulihkan lagi cinta yang pernah terkubur

bangkitkan lagi jiwa yang pernah tersiksa

agar benih-benih keindahan

akan tertabur di ladang ketulusan

pada setiap kemurnian ahlak

tahun tak meminjam abad

hari tak menjauhi malam

sungguh keabadian bukanlah arti

karena janji sering diingkari

saat tangis selalu bersama

suratan takdir jembatan akhir

tuk pastikan kebesaran cinta

jangan pungkiri kenyataan

selagi hati masih terjaga

abdikan semua ditiap hati

jangan sampai berlalu.







bukan karenamu





kulewati jalan yang penuh duri

kulewati jalan ini terus meski tak berujung

tak pernah berpaling

tak pernah menjeling

seiring dering mata yang mengerling

padaku dikejauhan.

meneteskan air mata

dan terdengar olehku isak tangismu

mengejarku, memanggilku

sampai jauh kau ulurkan tangan



dan melambaikan  bayang padamu

untukmu dikejauhan

aku terus menjauh meski berat kakiku melangkah

berakhir semua

semua ikatan

tentang cinta

tentang janji

tentang puri indah impianmu

pada pelukanku yang terakhir disisimu



jauh sudah aku pergi kealam lain

dunia yang tak mungkin kau gapai

dalam impian tak kau temukan

dalam hayalan tak kau dapatkan



seribu waktupun tak kau jumpa

tapi itu bukan karenamu,

pergi menjauh,

sampai aku hilang dihatimu.









mengapa tuhan



sudah kutulis banyak cerita tentang dunia

tapi tak kutemukan kisah tentang kusendiri

yang merana karena ulahku

padahal setiap kaki ada kasutnya

dan setiap keringat pernah kuhitung

sampai aku tak lagi mampu merasakan

betapa sulit jika hati tak pernah berperang

Poskan Komentar